Anak-anak korban bencana di RT 03 RW 12 Baringin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, mengikuti kegiatan trauma healing yang dirangkai dengan aksi penanaman ribuan bibit tanaman produktif, Minggu (15/2/2026).
Kegiatan bertajuk SUMATERA SURVIVE Trauma Healing #11 ini diinisiasi Dangau Studio berkolaborasi dengan TDA Padang, serta didukung sejumlah komunitas dan relawan. Program tersebut difokuskan pada pemulihan mental anak-anak terdampak sekaligus penguatan lingkungan pascabencana melalui partisipasi warga dan relawan.
Founder Dangau Studio, Budi Irwandi, menyampaikan bahwa trauma healing menjadi kebutuhan penting bagi anak-anak agar tekanan psikologis akibat bencana tidak berlarut. Menurutnya, kegiatan ini menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan melalui pendekatan kreatif dan menyenangkan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Dhuha berjamaah yang diikuti anak-anak dan relawan sebagai penguatan spiritual sebelum memasuki sesi utama. Setelah itu, peserta menjalani ice breaking untuk membangun suasana ceria dan mengurangi rasa canggung.
Pada sesi inti, anak-anak mengikuti Art Therapy Dangau, yakni kegiatan menggambar dan mencoret sebagai media menyalurkan emosi serta pengalaman selama bencana. Budi menjelaskan, metode art therapy dipilih karena lebih mudah diterima anak-anak dan membantu mereka bercerita tanpa merasa tertekan oleh pertanyaan langsung.
Selain pendampingan psikososial, kegiatan juga diisi dengan aksi tanam pohon melalui program Kebun Warga Bencana yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB hingga menjelang Magrib. Sebanyak 1.000 bibit serai, 1.000 bibit kunyit, dan 1.000 bibit ubi kayu, serta sejumlah tanaman produktif lainnya ditanam di sekitar lokasi terdampak.
Bibit tanaman tersebut didukung Rimbo Andalas Project sebagai bagian dari upaya penghijauan sekaligus penguatan ketahanan pangan warga di kawasan terdampak bencana. Penanaman ini juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dan masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan pascabencana melalui aksi bersama yang berkelanjutan.
Selama proses penanaman, interaksi antara relawan dan warga berlangsung aktif dan menciptakan suasana kolaboratif dalam membangun kembali lingkungan sekitar. Budi berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut untuk mendampingi masyarakat hingga pulih, baik dari sisi mental maupun lingkungan.

