Sejumlah perusahaan besar Amerika Serikat akan mendampingi Presiden Donald Trump dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping pada 14–15 Mei. Delegasi bisnis ini didominasi perusahaan yang ingin membahas hambatan usaha dan kepentingan jangka panjang mereka di China, ekonomi terbesar kedua di dunia.
Menurut pejabat Gedung Putih pada Senin (11/5/2026), lebih dari selusin CEO dan eksekutif senior akan ikut dalam kunjungan tersebut. Perusahaan yang disebut masuk dalam rombongan antara lain Tesla, BlackRock, Illumina, Mastercard, dan Visa.
Berbeda dengan kunjungan Trump ke China pada 2017 yang ditandai seremoni serta kesepakatan dagang besar, agenda kali ini dinilai lebih berfokus pada penyelesaian persoalan bisnis yang bersifat jangka panjang. Reva Goujon, ahli strategi geopolitik dari Rhodium Group, menyebut sebagian besar perusahaan hadir untuk menyampaikan tuntutan terkait pasokan bahan baku penting.
“Selain Boeing dan Cargill yang terkait dengan potensi kesepakatan pembelian, perusahaan lainnya terutama hadir untuk menyampaikan tuntutan terkait pasokan input strategis,” kata Goujon.
Sumber yang mengetahui persiapan pertemuan menyebut perusahaan-perusahaan AS berharap pertemuan tingkat tinggi ini dapat membuka jalan bagi persetujuan regulasi, akses pasar, serta peluang investasi baru di China.
Tantangan regulasi di sektor teknologi
Sejumlah perusahaan teknologi disebut menghadapi tekanan regulasi. Meta Platforms, misalnya, dikabarkan berada dalam sorotan setelah otoritas China bulan lalu memerintahkan pembatalan akuisisi startup kecerdasan buatan Manus senilai lebih dari US$ 2 miliar. Beijing juga dilaporkan memperketat pengawasan terhadap investasi AS di sektor teknologi maju domestik.
Tesla menghadapi isu berbeda. Perusahaan ini disebut berisiko terdampak pembatasan ekspor peralatan manufaktur panel surya dari China ke Amerika Serikat, yang dapat menghambat rencana pembangunan atau perluasan fasilitas produksi panel surya di AS.
Pada Maret lalu, Reuters melaporkan Tesla berencana membeli peralatan produksi panel surya senilai US$ 2,9 miliar dari pemasok China, termasuk Suzhou Maxwell Technologies. Transaksi tersebut masih menunggu izin ekspor dari Kementerian Perdagangan China.
Selain itu, Tesla juga tengah mengupayakan persetujuan regulator China untuk memperluas penggunaan sistem bantuan mengemudi Full Self-Driving (FSD) di pasar otomotif terbesar dunia. CEO Tesla Elon Musk sebelumnya mengakui adanya tantangan akibat pembatasan teknologi dari pemerintah AS maupun China, namun ia menyatakan optimistis persetujuan FSD dapat diperoleh tahun ini.
BlackRock dan bank investasi membidik peluang
Dari sektor keuangan, CEO BlackRock Larry Fink turut hadir di Beijing di tengah sorotan terhadap rencana akuisisi pelabuhan senilai US$ 23 miliar yang dipimpin perusahaan tersebut. Akuisisi itu mencakup dua pelabuhan di dekat Terusan Panama milik konglomerasi Hong Kong CK Hutchison.
Beijing mengkritik transaksi tersebut di tengah dorongan Washington untuk mengurangi pengaruh China atas jalur pelayaran strategis itu.
Rombongan juga mencakup CEO Citigroup Jane Fraser dan CEO Goldman Sachs David Solomon. Perusahaan-perusahaan Wall Street disebut terus berupaya memperluas akses ke pasar modal China. Citigroup, misalnya, masih menunggu persetujuan lisensi perusahaan sekuritas yang sepenuhnya dimiliki sendiri di China setelah sebelumnya keluar dari usaha patungan lokal.
Mastercard dan Visa mengejar pasar pembayaran
Mastercard dan Visa juga berharap pertemuan Trump-Xi dapat membantu memperkuat posisi mereka di pasar pembayaran China yang regulasinya ketat. Mastercard pada 2023 menjadi jaringan pembayaran asing pertama yang memperoleh izin memproses transaksi kartu domestik berdenominasi yuan melalui usaha patungan dengan perusahaan lokal NetsUnion.
Sementara itu, Visa masih berupaya memperoleh izin bisnis pemrosesan kartu domestik di China, termasuk harapan untuk dapat memiliki 100% kepemilikan dalam lisensi usaha patungan pada masa depan.
Peluang kesepakatan pertanian
Di luar sektor teknologi dan keuangan, pertemuan Trump dan Xi juga diperkirakan membuka peluang kesepakatan pertanian. Kesepakatan tersebut disebut dapat mencakup peningkatan pembelian gandum dan daging oleh Beijing.
Namun, pelaku pasar menilai kecil kemungkinan China melakukan pembelian besar baru untuk kedelai di luar kesepakatan yang telah dicapai pada Oktober tahun lalu.