BERITA TERKINI
Benyamin Sueb, Seniman Betawi Serbabisa yang Pernah Meniti Karier sebagai Penyanyi Jazz

Benyamin Sueb, Seniman Betawi Serbabisa yang Pernah Meniti Karier sebagai Penyanyi Jazz

Benyamin Sueb selama ini dikenal luas sebagai penyanyi lagu-lagu rakyat Jakarta atau Betawi. Namun, dalam perjalanan kariernya, ia juga pernah tampil sebagai penyanyi jazz di sejumlah kelab malam. Kisah itu terungkap dalam wawancara yang dimuat Majalah Intisari edisi September 1987, yang menelusuri perjalanan hidup dan kesenian Benyamin—mulai dari masa kecil, awal bermusik, hingga kiprahnya di film.

Dengan suara bariton, Benyamin disebut cukup dikenal hingga kawasan Semenanjung Melayu. Ia lahir di Jakarta pada 5 Maret 1939 dan dikenal sebagai penyanyi yang meraih sejumlah golden dan silver record. Di panggung, ia tidak hanya bernyanyi, tetapi juga kerap menyelipkan banyolan yang memancing tawa penonton.

Selain musik, Benyamin juga menekuni dunia film. Ia pernah meraih Piala Citra dua kali, masing-masing untuk film Intan Berduri (1973) dan Si Doel Anak Modern (1977). Dalam wawancara tersebut, ia menyebut telah bermain dalam sekitar 25 film, dengan kecenderungan peran komedi.

Benyamin menceritakan latar keluarganya sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara. Ayahnya meninggal ketika ia berusia dua tahun. Ayahnya disebut berdarah campuran Betawi-Jawa, sementara ibunya asli Betawi. Ia juga berkisah tentang masa kecilnya yang diakuinya sangat nakal, termasuk pengalaman jatuh hingga kakinya patah saat bermain di pepohonan kawasan Kemayoran.

Riwayat sekolahnya berpindah-pindah. Ia sempat bersekolah dasar di Bendungan Jago, kemudian pindah ke Bandung dan bersekolah di Santo Yosef serta Santa Maria. Setelah kembali ke Jakarta, ia melanjutkan pendidikan di SMTP Pepsi (Perguruan Sosial Indonesia) dan kemudian di SMTA Taman Siswa.

Awal ketertarikannya pada musik muncul sejak kecil, ketika ia dan kawan-kawan membuat alat musik sederhana dari kaleng dan jeriken. Mereka kerap tampil di pesta-pesta kampung, seperti acara sunatan atau pernikahan. Benyamin mengenang berbagai kejadian lucu dari masa itu, termasuk momen ketika mereka membawa peralatan dengan gerobak dan dikejar anjing hingga berlarian dan tercebur ke kali.

Ketika mulai menjadi penyanyi profesional, Benyamin justru lebih dulu membawakan lagu-lagu Barat. Ia mengaku pernah tampil di kelab malam seperti Sindang Laut, Wisma Nusantara, dan Hotel Des Indes (yang disebutnya kini menjadi Duta Merlin). Pada masa itu, ia menyebut dirinya sebagai penyanyi jazz dan pernah tampil bersama musisi seperti Jack Lesmana dan Bill Saragih.

Selepas lulus SMTA, Benyamin bergabung dengan Kodam V Jaya di bagian kesenian yang bertugas menghibur kesatuan-kesatuan. Ia menikah pada 1959. Setelah itu, ia sempat berkuliah di Akademi Ketatalaksanaan di Sawerigading, meski tidak sampai tamat.

Peralihan Benyamin ke lagu-lagu Betawi terjadi ketika lagu-lagu Barat disebut sedang dilarang dan dianggap “ngak-ngik-ngok”. Ia mengingat pernah ditegur karena menyanyikan lagu Barat di sebuah kelab malam. Saat diminta membawakan keroncong, ia justru menyaksikan penonton yang sedang berdansa satu per satu meninggalkan tempat. Dari situ, ia melihat momentum ketika lagu-lagu daerah mulai digalakkan dan kemudian menggali lagu-lagu Betawi.

