Sebanyak 25 peserta mengikuti lokakarya komposisi musik yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat dengan tema “Menghidupkan Narasi melalui Akar Tradisi”. Kegiatan ini dibuka di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat, Padang, Selasa.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Fadhli Junaidi mengatakan lokakarya tersebut tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, melainkan menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan masa depan. Menurutnya, akar budaya dipertemukan dengan teknologi, sehingga bunyi-bunyi tradisi dapat dipadukan dengan perkembangan audio visual modern untuk melahirkan karya baru tanpa kehilangan jati diri.
Fadhli menjelaskan, tema lokakarya mengandung makna bahwa setiap bunyi tradisi memiliki cerita, nilai, dan identitas yang dapat menghidupkan suasana serta membangun emosi dalam karya pertunjukan maupun film. Ia menilai kebutuhan terhadap komposer yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami rasa, suasana, dan akar budaya semakin meningkat seiring pesatnya perkembangan industri kreatif, mulai dari film, tari, teater, konten digital, hingga media pertunjukan modern.
Dalam pandangannya, musik kini tidak lagi sekadar pelengkap visual, melainkan menjadi elemen yang menggerakkan emosi penonton. Ia menyebut sebuah adegan dapat terasa kuat karena musik, sebuah cerita bisa hidup karena bunyi, dan identitas karya dapat terbentuk dari warna musikal yang digunakan.
Karena itu, lokakarya ini disebut sebagai langkah strategis untuk membangun generasi komposer baru yang mampu membaca perkembangan zaman sekaligus tetap berpijak pada akar tradisi. Peserta akan dibimbing melalui pendekatan practice-based learning, project-oriented composition, dan hybrid scoring system, mulai dari eksplorasi bunyi tradisional, perekaman instrumen, penyusunan motif musikal, hingga produksi digital dan penyajian karya.
Fadhli berharap peserta tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan karya yang berkarakter budaya Minangkabau. Ia juga menekankan tradisi tidak semestinya menjadi objek nostalgia, melainkan sumber inovasi. Instrumen tradisional seperti talempong, saluang, rabab, gandang, serta instrumen tradisi lainnya diharapkan dapat hadir dalam wajah baru tanpa kehilangan marwah dan ruh kebudayaannya.