Semakin banyak musisi dan penyanyi angkat bicara mengenai persoalan pelanggaran hak cipta yang menimpa karya mereka sendiri, terutama setelah karya-karya tersebut beredar di platform digital. Salah satu yang menceritakan pengalamannya adalah Thien Vuong, yang menyoroti perubahan pola distribusi musik dari era fisik ke era digital.
Thien Vuong menjelaskan bahwa pada masa ketika MTV merilis lagu dan album dalam bentuk fisik, prosesnya harus melalui perusahaan distribusi untuk memperoleh lisensi dan stempel rilis. Berbeda dengan situasi sekarang, ketika perilisan dapat dilakukan secara lebih mandiri melalui kanal digital. Persoalan muncul ketika grup tersebut mulai mengunggah ulang lagu-lagu mereka ke platform digital dan justru menerima banyak teguran terkait hak cipta.
Menurut Thien Vuong, perusahaan-perusahaan yang dahulu merilis album MTV diduga menjual audio tersebut kepada distributor platform digital secara sembarangan. Padahal, perjanjian yang pernah dibuat dengan grup hanya mencakup distribusi album fisik. Ia mengatakan, ketika fakta ini terungkap, ia hanya bisa menertawakannya karena perusahaan-perusahaan distribusi terkait sudah lama bubar. Upaya menghubungi pihak yang bertanggung jawab saat itu, menurutnya, hanya berujung pada jawaban yang tidak jelas dan saling melempar tanggung jawab.
Karena terus menerima teguran hak cipta atas lagu-lagu yang diunggah secara daring, serta kebutuhan untuk memperoleh “daftar putih” agar konten dapat digunakan tanpa dianggap melanggar, grup tersebut akhirnya memutuskan menghentikan ekspansi mereka di platform digital.
Dalam beberapa hari terakhir, bukan hanya Thien Vuong yang menyampaikan keluhan serupa. Sejumlah tokoh lain, termasuk musisi Nguyen Van Chung dan penyanyi My Le, juga membagikan pengalaman yang mereka sebut menyedihkan, seiring adanya tuntutan dari pihak berwenang atas serangkaian kasus pelanggaran hak cipta. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah penyanyi dan musisi menyatakan frustrasi dan mencari bantuan ketika karya kreatif mereka justru dilindungi hak cipta oleh entitas lain, sehingga mereka berisiko dianggap melanggar karya musik mereka sendiri.
Menanggapi fenomena tersebut, pengacara Nguyen Van Hau—Anggota Komite Tetap dan Kepala Badan Media Asosiasi Pengacara Vietnam—menilai pelanggaran hak cipta kini cukup umum terjadi di lingkungan digital, mengingat kemudahan dan kecepatan penyalinan serta berbagi konten. Ia menekankan pentingnya setiap individu dan organisasi bersikap proaktif melindungi hak mereka.
Nguyen Van Hau menyarankan agar pemilik hak terlebih dahulu mempertimbangkan masa perlindungan serta batas waktu pengajuan gugatan, karena hal itu menentukan kemungkinan penanganan pelanggaran sesuai hukum. Ia menyebutkan, batas waktu saat ini untuk menyelesaikan sengketa kekayaan intelektual adalah tiga tahun sejak pelanggaran ditemukan.
Ia juga menyampaikan langkah yang dapat ditempuh ketika pemilik menemukan karya atau kekayaan intelektualnya digunakan secara ilegal: segera mengumpulkan bukti, menghubungi pihak yang melanggar untuk meminta penghapusan konten, serta menuntut ganti rugi bila ada dasar hukum. Jika pihak yang melanggar tidak kooperatif atau mengulangi perbuatannya, pemilik dapat mengajukan pengaduan ke otoritas terkait untuk ditangani atau menempuh jalur hukum melalui Pengadilan Rakyat yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.