Ia mulai rekaman pada 1968. Salah satu lagu yang disebut sedang populer kala itu adalah “Si Jampang”, ciptaannya sendiri. Benyamin menceritakan ide lagu itu muncul setelah melihat gambar “Si Jampang” yang disukai anak-anaknya. Ia menggambarkan tokoh Abang Jampang sebagai satire: sosok jagoan yang takut pada janda dan gemar berutang. Setelah itu, ia terus menekuni lagu-lagu Betawi, termasuk berduet gambang kromong dengan Ida Royani. Ia menyebut tidak semua lagu yang direkamnya ciptaan sendiri, namun beberapa karya ciptaannya yang menonjol antara lain “Kompor Meleduk”.

Di luar dunia seni, Benyamin juga pernah mencoba berbagai pekerjaan. Ia mengaku sempat menjadi kondektur bus setelah bekerja di PPD, antara lain karena ingin menyalurkan kegemarannya bermain sepak bola. Namun ia hanya bertahan dua bulan. Ia juga pernah bekerja di kantor peralatan AD di bagian yang berkaitan dengan distribusi peluru, lalu pindah ke Perusahaan Asbes Semen Negara di Jalan Kramat, hingga pernah mencapai posisi kepala bagian. Ia mengisahkan beberapa kali memilih keluar dari pekerjaan karena konflik dan temperamennya.

Sebelum benar-benar mantap sebagai penyanyi, Benyamin sempat menyerahkan lagu ciptaannya kepada Bing Slamet, termasuk “Nonton Bioskop” dan “Hujan Gerimis”. Menurut ceritanya, setelah lagu-lagu itu dikenal, Bing Slamet menyarankan agar Benyamin menyanyikan sendiri lagu-lagunya. Benyamin kemudian mulai rekaman dan memantapkan pilihan untuk menekuni seni, di tengah tanggung jawab keluarga yang saat itu sudah memiliki lima anak.

Dalam wawancara tersebut, Benyamin menggambarkan masa awal membawa lagu Betawi tidak selalu mudah. Ia menyebut pernah mengalami penolakan dari pengiring musik yang menganggap lagu Betawi sebagai “lagu kampungan”. Namun ia menilai, pada masanya ia seperti “membabat hutan”, berbeda dengan generasi setelahnya yang tinggal meneruskan jalan yang sudah terbuka.

Benyamin juga menceritakan pengalamannya tampil di luar negeri. Ia menyebut telah menyanyi di berbagai wilayah Semenanjung Melayu hingga Brunei Darussalam, serta pernah ke Tunisia dan Jerman. Ia juga mengingat pengalaman di Singapura ketika penonton justru meminta lagu-lagu populernya seperti “Jampang”, alih-alih lagu-lagu Barat yang sudah ia persiapkan.

Dalam perbincangan itu, Benyamin mengaku tengah membentuk sebuah band pengiring yang diharapkan bisa memadukan nuansa Barat dan Betawi, bernama Al HAJ (Himpunan Anak Jakarta). Ia juga menyampaikan kekhawatirannya tentang regenerasi lagu-lagu Betawi. Menurutnya, ketika ia jarang tampil, belum terlihat pengganti yang menonjol, dan ia menilai hal itu menjadi tanggung jawab masyarakat Betawi sendiri, termasuk melalui lembaga kesenian yang sudah ada.

Di bidang film, Benyamin menyebut debutnya pada 1969 lewat Honey Money in Jakarta, lalu Banteng Betawi bersama Dicky Zulkarnaen. Ia menyebut Si Doel Anak Modern sebagai salah satu film paling berkesan karena membawanya meraih Citra pada 1977. Ia juga mengenang reaksi publik yang sempat tidak percaya ketika ia menang Citra untuk Intan Berduri pada 1973. Ia menyebut film terbarunya saat wawancara berlangsung adalah Koboi Insaf yang belum rampung.

Benyamin turut menyampaikan pandangannya tentang perkembangan film Indonesia saat itu. Ia mengkritik film yang menurutnya terlalu menonjolkan adegan seks. Ia menilai teknik perfilman bisa maju, tetapi moral justru mundur. Ia juga menyebut pernah menolak peran-peran tertentu yang dianggapnya tidak pantas.

Di akhir wawancara, Benyamin berbicara tentang kebiasaannya melucu di panggung, sesuatu yang menurutnya lebih lekat ketika membawakan lagu-lagu Betawi dibanding saat menyanyikan jazz. Ia juga menyebut prinsip hidup yang ia pegang: tekun, jujur, disiplin, dan berdoa, serta menyarankan agar seseorang tidak memasang harapan terlalu muluk, melainkan bertahap sesuai kemampuan.