BERITA TERKINI
Dekarnas Dorong Sekolah Musik di Tangerang Gandeng UMKM dan Pengrajin Lokal

Dekarnas Dorong Sekolah Musik di Tangerang Gandeng UMKM dan Pengrajin Lokal

Ketua Bidang Kemitraan Dewan Kerajinan Nasional (Dekarnas) Tina Maman Abdurrahman menilai musik memiliki peran penting, mulai dari pembentukan karakter anak hingga potensi menggerakkan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal itu disampaikannya saat grand launching Dialogue Music, sekolah sekaligus toko alat musik berstandar internasional di Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Senin (1/6/2026).

Tina mengatakan musik tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media untuk menjaga kesehatan mental dan membantu mereduksi tekanan aktivitas sehari-hari. “Dengan bermusik, kita bisa mengekspresikan diri, merilekskan pikiran, dan mengurangi stres yang ada di dalam diri,” ujarnya usai peresmian.

Ia juga menceritakan penerapan kebiasaan bermusik di lingkungan keluarganya. Karena hampir seluruh anggota keluarganya mampu memainkan alat musik, Tina mewajibkan anak-anaknya menguasai minimal satu instrumen sebagai bekal soft skill di masa depan. “Keluarga saya hampir semua bisa bermain musik. Karena itu saya mengajarkan kepada anak saya, paling tidak wajib bisa memainkan salah satu alat musik,” tuturnya.

Komitmen tersebut, menurut Tina, turut diwujudkan dengan mempercayakan pendidikan musik putrinya kepada Dialogue Music School sejak berusia delapan tahun melalui kelas privat. Ia menilai sekolah tersebut memiliki kurikulum yang matang dan berstandar internasional.

Di luar aspek seni dan pendidikan, Tina melihat peluang hilirisasi industri kreatif melalui keberadaan sekolah musik. Ia menilai Dialogue Music tidak hanya berpotensi mencetak musisi dan seniman baru, tetapi juga dapat membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat dan UMKM melalui pembangunan ekosistem yang melibatkan pemilik sekolah musik, musisi, pelaku usaha, dan UMKM.

Salah satu peluang yang disebutnya adalah keterlibatan UMKM dalam rantai pasok bahan baku dan aksesori pendukung instrumen. Ia mencontohkan pemanfaatan kayu berkualitas dari pengrajin daerah untuk pembuatan gitar atau komponen instrumen lainnya.

Tina mengakui sejumlah instrumen besar, seperti piano, masih didominasi produk impor dari negara seperti Jepang atau Jerman. Namun, ia menegaskan kondisi itu tidak menutup peluang industri lokal untuk mengambil peran dalam penyediaan komponen atau material pendukung. “Memang ada alat musik yang sebagian besar masih berasal dari luar negeri. Namun bukan berarti seluruh komponennya harus dari luar. Kita bisa menggandeng pengrajin Indonesia, untuk memproduksi berbagai bagian atau material pendukungnya,” katanya.

Ia menambahkan Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia terampil di bidang kriya yang potensinya dapat terus dikembangkan untuk mendukung industri musik dan ekonomi kreatif nasional.

Sementara itu, Owner sekaligus Kepala Sekolah Dialogue Music, Mouritz Kansil, menjelaskan bahwa sekolah musik yang dipimpinnya mengadopsi kurikulum ABRSM (Associated Board of the Royal Schools of Music) dari Inggris untuk instrumen seperti piano, gitar klasik, alat tiup, dan orkestra. Adapun untuk instrumen kontemporer seperti gitar elektrik, bass, dan drum, digunakan kurikulum Rockschool. Selain itu, tersedia program hobi dengan sertifikasi internal.

Selain layanan pendidikan, Dialogue Music juga menjual berbagai alat musik bermerek dari kelas pemula hingga premium. Mouritz menyebut sejumlah alat musik bermerek luar negeri yang dijual sebenarnya diproduksi di Indonesia. Ia juga menyatakan pihaknya membuka peluang kerja sama dengan produsen alat musik lokal ke depan.

Menurut Mouritz, langkah tersebut sejalan dengan upaya mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat yang diusung Kementerian UMKM. “Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, kami ingin menjadi wadah bagi para musisi, termasuk para produsen alat musik dalam negeri,” ujarnya.