Produksi perkebunan kelapa sawit di Sumatera Barat menunjukkan tren meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini didorong mulai berproduksinya kebun hasil program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang sebelumnya digencarkan pemerintah bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO).
Ketua Dewan Pengurus Daerah APKASINDO Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Bagus Budi Antoro, menyatakan program PSR yang didukung dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kini mulai memberikan hasil nyata bagi petani. Ia menyebut kebun PSR tahap 1 dan 2 sudah mulai menghasilkan pendapatan bagi pemiliknya.
Menurut Bagus, mulai berproduksinya kebun PSR berdampak langsung pada peningkatan produktivitas sawit di Sumatera Barat. Ia memperkirakan produksi sawit di provinsi tersebut ke depan berpeluang menembus 2,3 juta ton per tahun. Bagus juga merujuk data luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera Barat yang mencapai 854.419 hektare pada 2022, seraya menilai luasan dan hasil kebun saat ini bisa jadi meningkat.
Meski demikian, Bagus menilai kebun PSR yang mulai menghasilkan masih memerlukan dukungan lanjutan, terutama sarana dan prasarana. Ia menjelaskan kebun PSR tahap pertama dan kedua dibangun dengan dana hibah Rp30 juta per hektare, sehingga petani masih perlu menambah biaya sendiri hingga tanaman masuk fase Tanaman Menghasilkan (TM) tahun pertama.
Salah satu kebutuhan yang dinilai mendesak adalah pupuk. Bagus menyebut biaya pupuk dapat menyerap sekitar 30 persen dari total biaya perawatan kebun. Menurutnya, jika kebutuhan pupuk dapat terpenuhi, peluang peningkatan produksi kembali terbuka.
Bagus berharap BPDP dan pemerintah mempermudah pengurusan serta pengajuan bantuan sarana dan prasarana bagi petani, khususnya untuk pupuk. Ia menilai tanpa dukungan tersebut, peningkatan produksi sawit rakyat berpotensi berjalan lebih lambat.

