BERITA TERKINI
Perdebatan Video Musik Sơn Tùng M-TP dan Tantangan Menjaga Kedaulatan Budaya di Era Digital

Perdebatan Video Musik Sơn Tùng M-TP dan Tantangan Menjaga Kedaulatan Budaya di Era Digital

Kedaulatan budaya sebuah bangsa tercermin dalam simbol, cerita, dan cara masyarakatnya menuturkan identitas nasional. Dalam beberapa hari terakhir, isu ini kembali mengemuka setelah video musik “Come My Way” dari Sơn Tùng M-TP menyita perhatian publik karena memasukkan beragam elemen budaya Vietnam ke dalam produk musik arus utama yang dikemas dengan nuansa internasional.

Selain musik, visual, mode, koreografi, teknik produksi, dan strategi komunikasi, perbincangan banyak berpusat pada kemunculan simbol-simbol budaya seperti burung Lạc, inspirasi dari pertunjukan rakyat Xuân Phả, serta latar yang mengingatkan pada lanskap, warisan, seni, dan identitas Vietnam.

Salah satu detail yang memicu perdebatan adalah adegan sang artis berdiri atau menunggangi model burung Lạc yang bersifat mitologis. Sebagian menilai hal itu sebagai pendekatan baru yang menggambarkan aspirasi untuk “melambung tinggi” dengan dukungan tradisi, sekaligus berani menjelajah dunia. Namun, pihak lain menyampaikan kekhawatiran karena burung Lạc kerap dikaitkan dengan gendang perunggu Đông Sơn dan dipandang memiliki makna sakral dalam kesadaran nasional, sehingga penggunaannya dinilai perlu sangat berhati-hati.

Di luar perdebatan benar atau salah, isu yang lebih luas mengemuka: pada era digital, kedaulatan budaya tidak hanya dijaga melalui dokumen, lembaga, monumen, museum, atau program diplomasi budaya resmi. Kedaulatan budaya juga hadir dalam setiap gambar, simbol, cerita, serta cara seniman, desainer, pembuat film, dan kreator konten memperkenalkan Vietnam kepada publik domestik maupun internasional.

Jika kedaulatan teritorial berkaitan dengan perbatasan, laut, wilayah udara, dan ruang hidup fisik, maka kedaulatan budaya terkait dengan ingatan kolektif, identitas, sistem nilai, bahasa, simbol, warisan, serta hak suatu bangsa untuk menceritakan kisahnya sendiri. Ketahanan sebuah bangsa dinilai tidak hanya dari kemampuannya menjaga tanah dan laut, tetapi juga dari kemampuannya melindungi identitas budaya dari asimilasi, hibridisasi, peniruan, distorsi, atau pengosongan makna nilai tradisional.

Dalam konteks ini, berbagai unsur seperti burung Lạc, gendang perunggu, áo dài, lukisan rakyat, pertunjukan rakyat Xuân Phả, nyanyian rakyat Quan Họ, Ca Trù, Hát Xoan, Đờn ca tài tử, gong Dataran Tinggi Tengah, pemujaan Dewi Ibu, hingga situs-situs warisan seperti Hội An, Tràng An, Huế, Hạ Long, Yên Tử, Vĩnh Nghiêm, Côn Sơn – Kiếp Bạc dipandang bukan sekadar elemen artistik. Unsur-unsur tersebut membawa sejarah panjang, kedalaman spiritual, daya hidup, serta tanggung jawab budaya ketika dimasukkan ke dalam produk pasar massal.

Dari sudut pandang ini, pilihan seniman muda untuk memasukkan unsur budaya nasional dalam produk hiburan dinilai sebagai sinyal positif. Hal itu menunjukkan generasi muda tidak sepenuhnya berpaling dari tradisi, melainkan berupaya terhubung kembali dengan warisan melalui bahasa generasinya—musik, mode, film, grafis, permainan, media sosial, pertunjukan panggung, dan teknologi digital. Sebuah karya populer dapat menjadi “titik sentuh” yang mendorong rasa ingin tahu: penonton yang belum pernah membaca kajian tentang gendang perunggu Đông Sơn, misalnya, bisa mulai mencari tahu setelah melihat burung Lạc dalam video musik; audiens internasional yang tidak mengenal Xuân Phả dapat terdorong menelusurinya setelah menyaksikan visual yang dianggap unik dan kaya budaya.

Namun, kekuatan lunak hanya menjadi kekuatan yang nyata jika dibangun di atas pemahaman dan rasa hormat. Ketika warisan budaya dipakai sekadar sebagai hiasan, properti, atau alat sensasi jangka pendek, budaya berisiko terkikis. Dalam skenario yang lebih buruk, simbol nasional dapat kehilangan makna, terkomersialisasi secara dangkal, atau disalahpahami bahkan di dalam komunitasnya sendiri.

