BERITA TERKINI
Aisyiyah Dorong Revitalisasi dan Reinterpretasi Seni Budaya Berbasis Islam Berkemajuan

Aisyiyah Dorong Revitalisasi dan Reinterpretasi Seni Budaya Berbasis Islam Berkemajuan

YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini menegaskan dakwah ‘Aisyiyah tidak boleh berhenti meski situasi dinilai tidak mudah. Menurutnya, setiap tantangan harus menjadi pemicu ikhtiar warga ‘Aisyiyah untuk mengembangkan dakwah secara menyeluruh, termasuk di bidang seni, budaya, dan olahraga.

Pernyataan itu disampaikan Noordjannah dalam kegiatan Inspirasi ‘Aisyiyah bertema “Dakwah Seni dan Budaya Aisyiyah” yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada 17 Januari. Ia mengapresiasi sinergi antara majelis dan lembaga dalam menjalankan mandat organisasi melalui pengelolaan yang kolaboratif.

Noordjannah menilai proses membangun budaya dan seni di lingkungan ‘Aisyiyah merupakan aksi kreasi yang membutuhkan kerja lintas sektor, sekaligus dukungan kecanggihan teknologi. Ia berharap perkembangan teknologi dapat membantu memperluas jangkauan dakwah, terutama melalui distribusi informasi yang semakin cepat.

Namun, ia mengingatkan bahwa dalam arus kemajuan teknologi, hal-hal yang menjadi tren tidak jarang justru bersifat negatif. Kondisi ini dipandang sebagai tantangan bagi dakwah ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah, terutama dalam upaya mewarnai arus informasi di masyarakat luas.

Ketua Badan Pembina Harian Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta itu juga menekankan pentingnya menyampaikan pesan yang baik dan mencerahkan. Ia mengaitkan prinsip “sedikit bicara banyak bekerja” bukan sebagai ajakan untuk diam, melainkan untuk mengisi ruang publik dengan pengalaman dan pesan yang mendorong kemajuan serta pencerahan.

Dalam pengembangan seni dan budaya, Noordjannah menilai penguatan nilai menjadi hal yang krusial. Ia menyebut penyiaran nilai memiliki konsekuensi yang tidak mudah di masyarakat dengan kultur kebudayaan yang kental, sehingga diperlukan kehati-hatian. Karena itu, reinterpretasi dengan dasar nilai Islam berkemajuan dinilai dapat menjadi alternatif dalam dakwah ‘Aisyiyah.

Ia menyarankan agar Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) mendalami upaya menghadapi berbagai budaya yang dinilai masih jauh dari nilai dan ajaran Islam. Noordjannah kemudian menyampaikan sejumlah poin yang menurutnya penting dalam penguatan seni dan budaya.

Pertama, Muhammadiyah tidak anti terhadap seni. Kedua, menghidupkan nilai seni dan budaya yang tidak bertentangan dengan nilai Islam berkemajuan. Ketiga, menjadikan seni dan budaya sebagai sarana dakwah yang mencerahkan kehidupan. Keempat, bersikap inklusif namun tetap berpegang pada nilai Islam yang memajukan.

Di akhir penyampaiannya, Noordjannah mengusulkan agar penguatan terkait revitalisasi pemahaman budaya dan reinterpretasi dilakukan di banyak tempat. Ia menegaskan pentingnya sikap wasathiyah sebagai pegangan dalam berbagai hal.