BERITA TERKINI
Banten Heritage Kunjungi Kampung Cilebang untuk Dukung Pelestarian Seni Pokplod di Kaki Gunung Halimun

Banten Heritage Kunjungi Kampung Cilebang untuk Dukung Pelestarian Seni Pokplod di Kaki Gunung Halimun

LEBAK — Tim Banten Heritage mengunjungi Kampung Cilebang, kawasan Kasepuhan Cilebang di kaki Gunung Halimun, Sabtu petang (17/1), dalam upaya mendukung pelestarian seni Pokplod yang hidup di tengah masyarakat adat setempat.

Rombongan Banten Heritage menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Kota Serang untuk bertemu para tetua adat dan menyaksikan langsung praktik kebudayaan di Cilebang. Ketua Kasepuhan Cilebang, Abah Muhidin, menyambut kedatangan tim dengan didampingi para sesepuh.

“Kami berbahagia dapat bertemu dengan Bapak Ali Fadillah dan saudara-saudara Banten Heritage,” kata Muhidin. Ia menilai pertemuan tersebut menjadi jembatan antara tradisi yang telah lama dijaga dan upaya pemajuan kebudayaan di masa kini.

Kunjungan itu disebut berangkat dari keterlibatan Kasepuhan Cilebang dalam Festival Cagar Budaya Banten 2025 di Serang. Meski tidak meraih gelar juara, Muhidin menyatakan pihaknya tetap merasa bangga karena dapat tampil dan mendapat apresiasi. “Kami sudah senang bisa tampil dan diapresiasi,” ujarnya.

Pada Minggu pagi, seni Pokplod kembali dipentaskan. Penanggung jawab Pokplod, Abah Sadi, menjelaskan bahwa kesenian tersebut tidak dapat dipisahkan dari ritual adat. Menurutnya, instrumen seperti kendang dan angklung dibuat oleh warga kampung, sementara juru kawih berasal dari keluarga kasepuhan.

Abah Sadi menambahkan, syair yang dibawakan dalam Pokplod berangkat dari keseharian masyarakat, seperti cerita tentang sawah, hujan, panen, serta penghormatan kepada Nyi Pohaci sebagai simbol kesuburan tanah. Ia menegaskan bahwa orientasi utama kesenian itu bukan perlombaan. “Bagi kami, juara bukan tujuan. Yang penting kami bisa terus menari, menabuh, dan bersuara,” katanya.

Dari pihak Banten Heritage, Moh. Ali Fadillah menilai Cilebang menyimpan potensi besar sebagai ruang hidup kebudayaan. Ia menyebut seni Pokplod dapat dikembangkan menjadi bentuk pertunjukan yang lebih luas melalui pendekatan artistik, namun tetap harus menjaga ruh tradisi. “Poklod bisa bertransformasi menjadi performance art jika disentuh dengan pendekatan artistik yang tepat,” ujarnya.

Ali juga menekankan bahwa pengembangan tersebut tidak boleh menggerus nilai-nilai yang melekat pada kesenian dan ritual adat masyarakat Kasepuhan Cilebang.

Kunjungan dan pementasan itu menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan seni Pokplod di Kampung Cilebang, sekaligus mempertemukan komunitas adat dengan pihak yang bergerak di bidang pelestarian dan pemajuan kebudayaan di Banten.