MADRID, SPANYOL — Pelatih Real Madrid Álvaro Arbeloa menilai keberhasilan di Santiago Bernabéu tidak hanya ditentukan oleh taktik, tetapi juga kemampuan mengelola ego para pemain bintang. Pendekatan itu menjadi sorotannya menjelang laga Liga Champions saat Los Blancos menjamu AS Monaco pada Rabu (21/1) dini hari WIB.
Madrid menargetkan kemenangan untuk mengokohkan posisi di delapan besar fase liga, sekaligus berupaya keluar dari periode yang disebut penuh gejolak di internal klub. Situasi tersebut muncul setelah rangkaian hasil yang memukul tim, termasuk kekalahan dari Barcelona di Piala Super Spanyol yang menjadi laga terakhir Xabi Alonso sebagai pelatih, serta debut Arbeloa yang dinilai memalukan di Copa del Rey.
Kekecewaan suporter memuncak pada Sabtu lalu. Meski Madrid menang 2-0 atas Levante di La Liga, sorakan keras terdengar dari tribun Bernabéu dan bahkan diarahkan kepada pemain sendiri. Arbeloa, bersama dua bintang utama Vinícius Júnior dan Jude Bellingham, disebut menjadi sasaran utama ketidakpuasan publik.
Kejatuhan Alonso sebelumnya juga dikaitkan dengan dinamika ruang ganti. Meski sempat mengalahkan Barcelona di El Clásico pada Oktober, keputusannya menarik Vinícius memicu reaksi marah penyerang Brasil itu. Alonso juga membuat Federico Valverde tidak nyaman dengan memainkannya di luar posisi natural, serta melakukan rotasi terhadap Bellingham. Tekanan internal pun meningkat hingga Alonso akhirnya tersingkir.
Alonso sempat mengembalikan Vinícius dan Bellingham ke status “tak tersentuh”, namun hasil di lapangan tidak membaik dan ia tetap harus meninggalkan kursi pelatih.
Dalam situasi tersebut, Arbeloa memilih pendekatan berbeda. Ia disebut meniru gaya Carlo Ancelotti dan Zinedine Zidane, dua pelatih yang sukses di Madrid, dengan memberi kepercayaan dan perlakuan istimewa kepada pemain-pemain bintang.
Vinícius, yang tampil mengecewakan saat Madrid tersingkir dari Copa del Rey melawan klub divisi dua Albacete, justru mendapat pujian terbuka dari Arbeloa. “Ia ingin memikul tim di pundaknya, menyerang dan tidak pernah bersembunyi. Itulah Vini yang ingin saya lihat,” kata Arbeloa.
Setelah Vinícius kembali disiuli saat melawan Levante, Arbeloa menegaskan strategi tim harus berpusat pada sang winger. “Saya akan meminta rekan setimnya untuk lebih sering mencarinya, memberinya bola sebanyak mungkin. Saya bangga menjadi pelatihnya,” ujarnya.
Bellingham juga mendapat pembelaan, meski tampil buruk di final Piala Super Spanyol melawan Barcelona dan baru mencetak satu gol dalam 11 laga terakhir. “Dari dekat, dia bahkan lebih baik daripada di televisi, pengalamannya, kedewasaannya, kepemimpinannya,” kata Arbeloa. Ia menyebut Bellingham sebagai salah satu pemimpin tim, sejajar dengan Kylian, Vinícius, dan Valverde.
“Mereka adalah pemain yang dipanggil untuk melakukan hal-hal besar di Real Madrid. Saat keadaan tidak berjalan baik, kami harus terus mencari mereka, membuat mereka bahagia,” tutur Arbeloa.
Selain mengelola ruang ganti, Arbeloa juga menghadapi dinamika hubungan dengan presiden klub Florentino Pérez. Saat ditanya mengenai sebagian suporter yang meneriakkan tuntutan agar Pérez mundur, Arbeloa mengubah nadanya. Setelah sebelumnya menyatakan suporter berhak mengekspresikan pendapat, kali ini ia menunjukkan dukungan penuh.
“Siulan itu bukan dari orang-orang yang tidak mencintai Florentino, tetapi dari mereka yang tidak mencintai Real Madrid,” ujar Arbeloa. “Kami beruntung memiliki presiden yang, bersama Santiago Bernabéu, adalah sosok terpenting dalam sejarah klub ini.”

