Desa Bontomanai, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, menjadi lokasi pelaksanaan Aksi Sobat Bumi Jilid 2 pada Sabtu, 20 Desember 2025. Kegiatan yang diinisiasi Pertamina Foundation bersama penerima Beasiswa Sobat Bumi Universitas Hasanuddin (Unhas) ini mengusung tema “Indonesia Pulih, Indonesia Lestari” dan menitikberatkan pada pemulihan lingkungan serta penguatan kesiapsiagaan bencana di wilayah pesisir.
Aksi Sobat Bumi Jilid 2 diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Pertamina ke-68. Desa Bontomanai dipilih karena memiliki potensi ekosistem mangrove yang besar, sekaligus menghadapi kerentanan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam, seperti abrasi, banjir, dan cuaca ekstrem.
Rangkaian kegiatan dirancang dalam dua agenda utama, yakni sosialisasi pentingnya penanaman mangrove di kawasan pesisir serta sosialisasi mitigasi dan penanganan awal bencana alam. Kedua agenda dikemas secara edukatif dan partisipatif agar warga tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik lapangan.
Pada agenda pertama, peserta mendapatkan pemaparan mengenai peran mangrove sebagai benteng alami pesisir. Materi disampaikan oleh Muhammad Khaykal dari mitra organisasi IFSA Fakultas Kehutanan Unhas. Ia menjelaskan fungsi mangrove dalam mencegah abrasi, meredam gelombang, menjadi habitat biota laut, serta menyerap karbon. “Mangrove bukan hanya berfungsi menahan abrasi, tetapi juga menjadi pelindung alami dari gelombang besar, tempat hidup biota laut, dan penyerap karbon yang sangat efektif. Menanam mangrove berarti menanam masa depan bagi pesisir,” ujarnya.
Sosialisasi tersebut disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan disertai contoh yang dekat dengan kehidupan warga pesisir. Diskusi berlangsung interaktif, dengan warga turut membagikan pengalaman menghadapi abrasi dan perubahan kondisi pesisir dalam beberapa tahun terakhir. Agenda ini juga dikaitkan dengan SDGs poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDGs poin 14 (Ekosistem Lautan).
Agenda kedua berfokus pada mitigasi dan pencegahan bencana alam. Materi dibawakan oleh Rifqie Taesir dan Muh. Alif Rayhan Zulkarnain, penerima Beasiswa Sobat Bumi Angkatan 12 dari Fakultas Kedokteran Unhas. Mereka memaparkan jenis-jenis bencana yang berpotensi terjadi di wilayah pesisir, langkah mitigasi sebelum bencana, serta pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. “Mitigasi bencana tidak selalu dimulai saat bencana terjadi. Justru yang paling penting adalah kesiapan sebelum bencana, mulai dari mengenali risiko, mengetahui jalur evakuasi, hingga memahami pertolongan pertama dasar,” kata Rifqie Taesir.
Selain pemaparan teori, sesi ini dilengkapi simulasi penyelamatan korban bencana yang dibawakan oleh Christopher Abelard Sarira Madethen, juga penerima Beasiswa Sobat Bumi Angkatan 12 dari Fakultas Kedokteran Unhas. Melalui simulasi pertolongan pertama dan evakuasi korban, peserta diajak memahami langkah-langkah dasar yang dapat dilakukan masyarakat awam sebelum bantuan medis profesional tiba. Agenda ini dikaitkan dengan SDGs poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDGs poin 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan).
Setelah rangkaian sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman mangrove bersama di kawasan pesisir Desa Bontomanai. Mahasiswa Sobat Bumi, masyarakat desa, dan anak-anak setempat bergotong royong menanam bibit mangrove sebagai bentuk implementasi materi sekaligus simbol komitmen bersama menjaga lingkungan.
Panitia juga mengadakan lomba mewarnai untuk pelajar Sekolah Dasar sebagai upaya menanamkan nilai kepedulian lingkungan sejak dini. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi yang menyenangkan dan dikaitkan dengan SDGs poin 4 (Pendidikan Berkualitas).
Secara keseluruhan, Aksi Sobat Bumi Jilid 2 di Desa Bontomanai diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan warga tentang mangrove dan mitigasi bencana, memperkuat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, serta mendorong aksi nyata pelestarian lingkungan di wilayah pesisir.