TANJUNG REDEB — Sebanyak 21 agenda kegiatan resmi masuk dalam Calendar of Event Kabupaten Berau tahun 2026. Rangkaian kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai Februari hingga Desember 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat promosi pariwisata daerah melalui kegiatan budaya, festival, dan agenda pariwisata lainnya.
Kepala Bidang Pemasaran dan Kerja Sama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Fitriansyah, mengatakan penyusunan kalender event menjadi strategi pemerintah daerah untuk menjaga konsistensi promosi pariwisata. Menurutnya, seluruh agenda yang masuk dalam kalender telah melalui koordinasi dengan para penyelenggara, baik dari internal Disbudpar maupun komunitas dan penyelenggara kegiatan budaya di daerah.
Fitriansyah menekankan kepastian jadwal menjadi aspek penting karena agenda yang telah ditetapkan juga dilaporkan kepada pemerintah provinsi hingga kementerian. Karena itu, konsistensi pelaksanaan kegiatan menjadi perhatian utama agar tidak terjadi perubahan jadwal yang dapat memengaruhi kepercayaan wisatawan.
Ia menyebut Disbudpar Berau memiliki kewajiban menyampaikan daftar agenda kegiatan pariwisata kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Melalui kalender tersebut, pihak luar juga dapat menilai sejauh mana konsistensi pelaksanaan event pariwisata di Kabupaten Berau sepanjang tahun.
Menurut Fitriansyah, kepastian jadwal turut dibutuhkan wisatawan yang ingin menyesuaikan waktu kunjungan dengan event tertentu di Berau. Karena itu, pihaknya menginginkan seluruh agenda yang telah dijadwalkan dapat terlaksana sesuai rencana tanpa perubahan.
Dari seluruh agenda yang disusun, September menjadi bulan dengan jumlah kegiatan terbanyak. Tercatat ada delapan event yang dijadwalkan berlangsung pada bulan tersebut, yang sebagian besar berkaitan dengan peringatan hari jadi ke-73 Kabupaten Berau.
Sejumlah agenda yang masuk dalam rangkaian tersebut antara lain Berau Ethno Cultural Carnival, Lomba Ancur Paddas, Lomba Puncak Rasul, Festival Jajanan Tradisional, Mamallas Banua, Baturunan Parau, Lomba Perahu Panjang, serta 7 Banua Fest. Kegiatan-kegiatan itu direncanakan digelar di beberapa wilayah, seperti Tanjung Redeb, Sambaliung, Gunung Tabur hingga kawasan Sungai Segah.
Sementara itu, rangkaian kegiatan dalam kalender event pariwisata Berau dimulai sejak Februari dan berlangsung hingga Desember. Namun, terdapat dua bulan tanpa agenda kegiatan, yakni Maret dan April.
Fitriansyah juga memastikan kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah tidak berdampak pada penyelenggaraan event pariwisata di Kabupaten Berau. Sejumlah kegiatan yang sebelumnya telah dilaksanakan disebut tetap dipertahankan dalam kalender event.
Di sisi lain, ia mengakui masih banyak kampung di Berau yang ingin menyelenggarakan event pariwisata. Meski demikian, Disbudpar tetap melakukan kurasi terhadap kegiatan yang dapat dimasukkan dalam Calendar of Event Berau 2026 agar pelaksanaannya lebih terukur.
Ia menambahkan, salah satu tantangan yang kerap dihadapi adalah ketidakkonsistenan jadwal kegiatan dari beberapa kampung. Perubahan jadwal biasanya terjadi karena proses pengumpulan dana maupun penyesuaian waktu dengan kehadiran pejabat yang diundang.
Fitriansyah berharap seluruh agenda yang telah disusun dapat berjalan lancar dan tepat waktu, sehingga berdampak positif bagi promosi pariwisata serta mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Berau sepanjang tahun 2026.

