BERITA TERKINI
BandungBergerak Umumkan Esai Terpilih April 2026, Angkat Isu MBG, Maskulinitas, dan Reformasi 1998

BandungBergerak Umumkan Esai Terpilih April 2026, Angkat Isu MBG, Maskulinitas, dan Reformasi 1998

BandungBergerak menayangkan sedikitnya 51 esai sepanjang April 2026 melalui kanal Esai. Kanal ini disebut sebagai ruang publik yang dapat diisi siapa pun untuk menyebarkan ide atau gagasan, termasuk kritik. Di tengah kultur demokrasi yang dinilai semakin menyempit, BandungBergerak menegaskan kritik tetap diperlukan.

Seperti bulan-bulan sebelumnya, redaksi mengumumkan tiga Esai Terpilih untuk April 2026. Tiga tulisan itu membahas beragam isu, mulai dari program makan bergizi, budaya maskulinitas yang dinilai bermasalah, hingga refleksi atas perjalanan reformasi dan demokrasi di Indonesia.

Esai pertama berjudul Anak Bukan Angka: Kritik Ibu atas Program Makan Bergizi Gratis karya Endang Susanti (Mamak Bersuara). Penulis, yang disebut sebagai ibu rumah tangga dan aktif menulis isu sosial, pendidikan, serta kebijakan publik dari sudut pandang keluarga, membuka tulisannya dengan pengalaman keseharian mengurus kebutuhan makan anak. Ia menyoroti kompleksitas memastikan asupan anak cukup, bergizi, aman, dan sesuai kebutuhan tumbuh kembang, termasuk persoalan porsi, alergi, kebersihan, hingga kebiasaan makan. Dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ia menyatakan harapan sekaligus mempertanyakan apakah program itu benar-benar dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak atau lebih berfokus pada penyaluran makanan massal.

Esai kedua berjudul MAHASISWA BERSUARA: Skandal Grup Chat FHUI dan Kerusakan Sistemik Maskulinitas karya Callista Salwa Ratudena. Dalam pengantarnya, penulis menyinggung viralnya grup chat yang mengeksploitasi tubuh perempuan dan memicu kemarahan publik, yang kerap sebelumnya diredam dengan dalih “hanya bercanda”. Ia menilai situasi kali ini berbeda karena melibatkan narasi merendahkan, status para anggota sebagai calon penegak hukum, serta nama institusi ternama. Namun, ia menekankan tulisannya tidak berhenti pada kemarahan semata, melainkan mengajak pembaca menelusuri akar perilaku tersebut dan mempertanyakan mengapa pembahasan tubuh perempuan dalam obrolan laki-laki seolah menjadi hal yang dinormalisasi.

Esai ketiga berjudul PELAJAR BERSUARA: Apa Kabar Transisi Demokrasi Indonesia? karya Farhan M Adyatma, pelajar dari SMA negeri di Malang. Ia mengulas proses transisi demokrasi Indonesia sejak 1998, termasuk perubahan pasca jatuhnya Soeharto dan amandemen UUD 1945 yang dimulai pada era Presiden Habibie dan berlanjut pada periode berikutnya. Farhan menyebut periode 1998 hingga sekarang sebagai era Reformasi, sekaligus mengajukan pertanyaan apakah Indonesia benar-benar bergerak menuju negara demokratis sesuai agenda reformasi.

BandungBergerak menegaskan pengumuman Esai Terpilih bulanan bukan ajang memilih esai terbaik yang menafikan karya lain. Menurut redaksi, pemilihan tiga esai dilakukan melalui sejumlah pertimbangan tanpa bermaksud mengecilkan tulisan-tulisan lain yang disebut sama-sama terbaik. Redaksi juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh penulis.

Selanjutnya, BandungBergerak akan menghubungi para penulis Esai Terpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung BandungBergerak. Para penulis juga dapat berinisiatif menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor 082119425310.