BERITA TERKINI
BandungBergerak Umumkan Esai Terpilih Mei 2025: Dari Usulan Gelar Pahlawan untuk Suharto hingga Akses Pejalan Kaki ke Stadion GBLA

BandungBergerak Umumkan Esai Terpilih Mei 2025: Dari Usulan Gelar Pahlawan untuk Suharto hingga Akses Pejalan Kaki ke Stadion GBLA

BandungBergerak.id mengumumkan Esai Terpilih Mei 2025 sebagai bagian dari pengumuman bulanan untuk menyapa para penulis esai. Redaksi menegaskan, pengumuman ini bukan ajang memilih esai terbaik yang menafikan tulisan lain, karena setiap esai yang masuk dinilai memiliki kelebihan, tema, dan gaya penulisan yang beragam.

Setelah melalui diskusi dalam rapat redaksi, ada tiga esai yang dipilih beserta ulasan singkatnya. Pertama, esai berjudul MAHASISWA BERSUARA: Mengkritisi Usulan Pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Suharto karya Rahul Diva Laksana Putra, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Semarang. Rahul menyoroti ramainya usulan Kementerian Sosial Republik Indonesia bersama Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2G) terkait daftar calon pahlawan nasional. Dari sepuluh nama yang diusulkan, ia menilai nama Suharto—Presiden RI ke-2 yang memimpin Indonesia pada 1967 hingga 1998—menjadi sorotan utama. Rahul menggarisbawahi dua sisi yang kerap dilekatkan pada Suharto: dipuji sebagai “Bapak Pembangunan”, namun juga dikenang sebagai pemimpin otoriter yang dikaitkan dengan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang belum terselesaikan. Menurut Rahul, kontroversi ini mencerminkan bahwa bangsa Indonesia belum tuntas berhadapan dengan masa lalunya.

Kedua, esai karya N.N., seorang warga sipil, yang mengkritik perilaku kekerasan seksual oleh oknum “jas putih” dari lingkungan medis. Dalam tulisannya, N.N. menegaskan bahwa kekerasan seksual tetap merupakan kesalahan dalam bentuk apa pun. Ia juga menuliskan pengalaman yang dilihat, didengar, dan dialami sejak masa kuliah hingga bekerja, serta menyebut sebagian besar korban adalah perempuan.

Ketiga, esai berjudul Jalan Terjal dari Stasiun Cimekar ke Stadion GBLA karya Muhammad Hafizh Firdaus, pegiat literasi dari Politeknik Negeri Bandung. Melalui potret perjalanan pejalan kaki dari Stasiun Cimekar menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Hafizh mengulas minimnya fasilitas transportasi publik dan akses yang layak bagi warga Bandung. Ia menyoroti bahwa bobotoh dan warga yang memilih naik kereta dan berjalan kaki demi tidak menambah beban lalu lintas justru dihadapkan pada jalur setapak di antara parit dan pematang sawah, tanpa penerangan dan tanpa kejelasan.

Redaksi menyatakan, tiga esai terpilih tersebut menegaskan bahwa tulisan masih menjadi medium yang relevan untuk menyampaikan gagasan maupun kritik. BandungBergerak.id juga menilai esai kiriman para penulis sebagai dukungan penting bagi demokrasi, kebebasan berekspresi, dan kebebasan beropini, terutama dalam menghadirkan pandangan kritis ke ruang publik.

Komunitas BandungBergerak, KawanBergerak, akan menghubungi para penulis Esai Terpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung BandungBergerak. Para penulis juga dapat berinisiatif menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310.