Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menegaskan Indonesia tidak akan mengimpor beras konsumsi pada 2026. Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Batam, Kepulauan Riau, Senin (19/1).
Amran menekankan kebijakan tanpa impor beras didasarkan pada kondisi stok yang dinilai melimpah dan capaian swasembada. Ia juga meminta agar kebijakan impor tidak dilakukan karena menyangkut nasib petani padi.
Kesiapan Indonesia tanpa impor beras pada 2026, menurut Bapanas, tercermin dalam Proyeksi Neraca Pangan Beras pembaruan 6 Januari 2026. Dalam proyeksi tersebut, kebutuhan konsumsi beras selama setahun diperkirakan 31,1 juta ton, sementara produksi beras tahun 2026 diproyeksikan mencapai 34,76 juta ton.
Surplus produksi terhadap konsumsi itu diperkuat dengan carry over stock beras dari 2025 yang menjadi stok awal 2026 sebesar 12,4 juta ton. Dengan perhitungan tersebut, stok beras nasional hingga akhir 2026 diestimasikan masih berada di angka 16,1 juta ton.
Sejalan dengan itu, pemerintah memutuskan meniadakan impor beras konsumsi umum dan beras untuk bahan baku industri pada 2026. Dalam Neraca Komoditas (NK) 2026 yang ditetapkan pada akhir Desember 2025, tidak ada kesepakatan terkait kuota impor beras umum maupun kuota impor beras untuk kebutuhan industri.
Beras bahan baku industri yang dimaksud mencakup beras pecah dengan tingkat keutuhan kurang dari 15 persen serta beras ketan pecah dengan tingkat keutuhan kurang dari 15 persen. Dengan tidak adanya impor untuk kategori tersebut, pemerintah mendorong pelaku usaha mengoptimalkan bahan baku lokal berupa beras pecah dan beras ketan pecah.
Terkait harga beras yang masih berfluktuasi meski stok dinilai berlimpah, Amran menyebut faktor biaya distribusi menjadi penyebab utama. Ia menambahkan, beras sudah tidak lagi menjadi penyumbang inflasi nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pergerakan inflasi beras secara bulanan di tingkat eceran sepanjang 2025 lebih stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Puncak inflasi beras pada 2025 tercatat 1,35 persen pada Juli 2025, lebih rendah dibandingkan puncak inflasi beras pada 2023 yang mencapai 5,61 persen pada September 2023 dan pada 2024 yang mencapai 5,32 persen pada Februari 2024.
Pada akhir 2025, inflasi beras bulanan ditutup di level 0,18 persen pada Desember 2025. Sementara rerata inflasi beras bulanan selama 2025 berada di angka 0,30 persen, lebih rendah dibandingkan rerata 2023 sebesar 1,34 persen dan 2022 sebesar 0,51 persen. Kondisi tersebut menggambarkan perberasan nasional pada 2025 dinilai lebih terkendali dan stabil tanpa implikasi inflasi yang signifikan.