Karena itu, perlindungan kedaulatan budaya tidak dipahami sebagai upaya membangun penghalang yang membuat seniman muda takut berinteraksi dengan warisan. Sebaliknya, perlindungan dimaknai sebagai upaya membantu generasi muda memahami lebih dalam agar berkarya lebih akurat, mencintai warisan agar mampu mentransformasikannya dengan halus, serta berintegrasi secara percaya diri tanpa kehilangan identitas. Budaya dinilai tidak dapat dilindungi dengan cara “dibekukan”; ia justru terlindungi ketika terus hidup, dipraktikkan, diciptakan, dan diwariskan dalam bentuk baru.

Sejumlah contoh internasional kerap dijadikan pembanding: Korea Selatan memperkenalkan K-pop ke dunia sambil mengintegrasikan unsur identitas Korea; Jepang membangun daya tarik global anime, manga, dan gim dengan mengolah estetika dan tradisi; India mengangkat Bollywood beserta sari, tarian, mitologi, dan festival; Thailand mengolah kuliner, Buddhisme, festival, kostum, dan kehidupan lokal menjadi daya tarik bagi pariwisata, film, mode, dan media. Pelajarannya, identitas yang jelas dipandang sebagai modal untuk berdialog setara dengan budaya lain.

Dari perdebatan seputar video musik tersebut, muncul pula gagasan bahwa situasi ini dapat dilihat sebagai peluang: peluang bagi publik untuk membicarakan lebih jauh burung Lạc, gendang perunggu Đông Sơn, Xuân Phả, dan seni Vietnam; peluang bagi seniman muda untuk menyadari bahwa penggunaan simbol budaya berarti ikut menuturkan kisah nasional; serta peluang bagi peneliti, pengelola, media, pendidik, museum, dan pelaku industri kreatif untuk membangun lingkungan budaya yang lebih sehat—di mana warisan dihormati sekaligus direvitalisasi.

Dalam arus globalisasi dan media digital, penyebaran produk budaya populer berlangsung sangat cepat. Video musik dapat melintasi batas negara dalam hitungan jam, sementara gambar, pakaian, simbol, lirik, atau adegan dapat membentuk persepsi publik internasional tentang Vietnam. Karena itu, seniman, selebritas, dan kreator konten dipandang tidak hanya sebagai penghibur, melainkan juga “duta budaya” tidak resmi—peran yang bernilai sekaligus memikul tanggung jawab lebih besar.

Tanggung jawab tersebut mencakup fondasi pengetahuan, rasa hormat, dan kesadaran sosial. Pencipta dinilai perlu memahami asal-usul simbol, komunitas pemiliknya, makna, konteks penggunaan, serta aspek sakral atau sensitifnya. Rasa hormat dipahami sebagai kemampuan memperbarui tanpa mendistorsi, mendobrak batas tanpa merendahkan, dan mengintegrasikan simbol ke dalam kehidupan modern sambil menjaga martabat budaya. Sementara itu, tanggung jawab sosial tercermin dalam riset, konsultasi dengan ahli, antisipasi reaksi publik, kesediaan memberi penjelasan bila diperlukan, dan kemauan mendengar umpan balik.

Dalam industri budaya yang maju, keberadaan penasihat budaya dalam proyek film, mode, teater, gim, dan periklanan disebut sebagai praktik yang lazim. Penasihat budaya diposisikan bukan untuk menyensor kreativitas, melainkan membantu karya menjadi lebih akurat, lebih dalam, dan menghindari kesalahan yang tidak perlu. Kebutuhan serupa dinilai relevan: tersedianya tempat konsultasi, ahli untuk berdialog, basis data untuk riset, serta koneksi dengan museum dan komunitas pemilik warisan.

Di sisi lain, tanggung jawab tidak diletakkan hanya pada seniman. Jika generasi muda diharapkan berkarya dengan cermat, sistem pendidikan, museum, media, penelitian, dan pengelolaan budaya juga dinilai perlu menyediakan sumber pengetahuan yang lebih mudah diakses. Reformasi pendidikan budaya diarahkan pada pembelajaran berbasis pengalaman dan kreatif—mulai dari kunjungan museum yang lebih menarik, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sejarah, pertemuan dengan pengrajin, partisipasi dalam festival, hingga praktik membuat produk yang berangkat dari warisan.

Gagasan lain yang mengemuka adalah pembangunan basis data digital budaya Vietnam. Simbol, pola, bahan, bentuk seni, festival, kostum, kerajinan tradisional, dan situs warisan dinilai perlu didigitalisasi, dijelaskan secara jelas, didokumentasikan asal-usulnya, disertai pedoman penggunaan, serta dilengkapi perlindungan hak cipta dan mekanisme berbagi yang sesuai. Dengan akses pada sumber yang andal, risiko penyalahgunaan atau pemakaian dangkal diharapkan dapat berkurang.

Pada akhirnya, perdebatan yang muncul dari sebuah karya populer menegaskan kembali satu hal: kedaulatan budaya tidak hanya berada di ranah kebijakan dan institusi, tetapi juga di ruang-ruang kreatif yang setiap hari dikonsumsi publik. Di era ketika satu video dapat membentuk persepsi global, diskusi tentang cara menggunakan simbol budaya secara tepat menjadi bagian dari upaya menjaga identitas—sekaligus memastikan warisan tetap hidup melalui tafsir yang bertanggung jawab.