Sebuah panel diskusi bertema Trend Film Horor 2026 digelar di Pictum Coffee & Kitchen, Pasar Minggu, pada siang hari. Suasana acara dibuat santai, namun tetap diarahkan agar pembahasan berlangsung lugas dan bermanfaat bagi peserta yang hadir.
Mayoritas audiens berasal dari kalangan wartawan, terutama jurnalis yang kerap meliput kegiatan perfilman. Sejumlah mahasiswa dari beberapa kampus juga terlihat hadir. Sepanjang acara, peserta tampak serius mengikuti diskusi.
Diskusi menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Ivan Bandito (sutradara), Arie Pramasaputra (lulusan S2 IKJ dengan tesis tentang film horor nasional), Niniek L. Karim (aktris senior, psikolog, dan dosen), serta Bayu Pamungkas (sutradara). Dari unsur pemerintah, hadir Syaifullah Agam Ph.D, Direktur Musik, Film, dan Seni Kementerian Kebudayaan RI.
Meski datang agak terlambat, pemaparan Syaifullah Agam mengenai situasi pasar dan perkembangan film horor Indonesia menjadi subtema yang melengkapi diskusi. Ia menyinggung bagaimana tren genre dapat berubah ketika kreativitas dan penyajian cerita mulai terasa stagnan, sehingga pasar beralih ke genre lain.
Dalam diskusi itu, film horor—atau “mistik” sebagaimana disebut Niniek L. Karim—dinilai masih memiliki prospek bisnis yang relatif baik hingga awal 2026. Data yang disampaikan menyebutkan bahwa pada 2025 terdapat 201 film yang diproduksi, dan 90 di antaranya merupakan film horor/mistik.
Dari catatan tujuh film terlaris 2025, tiga judul horor/misteri disebut berhasil meraih penonton jutaan. Pabrik Gula mencatat 4,7 juta penonton, disusul Petaka Gunung Gede dengan 3,2 juta penonton, dan Jalan Pulang dengan 2,8 juta penonton. Sementara itu, Kang Solah x Nenek Goyang (komedi horor) meraih 2,4 juta penonton, dan Qodrat 2 disebut menembus angka 2 juta-an penonton.
Tren horor juga terlihat pada daftar film Indonesia terlaris sepanjang masa. KKN di Desa Penari disebut mencapai hampir 10,1 juta penonton dan berada di posisi ketiga. Lalu Pengabdi Setan 2 (Communion) (2022) mencatat 6,391 juta penonton, serta Sewu Dino (2023) meraih hampir 5 juta penonton.
Namun, Syaifullah Agam mengingatkan adanya pelajaran dari fenomena film religi yang pernah menjadi tren dan diproduksi secara masif, lalu stagnan dan perlahan meredup. Ia menilai kejenuhan pasar bisa muncul ketika kreativitas dalam penyajian cerita dan penggambaran film terasa “habis”, sehingga minat menonton menurun dan tren berganti. Dalam konteks terkini, ia menyinggung kuatnya genre komedi, termasuk film Agak Laen 2: Menyala Pantiku yang disebut mencatat sekitar 10,7 juta penonton dalam 50 hari pertama penayangan.
Dari situ, para pembicara menekankan pentingnya kewaspadaan bagi pelaku film horor/mistik agar tidak terjebak pada pola yang membuat penonton jenuh. Dorongan untuk melahirkan ide-ide baru dinilai menjadi kunci agar animo penonton tetap terjaga dan prospek bisnis tidak menurun.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Film Horor (FFH), sebuah festival yang digagas dan dimotori sejumlah wartawan serta pemerhati film nasional, dan belakangan didukung beberapa sineas. Festival ini direncanakan berlangsung sebulan sekali setiap tanggal 13, dan edisi Januari 2026 menjadi penyelenggaraan kedua.
Salah satu agenda utamanya adalah pengumuman film horor terpilih dengan kategori spesifik, meliputi aktor, aktris, sutradara, dan kamerawan. Dewan juri disebut terdiri dari jurnalis pilihan yang melakukan pemilihan secara transparan serta menjaga kredibilitas dan independensi.
Pada FFH edisi Januari 2026, Janur Ireng diumumkan sebagai Film Terpilih. Tora Sudiro (film Janur Ireng) dan Wavi Zihan (film Qorin 2) diumumkan dalam kategori pemeran terpilih. Kimo Stamboel (film Janur Ireng) terpilih sebagai sutradara, sementara Engfar Budiono (film Dusun Mayit) terpilih sebagai kamerawan/DOP.
Dalam diskusi juga muncul gagasan bahwa film horor Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu produsen film horor atau mistik terbaik di level internasional, setidaknya di Asia. Kekayaan ragam cerita dan sosok hantu dari berbagai daerah, termasuk folklore Nusantara, dipandang sebagai modal besar. Meski begitu, pembaruan kreatif tetap dianggap penting, termasuk memanfaatkan kemajuan teknologi dan memperluas subgenre—misalnya menghadirkan thriller tanpa menampilkan sosok hantu, namun tetap mencekam.
Kesimpulan yang mengemuka dari pertemuan tersebut: pasar film horor masih menjanjikan, tetapi keberlanjutan minat penonton sangat bergantung pada kemampuan sineas dan produser menjaga kreativitas agar genre ini tidak mengalami kejenuhan seperti tren-tren yang pernah terjadi sebelumnya.

