BERITA TERKINI
“Come My Way” Son Tung dan Perdebatan tentang Identitas Vietnam dalam Musik Pop

“Come My Way” Son Tung dan Perdebatan tentang Identitas Vietnam dalam Musik Pop

Video musik “Come My Way” karya Son Tung M-TP memunculkan pertanyaan tentang bagaimana identitas Vietnam seharusnya hadir dalam sebuah produk budaya populer. Unsur visual yang terinspirasi dari Vietnam ditampilkan kuat, tetapi cara pengolahannya membuat sebagian penonton mempertanyakan: apakah karya ini benar-benar mewujudkan identitas Vietnam, dan apa yang sebenarnya membentuk identitas itu?

Dalam V-pop, sejumlah karya kerap dianggap mudah dikenali sebagai “berkarakter Vietnam”. Lagu seperti “Bac Bling” dari Hoa Minzy, serta “Banh Troi Nuoc”, “Tu Phu”, dan “See Tinh” dari Hoang Thuy Linh, juga karya-karya Phuong My Chi, sering disebut memiliki identitas Vietnam yang jelas. Meski beberapa di antaranya memadukan elemen modern seperti trap, hip hop, synth pop, disko, kemunculan kata atau frasa asing, hingga gerakan tari bernuansa K-pop, karakter Vietnam tetap jarang diperdebatkan.

Salah satu alasannya, karya-karya tersebut umumnya bertumpu pada cerita yang berakar pada sastra klasik Vietnam atau kehidupan tradisional. Para seniman memanfaatkan “kode budaya” yang sudah mapan dan memanggil kembali ingatan kolektif yang luas diterima publik, sehingga hubungan antara unsur tradisi dan narasi utama terasa kuat.

Namun, batas identitas Vietnam menjadi lebih sulit didefinisikan ketika pendengar berhadapan dengan produk yang mengolah elemen lama dalam konteks baru, seperti album Pillzcasso dari 2Pillz. Pendengar paruh baya yang tidak terlalu akrab dengan V-pop bisa saja menangkap melodi Vietnam yang familiar atau nuansa lagu sentimental, tetapi sekaligus merasa asing dengan lanskap suara yang dianggap “kacau”. Dalam pendekatan ini, unsur yang dikenal ditempatkan pada ruang bunyi yang berbeda dari ekspektasi, seolah menonaktifkan memori lama dan memaksa lahirnya interpretasi baru.

Meski demikian, 2Pillz masih banyak menggunakan lirik berbahasa Vietnam. Sementara pada Son Tung, dari “There’s No One At All”, “Making My Way”, hingga “Come My Way”, liriknya berbahasa Inggris. Di titik ini, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal pilihan bahasa dan cara menyusun simbol budaya: mengapa menggunakan citra yang terinspirasi dari Vietnam tetapi tidak bernyanyi dalam bahasa Vietnam, dan mengapa rangkaian gambar Vietnam tidak disusun sebagai narasi linier, melainkan lebih sebagai dampak visual?

Perbandingan pun mengemuka. Dalam “Bac Bling”, nyanyian rakyat Quan Ho—meski telah mengalami inovasi—tetap menjadi penghubung utama antara musik dan visual. Sebaliknya, nyanyian rakyat Xuan Pha dalam “Come My Way” dipandang terlepas dari konteks festival desa tradisional dan lebih berfungsi sebagai kode visual. Dari sudut pandang tertentu, pemindahan unsur tradisi dari ekosistem aslinya ini dapat dibaca sebagai bentuk “kerusakan identitas”.

Namun ada pula pembacaan lain: jika identitas dianggap sebagai kerangka yang kaku, maka karya semacam itu memang tampak seperti fragmen. Tetapi identitas atau esensi budaya juga bisa dipahami sebagai sesuatu yang terus mengalir dan berubah, bukan sesuatu yang dapat dibingkai secara tetap. Dalam pengertian ini, “Come My Way” dapat dilihat sebagai upaya “dekonstruksi” terhadap apa yang selama ini dianggap sebagai ciri khas Vietnam.

Pendekatan Son Tung berbeda dari Hoang Thuy Linh, Hoa Minzy, dan Phuong My Chi yang cenderung mempertahankan unsur budaya dalam ekosistem asalnya—misalnya, Quan Ho yang lekat dengan busana tradisional empat panel, Festival Lim di Bac Ninh, dan budaya Kinh Bac. Pada “Come My Way”, unsur seperti burung Lac, pertunjukan rakyat Xuan Pha, dan festival pacuan banteng tidak diletakkan dalam narasi sejarahnya, melainkan dipisahkan dan dibentuk menjadi entitas estetika yang berdiri sendiri.

Tim kreatifnya menilai tarian Xuan Pha—tarian kuno bertopeng dari Thanh Hoa—cocok dipadukan dengan genre seperti Amapiano atau Afrobeat karena sama-sama berwatak kesukuan, primitif, dan mengandalkan ketukan ritmis untuk memicu energi. Cara berpikir serupa juga ditemukan pada 2Pillz, yang melihat xilofon batu kuno dari dataran tinggi Vietnam, ketika dimainkan pada kecepatan tertentu, memiliki ketajaman bunyi yang sebanding dengan hi-hat.

Pendekatan ini dapat dibandingkan dengan Jackson Wang, seniman asal Hong Kong yang debut di Korea Selatan. Dalam karya seperti “100 Ways”, ia bernyanyi dalam bahasa Inggris dengan iringan trap, sementara nuansa Tiongkok hadir terutama pada visual. Wang mengaitkan ritme seni bela diri Tiongkok dengan perkusi musik Barat dan menghadirkan tari yang dikembangkan dari seni bela diri tradisional.

Son Tung sendiri pernah dikenal sebagai pencipta bahasa bagi generasi muda, melahirkan banyak slang baru, dan menulis dengan gaya Vietnam yang puitis. Jika ia ingin membuat karya yang lebih “aman” dan mudah dikenali sebagai Vietnam, ia disebut bisa saja membuat sekuel “Lac Troi”. Namun, ia tidak memilih jalur itu, dan justru menghadirkan karya yang memicu perdebatan: apakah identitas Vietnam harus hadir sebagai narasi tradisional yang utuh, atau bisa muncul melalui pembongkaran, pergeseran konteks, dan percampuran estetika lintas budaya?