Musik bagi banyak orang bukan sekadar hiburan, melainkan teman yang menemani berbagai aktivitas harian. Saat memasak, membersihkan rumah, hingga bekerja, alunan lagu kerap menjadi pengisi suasana, jeda untuk mengistirahatkan pikiran, atau penyemangat agar tetap fokus.
Dalam kebiasaan itu, Spotify menjadi salah satu platform yang banyak dipilih. Layanan streaming ini menawarkan beragam genre dan playlist yang bisa disesuaikan dengan suasana hati—mulai dari lagu santai, sedih, hingga penuh energi—sehingga tak sedikit pengguna menjadikannya bagian dari rutinitas.
Namun, belakangan muncul ajakan untuk menghapus atau meng-uninstall Spotify. Sejumlah pengguna disebut benar-benar mengambil langkah tersebut dan beralih ke platform lain. Ajakan ini dikaitkan dengan berbagai pertimbangan, termasuk persoalan etika yang mulai disorot, serta isu lama mengenai royalti dan transparansi bagi musisi.
Sejak platform streaming seperti Spotify hadir, beberapa musisi mengaku mengalami penurunan kompensasi finansial yang cukup signifikan. Sistem pembagian royalti dinilai kurang berpihak, terutama bagi musisi independen yang tidak berada di bawah label besar. Dalam sejumlah pandangan, situasi tersebut bahkan dianggap eksploitatif. Di sisi pengguna, layanan gratis dengan iklan yang kerap muncul juga menjadi keluhan, meski hal itu dipahami sebagai konsekuensi dari model layanan yang digunakan.
Meski alasan-alasan tersebut dinilai cukup kuat untuk mempertimbangkan ulang penggunaan Spotify, sebagian pengguna mengaku belum mudah melepaskan diri. Keterikatan itu tidak selalu bersifat rasional, melainkan terbentuk dari pengalaman personal yang panjang—mulai dari kebiasaan mendengarkan musik lofi saat belajar, menemani hari-hari berat, hingga menjadi pelarian ketika suasana hati sedang tidak baik.
Fitur Spotify Wrapped juga disebut menjadi salah satu alasan yang membuat pengguna bertahan. Wrapped menampilkan rangkuman kebiasaan mendengarkan musik sepanjang tahun, seperti lagu dan artis yang paling sering diputar, serta perubahan selera musik dari waktu ke waktu. Meski platform lain seperti YouTube mulai menghadirkan fitur serupa, sebagian pengguna merasa pengalaman yang ditawarkan Spotify tetap berbeda.
Di tengah tarik-menarik antara kenyamanan dan pertimbangan etika, ada pula pandangan bahwa langkah paling realistis bukan langsung menghapus aplikasi. Alternatif yang dipilih adalah mengurangi intensitas penggunaan secara bertahap, misalnya dari dua jam mendengarkan musik sehari menjadi satu jam. Langkah kecil dinilai tetap bermakna, terutama bagi mereka yang belum siap berhenti sepenuhnya.
Pada akhirnya, keputusan untuk tetap menggunakan Spotify atau tidak dinilai tidak sederhana. Ada kenyamanan yang sulit dilepaskan, tetapi juga persoalan yang patut dipertimbangkan, terutama ketika pengguna menyadari bahwa di balik musik yang dinikmati terdapat proses panjang dan kerja keras musisi.
Sejumlah bentuk dukungan lain kepada musisi juga disoroti, seperti membeli lagu atau album secara langsung, serta mengikuti dan mendukung karya mereka melalui media sosial. Dengan cara itu, pendengar tidak hanya menjadi penikmat musik, tetapi juga bagian dari ekosistem yang ikut mendukung para musisi.

