Dosen dan musisi Xuan Vu mengawali tahun 2026 dengan kabar menggembirakan. Dalam acara di panggung Teater Militer Selatan, Kota Ho Chi Minh, ia menerima Penghargaan Musik Vietnam 2025 dari Asosiasi Musisi Vietnam berkat karya berjudul “Awan Misterius Minh Hoa”. Karya tersebut disebut memikat dewan kesenian karena memadukan nuansa akademis dan folklor secara halus di tengah banyaknya komposisi yang digarap dengan serius.
Penghargaan itu menambah daftar capaian Xuan Vu di Asosiasi Musisi Vietnam menjadi total 10 penghargaan. Selain itu, ia juga mengantongi puluhan penghargaan lain dari tingkat pusat hingga daerah. Baginya, setiap penghargaan menjadi penanda perjalanan artistik yang mengakui bakat dan dedikasinya.
Ajang Vietnam Music Awards kali ini memiliki arti khusus bagi Xuan Vu. Ia dikenal sebagai seniman yang tidak membatasi diri pada satu ruang lingkup tertentu. Namun, karya-karya yang ia tulis tentang Quang Tri disebut memiliki kekhasan tersendiri—lebih dalam dan terasa lebih tulus. Setelah penyatuan kembali dua provinsi Quang Tri dan Quang Binh (dahulu), ruang yang ia sebut dipenuhi cinta itu terasa meluas dan membawanya pada inspirasi puitis dari Duong Minh Phong. “Saya menulis lagu ini dengan emosi yang paling tulus. Ini adalah ungkapan yang menyentuh hati khususnya untuk Minh Hoa, dan hutan luas Quang Tri pada umumnya,” kata Vu.
Xuan Vu lahir dari keluarga dengan tradisi sastra, tetapi sejak awal tertarik pada bunyi-bunyian kehidupan yang ia anggap murni. Ayahnya, mendiang penulis Xuan Duc, mendorongnya mendaftar ke Akademi Seni Militer pada jenjang menengah. Di usia 13 tahun, ia mulai belajar biola dan segera merasakan tantangannya. Ia mengenang enam bulan pertama diisi dengan latihan dasar pada senar, sementara suara yang diharapkan belum kunjung tercapai meski sudah mengerahkan waktu dan tenaga. Dari pengalaman itu, ia menyimpulkan bahwa gairah saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan.
Dengan sikap tersebut, ia menekuni biola selama tujuh tahun. Pada 1993, ia mengikuti ujian masuk dan diterima di Departemen Komposisi Universitas Seni Hue (kini Akademi Musik Hue). Setelah sempat bekerja di Grup Seni Quang Tri, ia melanjutkan studi magister untuk menyempurnakan keterampilan komposisinya. Pada masa itu pula ia dihadapkan pada pilihan dan memutuskan mengubah arah menjadi seorang pengajar.
Kini, Xuan Vu menjabat sebagai Wakil Kepala Departemen Pelatihan dan Ujian di Sekolah Tinggi Keguruan Quang Tri. Ia menilai dunia pengajaran ikut membentuk dirinya, membuat sifat impulsif masa muda kian mereda dan digantikan ketenangan serta kebijaksanaan. Namun, menurutnya, sikap teladan seorang guru tidak mengurangi sifat artistik. Justru, hal itu membantunya belajar “hidup lebih tenang” dan memandang berbagai hal dengan emosi, kemanusiaan, serta kedalaman.
Ho Thanh Thoan, mantan Wakil Ketua Tetap Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi, menilai Xuan Vu sebagai seniman berbakat yang terlatih baik dan telah banyak berkontribusi pada musik. Ia juga menyebut adanya perpaduan antara keanggunan dan kesenian dengan sikap bermartabat seorang dosen. Menurut Thoan, mendengarkan karya-karya Xuan Vu membuatnya dan banyak orang lain semakin mencintai tanah dan masyarakat Quang Tri.
Di tengah anggapan bahwa belajar terlalu lama dapat mengikis ego seniman, Xuan Vu menyatakan dirinya tetap produktif, baik saat menempuh pendidikan, bekerja dengan kelompok seni, maupun ketika mengajar. Di kalangan profesional, ia dikenal mampu menggubah dengan cepat. “Bagi saya, musik adalah emosi, dan emosi tidak dapat dipaksakan atau dibentuk terlalu lama. Saya menulis sebuah karya musik hanya dalam 4 jam paling lambat. Jika sebuah karya membutuhkan revisi dari hari ke hari, itu dianggap rusak,” ujarnya.
Ia menggambarkan karya-karyanya sebagai harmoni suara yang alami dan penuh warna, kerap lahir dari momen-momen sederhana dalam keseharian. Ia mencontohkan kebiasaan pulang larut malam dan memilih pergi diam-diam ke danau—agar tidak membangunkan istri dan anak—untuk menikmati angin sejuk sambil memancing. Dalam suasana tenang itu, melodi muncul seolah sudah ada dan hanya menunggu waktu untuk hadir. Dari pengalaman semacam itu, ia menghasilkan sejumlah karya yang dikenal dalam musik tradisional dan klasik, di antaranya “Keringat Batu”, “Lagu Persatuan”, “Kubah Langit ASEAN”, dan “Harapan Abad Ini”.
Pada usia 55 tahun, setelah melalui berbagai suka duka, Xuan Vu mengatakan dirinya beruntung dapat menjalani hasrat bermusik sepenuhnya. Selain terus menggubah, ia juga menjalankan peran sebagai mentor yang menginspirasi, membimbing generasi siswa menjadi seniman dan guru musik, sekaligus meneruskan tradisi artistik dari hari ke hari.

