BERITA TERKINI
Boethius, Viktor Frankl, dan Gagasan Kemerdekaan Batin di Tengah Penderitaan

Boethius, Viktor Frankl, dan Gagasan Kemerdekaan Batin di Tengah Penderitaan

Di sebuah sel penjara yang dingin dan lembap di Pavia pada 523 Masehi, Anicius Manlius Severinus Boethius menulis karya yang kelak berpengaruh besar bagi peradaban Barat. Filsuf sekaligus negarawan Romawi itu sedang menunggu eksekusi setelah dituduh berkhianat oleh kekuasaan yang sebelumnya ia layani. Setahun sebelumnya, ia masih berada di puncak karier sebagai magister officiorum, menyaksikan kedua putranya diangkat menjadi konsul, dan menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan Raja Theodoric. Kini, seluruh kehormatan, harta, dan reputasinya lenyap, sementara keluarganya ikut terancam.

Dari situasi tersebut lahir De Consolatione Philosophiae (Filsafat Penghiburan), sebuah teks yang ditulis Boethius untuk menjawab pertanyaan yang menekan: bagaimana seseorang dapat menemukan kebahagiaan ketika segala yang dicintai dirampas, dan bagaimana tetap merdeka ketika tubuh terbelenggu serta kematian tinggal menunggu.

Dalam bentuk dialog puitis, Boethius menggambarkan kedatangan sosok perempuan agung sebagai personifikasi Filsafat. Sosok ini, yang hadir dengan kelembutan sekaligus ketegasan, menantang cara pandang Boethius tentang sumber kebahagiaan. Ia menegaskan bahwa kekayaan, kekuasaan, kehormatan, bahkan kesehatan, bukanlah kebahagiaan sejati karena semuanya berada di bawah kuasa Fortuna yang berubah-ubah. Ketergantungan pada hal-hal eksternal, menurut gagasan itu, membuat manusia terombang-ambing oleh kecemasan: takut kehilangan apa yang dimiliki dan gelisah mengejar apa yang belum didapat.

Filsafat yang disampaikan dalam dialog tersebut menempatkan kebajikan dan kebijaksanaan sebagai sumber kebahagiaan yang tidak dapat dirampas. Kebahagiaan dipahami sebagai sesuatu yang berakar di batin, tetap utuh sekalipun tubuh berada dalam penjara. Dari sini muncul inti ajaran Boethius: kemerdekaan sejati bukan terutama soal lepasnya belenggu fisik, melainkan bebasnya hati dari keterikatan yang memperbudak.

Gagasan itu selaras dengan pengaruh Stoik dan Neoplatonik yang ia serap: manusia tidak selalu bisa mengendalikan keadaan, tetapi dapat mengendalikan responsnya terhadap keadaan. Penderitaan bisa datang sebagai takdir, namun makna yang diberikan pada penderitaan, serta kesetiaan pada kebenaran dan kebajikan, diposisikan sebagai ruang kebebasan yang paling mendasar.

Teks tersebut juga dikaitkan dengan temuan psikologi positif modern. Riset komprehensif yang disebut dipublikasikan pada 2024 melaporkan adanya hubungan kuat dan konsisten antara pengendalian diri dengan berbagai parameter kebahagiaan, seperti kepuasan hidup, perasaan positif, dan pengalaman makna hidup. Dalam penelitian harian yang melibatkan ratusan partisipan, keberhasilan menyelesaikan konflik internal dan mengendalikan respons emosional disebut sebagai prediktor paling kuat bagi efektivitas pengaturan diri sehari-hari. Temuan lain menyebut bahwa individu dengan pengendalian diri tinggi lebih mampu menyeimbangkan tujuan-tujuan yang saling bertentangan, yang kemudian berkaitan dengan meningkatnya kepuasan hidup secara keseluruhan, dan hubungan ini dilaporkan telah direplikasi dalam berbagai konteks budaya.

Dalam bingkai tersebut, kebahagiaan yang dimaksud bukanlah ketiadaan penderitaan, melainkan ketenangan internal yang tetap mungkin hadir ketika penderitaan ada. Konsep ini sejalan dengan gagasan eudaimonia—kegembiraan yang bersumber dari kebajikan—yang menempatkan kualitas batin sebagai pusat kesejahteraan.

Kisah Boethius juga ditempatkan dalam tradisi lebih luas tentang karya-karya besar yang lahir dari keterbatasan dan penjara. Salah satu contoh yang diangkat adalah Viktor Frankl, psikiater Yahudi Austria yang pada 1944 dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz. Ia kehilangan keluarganya dan mengalami kondisi hidup yang ekstrem. Namun dari pengamatan atas sesama tahanan—sebagian kehilangan kemanusiaan, sebagian lain justru menunjukkan kemanusiaan paling murni—Frankl merumuskan gagasan bahwa ketika situasi tidak dapat diubah, manusia masih memiliki kebebasan terakhir: memilih sikapnya.

Pengamatan itu melahirkan logotherapy atau terapi makna, yang kemudian dituangkan dalam bukunya Man’s Search for Meaning. Dalam kutipan yang disertakan, Frankl menulis, “Mereka yang memiliki ‘mengapa’ untuk hidup, dapat bertahan dengan hampir sembarang ‘bagaimana’.” Buku tersebut disebut terjual lebih dari 10 juta kopi, diterjemahkan ke 24 bahasa, dan memengaruhi jutaan pembaca.

Kerangka Frankl kemudian dihubungkan dengan konsep “pertumbuhan pasca-trauma” yang didefinisikan Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun sebagai perubahan psikologis positif yang muncul dari pergulatan menghadapi keadaan hidup yang sangat menantang. Dalam berbagai studi pada penyintas beragam trauma, disebutkan 58–83% responden melaporkan pertumbuhan pasca-trauma—bukan hanya pulih, melainkan berkembang melampaui kondisi awal. Pertumbuhan itu digambarkan muncul pada tiga dimensi: perubahan positif dalam diri, dalam hubungan dengan orang lain, dan dalam filosofi hidup.

Penelitian lain yang dikutip, termasuk oleh Marie Forgeard, menyebut adanya kaitan antara adversitas dan kreativitas, ketika eksplorasi kognitif membantu individu menemukan makna baru dalam situasi yang sebelumnya sulit dipahami. Disebut pula adanya temuan longitudinal pada remaja yang mengalami trauma: proses pertumbuhan pasca-trauma diawali oleh runtuhnya struktur kognitif yang memicu tekanan psikologis signifikan, lalu diikuti pembangunan kembali struktur tersebut dengan dukungan sumber daya psikologis positif. Pola yang digambarkan menunjukkan bahwa tekanan psikologis dan sumber daya dukungan secara bersama-sama berkontribusi terhadap pertumbuhan pasca-trauma.

Rangkaian kisah dan temuan tersebut mengerucut pada satu benang merah: kemerdekaan batin dipahami sebagai kemampuan menguasai diri, memberi makna, dan memilih sikap—bahkan ketika keadaan eksternal tidak memberi ruang. Dari penjara Boethius hingga pengalaman Frankl, narasi ini menempatkan kebahagiaan dan kebebasan sebagai sesuatu yang dapat dipertahankan melalui kebajikan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri.