Di tengah era digital pada 2026, buku Agenda Kegiatan Ramadan yang disediakan pihak sekolah masih digunakan dalam rangkaian kegiatan kuliah subuh di Musholla Al-Ikhlas Tegong, Desa Taraban. Setiap pagi selama Ramadan, anak-anak datang membawa buku agenda untuk mencatat dan memantau aktivitas ibadah mereka.
Di dalam buku tersebut tercantum rangkaian kegiatan, mulai dari salat berjamaah, tadarus, hingga kehadiran dalam kajian subuh. Buku agenda tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi juga menjadi sarana kontrol sekaligus pembiasaan bagi anak-anak dalam menjalankan kegiatan secara rutin.
Kuliah subuh di musholla itu turut mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang. Anak-anak duduk berdampingan dengan orang tua dan para sesepuh desa untuk menyimak tausiyah yang disampaikan secara sederhana namun dinilai penuh makna.
Tradisi pencatatan manual tersebut tetap bertahan di tengah dominasi sistem digital. Buku fisik dipandang menjadi medium pembelajaran yang konkret bagi anak-anak, terutama dalam melatih disiplin, tanggung jawab, dan konsistensi melalui kebiasaan mencatat serta menghadiri kegiatan secara teratur.
Kehadiran mahasiswa KKN dalam kegiatan itu juga disebut menjadi bentuk dukungan moral dan partisipasi sosial. Mereka ikut membersamai kegiatan, mendokumentasikan, serta menyaksikan langsung bagaimana tradisi keagamaan desa tetap berjalan melalui peran sekolah dan masyarakat.
Secara keseluruhan, kuliah subuh di Musholla Al-Ikhlas Tegong tidak sekadar menjadi rutinitas Ramadan. Kegiatan ini juga menjadi ruang pendidikan karakter, tempat nilai-nilai diwariskan, kebiasaan dibangun, dan generasi muda dilibatkan dalam kehidupan keagamaan desa.

