BERITA TERKINI
“Bidadari Sakti” Hadirkan Slow Rock Melankolis dengan Identitas Pidie

“Bidadari Sakti” Hadirkan Slow Rock Melankolis dengan Identitas Pidie

Di tengah arus industri musik digital yang dipenuhi lagu-lagu berirama cepat dan lirik instan, “Bidadari Sakti” hadir sebagai warna tersendiri bagi penikmat slow rock Indonesia. Lagu yang dipopulerkan Boim Riza ini membawa nuansa romantis, melankolis, sekaligus magis dalam balutan slow rock berbahasa Indonesia yang lembut dan mudah diterima berbagai kalangan.

Di balik atmosfer sendu yang dibangun dalam lagu, proses rekamannya justru berlangsung santai. Boim Riza mengungkapkan suasana di RS Studio Bireuen, Aceh, kerap dipenuhi candaan tim produksi hingga membuatnya beberapa kali mengulang pengambilan vokal.

“Lagu ini kan penuh rasa dan suasana sedih. Tapi waktu rekaman di RS Studio Bireuen malah sering pecah ketawa. Kadang baru mau masuk bagian emosional, ada saja yang melawak,” ujar Boim sambil tertawa.

Ia mengenang salah satu momen ketika konsentrasinya buyar menjelang reff. “Pernah waktu mau nyanyi bagian ‘Oh Bidadari Sakti’, tiba-tiba ada yang bilang jangan sampai bidadarinya kabur duluan sebelum lagunya selesai. Langsung buyar konsentrasi semua,” katanya.

Meski demikian, Boim menilai suasana cair itu justru membantu proses rekaman terasa hidup dan kekeluargaan. “Walaupun banyak ketawa, semua tetap serius saat take rekaman. Justru suasana santai seperti itu yang membuat rasa dalam lagu bisa keluar alami,” ujarnya.

Boim juga mengaku menikmati membawakan “Bidadari Sakti” karena karakter slow rock romantisnya dianggap dekat dengan warna vokal dan gaya bernyanyinya. “Lagu slow rock seperti ini memang sudah dekat dengan karakter suara saya. Jadi saat menyanyikannya, saya tinggal mengikuti rasa dan suasana yang ada di lirik,” kata Boim.

“Bidadari Sakti” merupakan karya ciptaan Chesby Kaum (Polem). Lagu ini memadukan kerinduan, imajinasi, dan harapan tentang sosok perempuan yang digambarkan begitu indah layaknya bidadari. Liriknya dibuat sederhana, namun diarahkan untuk menghadirkan kekuatan emosional sejak bait pembuka, antara lain melalui kalimat “Dikebisuan malam, hayal ku bagaikan mimpi”.

Dalam lagu, sosok “Bidadari Sakti” tidak hanya hadir sebagai figur perempuan cantik, tetapi juga simbol cinta yang sulit digapai namun terus diharapkan. Nuansa magis diperkuat lewat diksi seperti “Senyumannya menikam, merasuk jantung dan nadi,” yang menggambarkan pesona sang bidadari menguasai hati dan perasaan.

Istilah “Sakti” juga memberi lapisan makna ganda. Selain identik dengan aura magis, Sakti merupakan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Pidie dengan pusat pemerintahan di Lamlo atau Kota Bakti. Penggunaan nama daerah ini dinilai memberi identitas lokal yang kuat dan menghadirkan kedekatan emosional, khususnya bagi masyarakat Aceh dan warga Pidie.

Secara musikal, “Bidadari Sakti” mengusung slow rock berbahasa Indonesia dengan sentuhan Melayu yang lembut. Aransemen digarap Rahmat RS dengan pendekatan emosional, tanpa menumpuk instrumen agar ruang vokal tetap dominan.

“Aransemen lagu ini memang kita buat senyaman mungkin di telinga penikmat slow rock. Tidak terlalu ramai, karena fokus utamanya ada pada rasa dan karakter suara Boim. Kalau musiknya terlalu penuh, emosi lagunya justru bisa hilang,” ujar Rahmat RS.

