Jakarta — Nuansa musik pop rock yang identik dengan distorsi gitar disebut kian meredup seiring munculnya musisi-musisi baru yang membawa warna berbeda. Di tengah perubahan itu, kecenderungan pendatang baru untuk tampil solo juga dinilai turut memengaruhi berkurangnya masa kejayaan band atau grup musik.
Wildan Arsalan bersama rekan sesama musisi, Rahmat Hidayat, memilih bergerak ke arah sebaliknya. Keduanya menghadirkan kembali atmosfer pop rock yang mengingatkan pada era awal 2000-an melalui dua karya terbaru berjudul Jangan Patahkan Lagi dan Palung Jiwa.
Dua lagu tersebut digarap sebagai ruang bagi pendengar yang lelah menyembunyikan perasaan, sedang belajar menerima kehilangan, atau diam-diam berupaya pulih. “Saya tidak membuat lagu untuk hanya didengar, tapi untuk menemani orang di fase paling sepi dalam hidupnya,” ujar Rahmat Hidayat dalam keterangan pers, Kamis (2/4/2026).
Jangan Patahkan Lagi disebut lahir dari pengalaman emosional yang kerap terasa dekat namun sering dipendam, mulai dari kepercayaan yang runtuh, harapan yang kembali dikecewakan, hingga ketakutan untuk membuka hati lagi. Dengan aransemen yang digambarkan sederhana namun menghantam, lagu ini tidak menawarkan solusi instan, melainkan menjadi pengakuan bahwa tidak semua luka bisa segera sembuh dan tidak semua orang siap untuk kembali.
Sementara itu, Palung Jiwa bergerak ke lapisan yang lebih dalam dengan menyelami ruang batin yang jarang tersentuh, bahkan oleh orang terdekat. Di ruang tersebut, kata-kata dianggap tak lagi memadai dan yang tersisa hanyalah gema perasaan yang berulang. “Tidak semua orang bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan. Kadang, mereka hanya butuh sesuatu yang mengerti tanpa harus dijelaskan,” kata Wildan.
Di tengah era teknologi yang menghadirkan kecepatan dan konektivitas tanpa batas, Wildan dan Rahmat menyoroti paradoks yang muncul: semakin terhubung seseorang dengan dunia digital, semakin banyak pula yang merasa sendiri. Dengan rencana distribusi digital, keduanya berharap karya-karya itu dapat menjangkau pendengar secara luas sekaligus menjadi medium refleksi personal yang menemani momen kesendirian.

