BERITA TERKINI
UNDIP Ikuti Program Knowledge Co-Creation di Jepang untuk Perkuat Kolaborasi Industri–Akademisi

UNDIP Ikuti Program Knowledge Co-Creation di Jepang untuk Perkuat Kolaborasi Industri–Akademisi

Direktur Inovasi, Hilirisasi, dan Kerja Sama Universitas Diponegoro (UNDIP), drh. Dian Wahyu Harjanti, Ph.D., mengikuti Knowledge Co-Creation Program bertajuk “University Management in Industry, Academia Collaboration” di Jepang pada 19 Januari. Program ini diikuti 12 peserta dari perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan kolaborasi industri–akademisi–pemerintah.

Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan serta metode untuk mendorong kolaborasi strategis antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Pendekatan co-creation dilakukan melalui studi kasus di Jepang serta pertukaran pengetahuan, personel, dan organisasi dengan mitra industri di negara tersebut.

Selama program berlangsung, peserta berdiskusi dengan kementerian terkait guna memahami dukungan kebijakan Pemerintah Jepang terhadap kolaborasi akademia-industri. Peserta juga meninjau implementasi kolaborasi secara langsung di industri semikonduktor di Kyushu dan YASKAWA Electric Corporation.

Selain itu, peserta berdiskusi dengan sejumlah institusi pendidikan tinggi, antara lain Kumamoto University, Kyushu Institute of Technology, serta NanoTerasu, Tohoku University. Rangkaian kegiatan ini menampilkan praktik kolaborasi industri–akademisi, hilirisasi riset, pengembangan startup, serta dukungan pemerintah melalui pembangunan science technopark sebagai pusat inovasi terpadu di setiap prefektur.

Di akhir program, Dian memaparkan rencana tindak lanjut (action plan) di hadapan pimpinan JICA dan kementerian terkait, sekaligus menerima sertifikat penghargaan. “Univeritas Diponegoro berkomitmen untuk mendorong transformasi dari universitas berbasis riset menjadi universitas berdampak melalui inovasi, hilirisasi teknologi, dan kemitraan strategis dengan industri dan pemerintah,” ujarnya.

Di UNDIP, Direktorat Inovasi, Hilirisasi dan Kerja Sama mengemban tiga fungsi strategis, yakni Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Technology Transfer Office, serta pengelola kerja sama. Direktorat ini disebut berperan dalam memperkuat kolaborasi akademisi, industri, dan pemerintah untuk mendukung kemajuan pendidikan tinggi dan inovasi berbasis riset.