BERITA TERKINI
CORE Ingatkan Hilirisasi Tetap Jadi Prioritas di Tengah Kesepakatan Tarif Dagang RI-AS

CORE Ingatkan Hilirisasi Tetap Jadi Prioritas di Tengah Kesepakatan Tarif Dagang RI-AS

Jakarta — Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengingatkan pentingnya agenda hilirisasi tetap dijaga di tengah kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, keringanan tarif ekspor berpotensi mendorong pengiriman bahan mentah ke luar negeri, sementara hilirisasi membutuhkan pasokan bahan baku yang memadai di dalam negeri.

Peringatan itu disampaikan menyusul hasil akhir negosiasi tarif dagang Indonesia-AS yang tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART). Dalam dokumen tersebut, sebanyak 1.819 pos tarif produk asal Indonesia disebut akan memperoleh fasilitas bea masuk 0 persen ke pasar AS.

Faisal menilai hal ini perlu dicermati karena banyak pos tarif tersebut didominasi komoditas seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, dan karet yang dinilai belum diolah atau belum diberi nilai tambah. Ia mengatakan, fasilitas ini memang menguntungkan eksportir bahan mentah, tetapi perlu dihitung dampaknya terhadap agenda hilirisasi.

“Kalau komoditas utama sawit, kopi, kakao, bukan berarti tidak bagus untuk eksportir yang bahan mentah, ya, (tentu) akan menguntungkan. Tapi bagaimana dengan agenda hilirisasi? Hilirisasi itu salah satu supporting policy-nya adalah dari sisi perdagangan memang merestriksi ekspor bahan mentah. Entah itu total ban atau larangan secara menyeluruh atau dengan memberikan hambatan dalam ekspor seperti ada biaya keluar,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut dibutuhkan agar bahan baku masuk ke industri hilir, karena investor memerlukan kepastian kecukupan bahan baku di pasar domestik.

Faisal juga menilai kemudahan ekspor bahan mentah dapat memengaruhi upaya pembangunan industri komoditas di dalam negeri. Ia mencontohkan komoditas kakao, yang menurutnya selama ini justru mengalami kekurangan karena produksi domestik kian terbatas dan sebagian produksi yang ada lebih memilih diekspor karena dinilai lebih menguntungkan.

Menurut Faisal, pemerintah tidak boleh melupakan agenda percepatan hilirisasi untuk mendongkrak industri dalam negeri, baik di sektor pengolahan hasil pertanian/perkebunan maupun pertambangan. Ia menilai, jika hambatan ekspor bahan mentah semakin berkurang, maka ekspor bahan mentah akan semakin mudah dilakukan dan upaya mendorong hilirisasi perkebunan menjadi semakin sulit, padahal hal itu merupakan agenda prioritas pemerintah.

Dalam kesepakatan tersebut, AS disebut masih memberlakukan tarif resiprokal sebesar 19 persen terhadap produk impor dari Indonesia. Namun, daftar 1.819 pos tarif dan produk tekstil yang telah diidentifikasi dalam perjanjian memperoleh pengecualian tarif 0 persen.

Di sisi lain, Indonesia juga memberikan fasilitas tarif 0 persen bagi sejumlah produk asal AS, terutama komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai. Kedua negara juga sepakat untuk tidak mengenakan bea masuk atas transaksi ekonomi digital.

Selain itu, kesepakatan tersebut mencatat adanya komitmen yang mencakup pembelian komoditas energi AS sekitar 15 miliar dolar AS, pengadaan pesawat Boeing senilai sekitar 13,5 miliar dolar AS, serta pembelian produk pertanian AS lebih dari 4,5 miliar dolar AS.