BERITA TERKINI
DJ Muro Soroti Tumbuhnya Listening Bar di Jakarta dan Alasan City Pop Populer di Indonesia

DJ Muro Soroti Tumbuhnya Listening Bar di Jakarta dan Alasan City Pop Populer di Indonesia

Di basement Darmawangsa Square, Jakarta Selatan, Bartiga hadir sebagai ruang yang memadukan koleksi piringan hitam dengan suasana bar yang dirancang untuk mendengarkan musik secara saksama. Tempat ini dibangun dengan sistem akustik high-fidelity sehingga pengunjung tetap bisa berbincang tanpa harus berteriak, menciptakan atmosfer yang mendukung obrolan maupun nongkrong santai.

Lewat ruang tersebut, Bartiga memperkenalkan Jakarta x Tokyo Connections (JTC), sebuah seri pertukaran musik dan budaya yang bertujuan menghubungkan Jakarta dan Tokyo. Inisiatif ini mendorong kolaborasi dan dialog antarkota, mempertemukan seniman, DJ, dan komunitas kreatif dari kedua belah pihak, sekaligus membangun hubungan berkelanjutan dengan kolektif serta ruang kreatif di Jepang.

Edisi pertama JTC digelar pada malam pembukaan Bartiga pada April lalu dengan menghadirkan DJ Muro (Takayoshi Murota). Ia dikenal dengan julukan “King of Diggin’” berkat kemampuannya memadukan funk, jazz, boogie, irama Latin, dan hip-hop. Muro juga memandu program radio “King of Diggin’” di Tokyo FM.

Bagi Muro, ketertarikan pada piringan hitam bermula dari hobi semasa SMP yang kemudian membawanya menekuni karier panjang sebagai DJ. Saat berkunjung ke Jakarta untuk pertama kalinya, ia mengaku terkejut mendapati banyak bar yang memiliki koleksi piringan hitam dengan suasana yang mengingatkannya pada listening bar di Tokyo. Ia juga mencatat banyak koleksi piringan hitam asal Jepang di Jakarta, yang menurutnya menunjukkan apresiasi mendalam terhadap musik Jepang dan membuka peluang pertukaran yang lebih besar antara kedua kota.

Dalam pengamatannya, Jakarta dan Tokyo juga dapat saling belajar dari cara komunitas musik bergerak. Muro bercerita saat mengunjungi toko piringan hitam di Jakarta, ia menemukan rilisan Thee Marloes dan langsung menyukainya. Ia lalu mengetahui bahwa pada malam yang sama, unit tersebut tampil dalam format DJ set. Pengalaman itu memperlihatkan kepadanya bahwa band di Jakarta kerap tampil tidak hanya dalam format live di panggung, melainkan juga lewat DJ set—sebuah kebiasaan yang menurutnya bisa mulai diperkenalkan di Tokyo.

Soal listening bar, Muro menilai ruang yang benar-benar ditujukan untuk mendengarkan musik kini memang tidak sebanyak dulu. Namun ia melihat potensi kebangkitan karena adanya permintaan. Ia menyebut listening bar dan toko piringan hitam sama-sama bertumbuh, tidak hanya di Tokyo tetapi juga di Jakarta. Meski pasar piringan hitam sempat menurun, ia menilai minat itu kembali menguat. Menurutnya, orang-orang yang mencintai piringan hitam dan budaya mendengarkan akan selalu ada, sehingga listening bar berpeluang semakin banyak di masa mendatang.

Julukan “King of Diggin’” sendiri, kata Muro, awalnya datang dari temannya dan sempat ia rasakan terlalu berat. Namun karena panggilan itu terus melekat, ia justru terdorong untuk tetap menggali musik dan menemukan piringan hitam baru. Ia mengaku tidak pernah menghitung total koleksinya, tetapi memperkirakan jumlahnya sudah mencapai puluhan ribu.

Ketika menyinggung piringan hitam Indonesia yang menurutnya unik, Muro menyebut Thee Marloes dan mengatakan ia sudah mendengarkan mereka sejak tahun lalu. Ia juga menjelaskan mengapa generasi yang tumbuh dengan streaming tetap bisa tertarik pada piringan hitam. Menurutnya, musik digital bersifat tidak berwujud, sementara piringan hitam menawarkan pengalaman fisik dan ritual: memilih, mengeluarkan piringan, menaruhnya, lalu memutar. Proses itu membuat pengalaman mendengarkan menjadi lebih dari sekadar memutar lagu, dan justru terasa segar bagi anak muda.

Setelah puluhan tahun menjadi DJ, Muro mengatakan hal yang masih membuatnya bersemangat adalah proses kurasi tema. Ia menyebut aktivitas digging yang ia lakukan kini tidak lagi dibatasi genre tertentu, terlebih karena program radionya di Tokyo FM mengangkat tema berbeda setiap pekan.

Di sisi lain, ia mengakui perubahan lanskap koleksi piringan hitam: rilisan langka kini lebih mudah ditemukan secara online, tetapi harganya ikut melonjak. Ia menyoroti City Pop sebagai salah satu genre yang kini menjadi sangat mahal. Menurutnya, pada era 1980-an hingga 1990-an harga rilisan masih terjangkau, namun permintaan yang tinggi membuat harga melompat jauh.

Muro juga mengemukakan pandangannya tentang alasan City Pop populer di Indonesia. Ia menilai ada beberapa faktor, mulai dari struktur musik yang sederhana, melodi yang catchy, hingga penggunaan Bahasa Inggris pada lirik yang simpel, mudah dimengerti, dan gampang dihafal. Ia menambahkan, banyak pendengar merasa lagu-lagu City Pop terasa relatable.

Meski demikian, ia menegaskan makna digging baginya tidak berubah. Ia menyebut tetap memilih berburu rilisan secara fisik, bukan lewat jalur online atau digital. Ketika ditanya piringan yang sudah lama ia cari namun belum ditemukan versi original-nya, Muro menyebut “Linda Carriere Produced by Haruomi Hosono”. Ia menjelaskan Alfa Music sempat merilis ulang, tetapi versi original disebutnya sangat terbatas karena dulu hanya ada test pressing dan tidak pernah dirilis resmi.

Melihat semakin banyak DJ dan kolektor di Jakarta yang serius mendalami piringan hitam, Muro menyampaikan apresiasi. Ia mengatakan menghormati dan berterima kasih kepada kolektor serta DJ Indonesia yang terus mengulik piringan hitam, seraya mendorong agar semangat itu dilanjutkan karena dapat membentuk identitas musik mereka sendiri.