SURABAYA — Di saat tren joget viral di media sosial seperti TikTok kian mendominasi linimasa, panggung kompetisi tari justru memperlihatkan sisi lain dari ekspresi generasi muda. Sejumlah peserta tidak sekadar bergerak mengikuti irama, melainkan menekuni tubuh, teknik, dan identitas budaya sebagai dasar berkarya.
Dalam kompetisi, mereka menampilkan koreografi yang memadukan unsur tari Nusantara dengan gaya kontemporer, mulai dari hiphop hingga akrobatik. Panggung pun menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini, sekaligus penegasan bahwa budaya dapat terus diperbarui dan tidak berhenti sebagai warisan yang dianggap usang.
Fenomena tersebut disoroti Sekar Alit, salah satu juri iForte National Dance Competition yang digelar di Ciputra Mall Surabaya, Sabtu (17/1/2026). Ia menilai perkembangan ini menggembirakan, terutama dari 21 grup terpilih di Jawa Timur.
“Luar biasa, saya menjadi antusias dan excited karena semakin banyak anak-anak muda khususnya dari genre tari apa pun melebur jadi satu,” ujar Sekar Alit. Ia menjelaskan, persyaratan kompetisi yang mewajibkan unsur Nusantara mendorong peserta untuk belajar, mengenal, dan pada akhirnya berpotensi mencintai budaya Indonesia.
Menurut Sekar, kompetisi yang memadukan unsur budaya Nusantara dapat menjadi sarana pelestarian tradisi sekaligus ruang menyalurkan inspirasi. “Jadi, selama kegiatan seperti ini masih diselenggarakan, anak-anak akan mempunyai wadah untuk menyalurkan inspirasinya dan belajar tentang budaya kita Indonesia. Itu luar biasa sih jadi tidak akan takut generasi muda sekarang tidak kenal budaya,” katanya.
Ia juga menyinggung pengaruh media sosial yang membuat batas antara penari dan bukan penari semakin tipis. “Yang dinilai dari nari itu semua orang saat ini bisa menjadi penari karena adanya TikTok. Semua orang bisa bergerak dan berjoget, tapi untuk mempelajari tadi lebih mendalam tidak semuanya bisa,” ujar perempuan yang juga dosen Jurusan Seni, Drama dan Musik di Universitas Negeri Surabaya tersebut.
Bagi Sekar, pengalaman bertanding di kompetisi merupakan bagian penting dari proses edukasi. Ia menekankan bahwa modal joget viral tidak cukup untuk bersaing di ajang tari yang menuntut penguasaan teknik dan pemahaman tubuh. “Dan yang harus kita lihat saat ini modal joget tiktok itu tidak cukup karena didalamnya ada teknik dan ilmu-ilmu dari tubuh yang menjadi modal utama dari tari. Sehingga yang memenangkan suatu kompetisi Dance itu yang surah menempuh itu,” ujarnya.
Selain aspek teknis, Sekar juga menyoroti kesiapan mental peserta, khususnya dari Jawa Timur, yang dinilainya tampil dengan keseriusan tinggi. Keberanian naik panggung dan berkompetisi, menurutnya, sudah menjadi pencapaian tersendiri bagi para penari muda.

