BERITA TERKINI
Di Luar Akademi: Jejak Seni dari Pengalaman Hidup hingga Kisah Pelukis Bui Thi Hai Duong

Di Luar Akademi: Jejak Seni dari Pengalaman Hidup hingga Kisah Pelukis Bui Thi Hai Duong

Dalam sejarah seni dunia, akademi kerap dipandang sebagai pintu resmi bagi seniman untuk memulai perjalanan kreatif. Di institusi semacam itu, teknik dilatih, cara berpikir artistik disusun, dan standar estetika diwariskan lintas generasi. Pendidikan akademis pun lama dianggap memberi fondasi profesional yang penting. Namun, perjalanan melukis tidak selalu bermula—atau berakhir—di ruang kelas.

Seiring arus akademis berkembang, sejarah seni juga mencatat jalur lain yang tumbuh secara lebih sunyi: karya-karya yang lahir dari kebutuhan hidup, dari emosi batin yang tidak selalu bisa dijelaskan teori. Di jalur ini, seni tidak hadir sebagai sesuatu yang “diajarkan” secara konvensional, melainkan sebagai pengalaman yang dijalani, direnungkan, dan dipupuk bersama perjalanan pribadi senimannya.

Nama-nama seperti Frida Kahlo, Séraphine Louis, dan Judith Scott kerap disebut sebagai contoh seniman yang tidak bertumpu pada latar akademi bergengsi, bahkan sebagian di antaranya tidak mengenyam pelatihan seni formal. Kendati demikian, karya mereka menunjukkan energi yang berbeda—energi yang bersumber dari pengalaman hidup, keyakinan, kesendirian, serta dorongan untuk hadir dan diakui. Bagi mereka, melukis bukan sekadar pilihan karier, melainkan cara berdialog dengan diri sendiri dan dunia.

Dari sudut pandang ini, akademi tetap menjadi jalur penting, tetapi bukan satu-satunya. Akademi dapat menyediakan alat, metode, dan bahasa visual, namun tidak dapat menggantikan pengalaman hidup yang mentah, intens, dan otentik. Perbedaan latar belakang, situasi, serta jalan menuju seni inilah yang kemudian membentuk keragaman wajah seni kontemporer.

Dalam konteks tersebut, kisah Mayor Bui Thi Hai Duong—pelukis yang saat ini menjabat sebagai spesialis utama di Departemen Kebudayaan dan Seni Biro Urusan Politik, Kementerian Keamanan Publik—menawarkan ruang refleksi. Sebagai petugas polisi, profesi yang lekat dengan disiplin, tanggung jawab, dan ketertiban, ia tidak memasuki dunia lukisan melalui jalur pelatihan profesional. Namun, justru dari situ melukis menjadi ruang spiritual baginya: tempat untuk memperlambat langkah, mendengarkan, dan berhadapan dengan kerja batin yang mendalam.

Dalam narasi yang disampaikan, Bui Thi Hai Duong tidak melukis untuk menegaskan reputasi, dan tidak pula memosisikan diri sebagai penentang akademi. Ia melukis sebagai kebutuhan personal yang dikerjakan terus-menerus dan secara serius. Pada lapisan warna dan sapuan kuasnya, ia menggambarkan adanya pengekangan, keheningan, serta emosi halus—sesuatu yang muncul ketika melukis menjadi bagian dari kehidupan batin, bukan semata produk teknik.

Kisahnya juga memperlihatkan pandangan yang lebih bernuansa tentang peran pelatihan dalam seni rupa. Pendidikan akademis dapat memberi dasar, tetapi bukan satu-satunya ukuran nilai artistik. Pada titik terdalamnya, melukis dipandang sebagai ruang terbuka bagi mereka yang membutuhkannya: sarana untuk memahami diri, menyembuhkan diri, dan terhubung dengan dunia melalui bahasa yang melampaui kata-kata.

Dalam perjalanan berkaryanya, Bui Thi Hai Duong tercatat mengikuti pameran kelompok seperti “Song Duong” dan “Hanoi di Hatiku” yang diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun ke-70 pembebasan ibu kota. Ia juga menggelar pameran tunggal bertajuk “Duong's World - Whispering Drops of Sunlight”.

Kepada publik, ia menjelaskan alasan ia melukis. “Saya melukis untuk menemukan momen ketenangan bagi diri saya sendiri. Ini adalah momen-momen ketika hiruk pikuk kehidupan berhenti, di mana saya dapat mendengarkan gema masa lalu, irama masa kini, dan aspirasi saya untuk masa depan,” ujarnya.

Ia juga mengaku kerap bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang kucari di dunia yang luas ini?” Jawaban yang ia temukan, menurutnya, tidak pernah benar-benar jelas, melainkan berlanjut dalam hari-hari panjang yang sunyi dan pencarian tanpa henti. Dalam fase merasa paling tersesat, melukis hadir dan membawanya memasuki alam emosi yang membuka dunia yang terasa hanya miliknya. Ia menyebut tidak memilih aliran atau mengikuti gaya tertentu, melainkan mengikuti insting.

“Setiap lukisan adalah ‘momen ketenangan’ bagi jiwa, tempat di mana saya menemukan keseimbangan, menyembuhkan diri, dan bangkit kembali dengan nyaman di tengah kelelahan dan kekacauan hidup. Saya tidak melukis mimpi atau harapan; saya melukis hal-hal yang menyentuh kedalaman hati saya, apa yang saya lihat, apa yang saya alami,” tutur Bui Thi Hai Duong. Ia menggambarkan “dunia di dalam diri” yang kadang berwarna biru langit lembut, kadang zamrud yang luas, kadang kabur seperti lautan tenang saat matahari terbenam, atau berkabut seperti puncak gunung di akhir musim dingin. Baginya, setiap karya yang lahir dari jiwanya terasa seperti “setetes sinar matahari pagi yang lembut” yang perlahan membangunkan sesuatu yang dianggap tertidur.

Ia menggambarkan proses melukis sebagai pintu menuju “dunia lain”: ruang emosi, cinta, dan dunia yang mengabaikan hal-hal sepele. Setiap gradasi warna disebutnya sebagai improvisasi spontan, detak yang terkadang rasional namun selalu jujur. Setiap sapuan kuas menjadi sentuhan emosi yang membawanya ke dunianya sendiri—dunia warna dan kedamaian—tempat ia merasa tenang dan dapat menjadi dirinya sendiri.