Rahmat mempertahankan pola slow rock klasik yang lekat dengan nuansa pop Melayu era 1990-an hingga awal 2000-an. Gitar melodi dibuat lembut dengan dominasi nada minor untuk membangun suasana sendu dan romantis. Ketukan drum dijaga pelan dan stabil agar tidak menutupi vokal, sementara keyboard digunakan untuk memperkuat atmosfer magis. Menurutnya, aransemen sengaja tidak dibuat terlalu modern agar “ruh” slow rock tetap terasa.

“Kita ingin lagu ini tetap punya jiwa. Slow rock itu kekuatannya ada di penghayatan. Pendengar harus bisa merasakan sepi, rindu, dan imajinasi yang ada di dalam lirik,” kata Rahmat.

Penilaian terhadap kekuatan vokal Boim Riza juga datang dari musisi senior Repelitaa. Ia menilai Boim memiliki karakter bariton yang khas dan kuat, serta kemampuan membangun emosi dalam setiap lagu. “Boim itu punya warna suara yang kuat. Baritonnya khas, berat, dan sangat hidup saat menyampaikan lagu-lagu slow rock. Pendengar bisa merasakan isi lagu hanya dari cara dia mengucapkan tiap bait,” ujar Repelitaa.

Repelitaa menilai “Bidadari Sakti” menonjol karena perpaduan lirik puitis, aransemen yang tenang, dan karakter vokal yang emosional. Menurutnya, lagu ini menghidupkan kembali nuansa slow rock Melayu yang pernah kuat mewarnai musik Indonesia dan Aceh, serta tidak berorientasi pada ledakan popularitas sesaat. “Sekarang banyak lagu cepat viral tapi cepat hilang. ‘Bidadari Sakti’ justru punya karakter. Lagu seperti ini biasanya lambat naik, tapi lama tinggal di hati pendengar,” katanya.

Pandangan senada disampaikan penyanyi Aceh, Aie Arbi. Ia menilai lagu ini kuat secara emosional karena perpaduan vokal Boim dan aransemen yang tidak berlebihan. “Boim punya karakter suara yang tidak dibuat-buat. Ketika dia menyanyi, pendengar bisa langsung merasakan emosinya. Itu yang membuat ‘Bidadari Sakti’ terasa hidup,” ujarnya.

Aie Arbi juga menyoroti kekhasan bariton Boim yang mudah dikenali. “Baru beberapa bait dinyanyikan, orang sudah tahu itu suara Boim. Karakter seperti itu tidak bisa dibentuk secara instan,” katanya. Ia turut mengapresiasi aransemen Rahmat RS yang dinilai menjaga keseimbangan instrumen dan vokal. “Musiknya tidak berlebihan. Justru karena sederhana, vokal Boim jadi lebih menonjol dan emosinya sampai ke pendengar. Itu kekuatan slow rock yang sebenarnya,” tutur Aie Arbi.

Sementara itu, musisi sekaligus pencipta lagu Aceh, Nek Kabong, menilai kekuatan “Bidadari Sakti” juga terlihat dari sudut pandang penulisan lagu. Menurutnya, Chesby Kaum berhasil membangun suasana puitis dan imajinatif dengan diksi sederhana namun tetap memiliki kedalaman rasa. “Saya melihat lagu ini lebih dari sudut pandang penciptanya. Chesby Kaum berhasil membangun suasana dalam liriknya. Ada rasa sunyi, rindu, harapan, bahkan nuansa magis yang dibentuk secara sederhana tapi mengena,” ujar Nek Kabong.

Ia menilai penggunaan kata “Sakti” sebagai kekuatan simbolik yang cerdas karena menghadirkan identitas lokal tanpa terasa dipaksakan. “Itu cerdas menurut saya. Nama daerah bisa masuk ke lagu tanpa terasa dipaksakan. Jadi lagunya punya identitas lokal yang kuat,” katanya.

Nek Kabong juga menilai Boim berhasil menerjemahkan emosi lirik menjadi nyanyian yang hidup. “Boim menyanyi seperti orang sedang bercerita. Itu yang membuat pendengar nyaman dan ikut larut dalam lagunya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kesederhanaan interpretasi vokal justru membuat lagu terasa lebih dalam.