BERITA TERKINI
Alvin Hardianto Menapaki Karier Musik dari Balik Layar di Tangsel

Alvin Hardianto Menapaki Karier Musik dari Balik Layar di Tangsel

Nama Alvin Hardianto kian dikenal di lingkaran musik independen Tangerang Selatan. Musisi sekaligus arranger kelahiran 1993 ini memilih menapaki karier dari balik layar, mengerjakan aransemen, produksi, hingga penulisan lagu untuk berbagai penyanyi dan kreator tanpa harus tampil di panggung.

Alvin mengatakan, bekerja di belakang layar membuatnya merasa lebih leluasa dalam berkarya. Ia menceritakan perjalanannya tersebut saat berbagi kisah di Pro2 RRI Banten.

Ketertarikan Alvin pada musik tumbuh sejak kecil dari lingkungan keluarga. Kakeknya, Soekemi, dikenal sebagai seniman keroncong sekaligus pemain biola yang pernah satu grup dengan almarhum Idris Sardi. Kebiasaan menemani sang kakek berlatih membuat Alvin memandang musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang ekspresi yang dekat dengan keseharian.

Memasuki masa remaja, Alvin sempat menekuni gitar elektrik dan bergelut dengan musik rock. Namun ia merasa jalur itu belum sepenuhnya membuatnya berkembang. Ia kemudian beralih ke gitar akustik, khususnya solo fingerstyle, dan mulai mendalaminya secara serius sekitar 2013.

Seiring waktu, Alvin merasakan kecocokan yang lebih kuat ketika mulai mempelajari keyboard dan piano. Menurutnya, instrumen tersebut lebih mampu menyalurkan perasaan yang ingin ia sampaikan.

Titik balik terjadi sekitar 2017 saat ia mulai terjun ke dunia home recording. Dari proses itu, Alvin mempelajari penggunaan digital audio workstation (DAW) dan memahami produksi musik secara menyeluruh. Kebutuhan membuat aransemen mendorongnya semakin mendalami keyboard dan piano, yang kemudian mengubah arah kariernya secara signifikan.

Kini, Alvin lebih banyak dikenal sebagai arranger. Dalam mengerjakan aransemen, ia menekankan pentingnya melodi, lirik, dan rasa keseluruhan lagu. Ia memilih pendekatan yang sederhana namun tetap emosional, sebuah prinsip yang ia terapkan dalam setiap karya.

Perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Alvin mengakui pernah melewati fase berat, termasuk saat pilihannya di bidang musik belum sepenuhnya mendapat dukungan keluarga. Meski begitu, dorongan dari dalam dirinya membuat ia terus kembali pada musik.

Bagi Alvin, musik tidak semata-mata soal karya yang terdengar bagus, melainkan kejujuran rasa yang bisa sampai kepada pendengar. Ia mengaku merasa cukup bahagia ketika orang lain dapat merasakan apa yang ia sampaikan melalui musiknya.

Ke depan, Alvin menyiapkan sejumlah proyek kolaborasi dengan penyanyi dan mulai mengeksplorasi warna musik elektronik. Ia berharap dalam satu hingga dua tahun mendatang, publik dapat mengenalnya sebagai musisi yang bekerja dengan rasa, bukan sekadar membuat musik terdengar baik, tetapi menghadirkan karya yang membuat pendengar merasakan sesuatu.