BERITA TERKINI
Balap Banteng Bảy Núi Muncul dalam Video Musik Sơn Tùng M-TP, Angkat Tradisi Khmer An Giang

Balap Banteng Bảy Núi Muncul dalam Video Musik Sơn Tùng M-TP, Angkat Tradisi Khmer An Giang

Video musik terbaru Sơn Tùng M-TP yang dirilis pada malam 28 Mei cepat menarik perhatian warganet. Di balik daya tarik visualnya, sejumlah adegan dinilai menghadirkan kembali suasana festival pacuan banteng Bảy Núi—tradisi rakyat khas komunitas Khmer di Provinsi An Giang, wilayah barat daya Vietnam—sehingga budaya lokal tersebut semakin dekat dengan penonton muda.

Di tengah irama musik modern, video itu menampilkan gambaran lembu-lembu yang berlari kencang melintasi lintasan berlumpur. Visual tersebut mengingatkan pada festival yang telah berlangsung ratusan tahun, sekaligus menonjolkan karakter pacuan banteng Bảy Núi yang berbeda dari balap di lintasan kering.

Menurut buku Adat dan Ritual Siklus Kehidupan Masyarakat Khmer Selatan karya peneliti Tran Van Bon, festival pacuan banteng Bảy Núi berakar dari kehidupan pertanian masyarakat Khmer di dua distrik Tri Ton dan Tinh Bien, An Giang. Dalam tradisi bertani padi sawah, lembu jantan menjadi tenaga penarik penting untuk membajak dan menyiapkan lahan.

Karena kebutuhan tenaga kerja, rumah tangga membentuk kebiasaan saling membantu pada musim tanam melalui sistem “pertukaran tenaga kerja”, termasuk membawa lembu untuk membantu pekerjaan di ladang. Setelah bekerja, para pemilik ternak kerap mengadakan kompetisi spontan guna menguji ketahanan hewan dan keterampilan penggembala. Dari kebiasaan inilah perlombaan berkembang perlahan menjadi festival komunitas.

Peran kuil juga disebut penting dalam menjaga keberlanjutan praktik tersebut. Pada masa lalu, banyak kuil Khmer memiliki lahan pertanian yang disumbangkan para pengikut Buddha. Warga berkumpul di kuil untuk mengolah lahan bersama sebelum kembali mengerjakan sawah keluarga masing-masing. Dalam kesempatan seperti itu, kepala biksu dan tokoh terhormat menyelenggarakan perlombaan di area kuil sebagai hiburan sekaligus penanda solidaritas, serta memperlihatkan keterkaitan komunitas dengan kehidupan Buddha Theravada Khmer.

Festival pacuan banteng biasanya digelar bertepatan dengan Dolta, salah satu perayaan terpenting masyarakat Khmer yang ditujukan untuk memperingati leluhur dan berdoa agar panen melimpah.

Keunikan pacuan banteng Bảy Núi terletak pada lintasannya yang berlumpur dan tergenang air. Dalam perlombaan, setiap pasangan lembu menarik garu kayu di belakangnya. Pengemudi berdiri di atas garu, menjaga keseimbangan sambil mengendalikan lembu agar melaju lebih cepat—tantangan yang menuntut kekuatan, koordinasi, serta pengalaman baik dari pengemudi maupun hewan.

Perlombaan berlangsung dalam dua tahap. Pada babak pemanasan, pasangan lembu bergerak dengan kecepatan sedang untuk menjaga jarak dan menunjukkan kestabilan. Setelah itu, peserta mendorong lembu berakselerasi hingga kecepatan maksimum di bagian lintasan yang lurus. Percikan lumpur dan air, ditambah sorak penonton, menjadi ciri suasana meriah festival ini.

Dalam penentuan pemenang, pasangan lembu yang berada di belakang dinyatakan menang apabila mampu menyalip atau berlari berdampingan dengan bajak lawan di depan tanpa melanggar aturan. Pada masa lalu, hadiah bersifat simbolis, seperti lonceng atau tali kekang baru. Namun, gelar juara tetap menjadi kebanggaan besar bagi pemilik lembu dan masyarakat desa.

Sejak akhir 1980-an, pacuan banteng Bảy Núi mulai diselenggarakan dalam skala lebih besar, menarik peserta dari berbagai daerah dan berkembang sebagai produk wisata budaya khas An Giang. Pada 2003, festival ini diakui sebagai produk wisata Provinsi An Giang. Pada 2009, ajang tersebut ditingkatkan menjadi Festival Adu Banteng Bảy Núi untuk Piala Televisi An Giang. Kemudian pada 2016, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata memasukkan “Festival Adu Banteng Bảy Núi – An Giang” ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Nasional, yang dipandang sebagai tonggak penting bagi pelestarian dan promosi nilai tradisi tersebut.