Di sebuah ruang kecil di lantai 3 Pusat Pertukaran Budaya Kawasan Kota Tua Hanoi, Jalan Dao Duy Tu No. 50, grup Dong Kinh Ancient Music menggelar pertunjukan musik tradisional dengan konsep sederhana. Tanpa panggung gemerlap, tanpa tata teknis rumit, dan tanpa perangkat penguat suara, para seniman menghadirkan musik dalam bentuk yang mendekati keadaan aslinya: melodi tradisional yang berpadu dengan lirik, mengisi ruang dengan suasana tenang dan intim.
Kedekatan jarak antara penonton dan penampil membuat detail ekspresi serta nuansa vokal terdengar jelas. Dalam satu rangkaian pertunjukan, penonton dapat menyimak kesungguhan ca trù, kemanisan liris chèo, hingga pesona sehari-hari xẩm. Atmosfer seperti ini kerap mengingatkan pada rumah komunal desa, tempat musik menjadi bagian dari kehidupan komunitas.
Selama bertahun-tahun, Dong Kinh Ancient Music mempertahankan semangat menghormati keaslian dan kesederhanaan musik tradisional Vietnam, baik dari pilihan ruang pertunjukan maupun cara memainkan dan menyanyikannya. Program rutin mereka bertajuk “Kisah Musik Kawasan Tua” perlahan menjadikan alamat di Jalan Dao Duy Tu No. 50 sebagai titik temu bagi pencinta musik tradisional di Hanoi.
Kelompok ini beroperasi secara nirlaba. Seluruh program dibuka untuk umum dan disebut hanya memerlukan dukungan tempat dari Dewan Pengelola Danau Hoan Kiem dan Kawasan Kota Tua Hanoi. Meski demikian, Dong Kinh Ancient Music tetap menarik kehadiran seniman-seniman senior di bidang musik dan seni tradisional, di antaranya Seniman Rakyat Manh Phong, Man Thu, Thanh Hoai, Xuan Hoach, Thanh Binh, Minh Gai, Thuy Ngan, dan Hong Khiem, serta kontribusi beberapa dosen muda dari Akademi Musik Nasional Vietnam. Pertunjukan mereka juga kerap didampingi seniman seperti Grand Master Nguyen Thi Khuou, penyanyi folk Hue Thanh Tam, dan seniman musik Istana Kerajaan Tran Thao.
Kepala grup, seniman Dam Quang Minh, menilai ikatan yang menyatukan para seniman adalah cinta dan dedikasi terhadap musik tradisional Vietnam. Menurutnya, setiap kali tampil mereka bukan hanya menjadi penampil, melainkan juga penjaga, penyebar, dan penerus nilai seni leluhur.
Dam Quang Minh merupakan ekspatriat Vietnam yang tinggal di Prancis. Ia mengaku mencintai musik rakyat Vietnam sejak kecil, berkat perjumpaan dengan seniman seperti Quach Thi Ho dan Nguyen Thi Phuc, serta dorongan ayah angkatnya, penyair Ngo Linh Ngoc. Di Prancis, kedekatannya dengan Profesor dan Doktor Tran Van Khe serta komposer Ton That Tiet disebut semakin meneguhkan kecintaannya pada musik tradisional.
Ia kemudian memutuskan meninggalkan Prancis dan kembali ke Vietnam. Bersama mendiang musisi Vu Nhat Tan, ia mendirikan grup Dong Kinh Co Nhac pada 2014. Kelompok ini bermula dari kolaborasi dengan seniman Huong Thanh dalam program yang membawa musik tradisional Vietnam ke Prancis pada rangkaian Tahun Vietnam di Prancis. Setelah dua pertunjukan, mereka kembali ke Vietnam dan memperkenalkan diri kepada publik lewat konser “Suara Bambu dan Sutra” di Institut Prancis di Hanoi.
Dam Quang Minh menjelaskan, nama “Dong Kinh” merujuk pada Thang Long—nama ibu kota pada masa Dinasti Le—serta sebutan Barat untuk Vietnam utara. Nama itu, menurutnya, mencerminkan kedalaman budaya Thang Long sekaligus menumbuhkan rasa akrab bagi teman-teman internasional.
Dalam perjalanannya, Dong Kinh Ancient Music tidak hanya menampilkan dan merestorasi karya-karya kuno. Kelompok ini juga mengeksplorasi kemungkinan pertemuan musik tradisional dengan bahasa seni lain. Di sejumlah kesempatan, unsur yang tampak berbeda dipadukan menjadi sajian yang selaras, seperti lirik Trịnh Công Sơn yang terjalin dengan musik tradisional Huế, interpretasi modern musik tradisional dengan puisi Jerman, hingga fusi dengan musik revolusioner.
Upaya tersebut dipandang sebagai cara memperluas batas kreativitas musik tradisional agar tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan tetap bergerak mengikuti semangat zaman. Dalam proses penyusunan pertunjukan, Dam Quang Minh kerap disebut sebagai pengarah alur. Ia memanfaatkan pengetahuan bahasa dan sejarah untuk menyusun berbagai elemen menjadi struktur pertunjukan baru. Ia berangkat dari keyakinan bahwa dalam bahasa Vietnam, nada merupakan “not” alami; karena itu, nada ditempatkan sebagai pusat agar lirik terdengar wajar dan tidak dipaksakan.
Seniman Rakyat Minh Gai, salah satu tokoh opera tradisional Vietnam yang terlibat sejak awal, menyebut ruang pertunjukan ini bukan sekadar panggung, melainkan ruang kreatif khusus bagi seni tradisional. Meski kelompok berjalan nirlaba, ia dan banyak seniman lain tetap bertahan karena kegembiraan menjalani profesi sekaligus menyebarkan nilai budaya.
Minh Gai mengungkapkan bahwa di tempat ini ia memperoleh pengalaman artistik baru. Ia mengenang pernah memerankan Ho Nguyet Co dengan mengenakan ao dai, bukan kostum opera tradisional. Melodi dan ritual khas opera tetap dipertahankan, namun pertunjukan terasa lebih mudah dipahami. Ia juga menyebut kesempatan mempelajari bentuk seni lain turut memperkaya keterampilan profesionalnya.
Ketika memperkenalkan musik tradisional Vietnam ke berbagai ruang pertunjukan di Kota Tua Hanoi, juga ke sekolah dan pusat kebudayaan di dalam maupun luar negeri, para seniman Dong Kinh Ancient Music mengaku terharu melihat respons generasi muda dan wisatawan internasional. Mereka menyebut ada penonton yang secara proaktif mencari para seniman untuk menyatakan minat belajar memainkan alat musik, bernyanyi, dan meneliti musik tradisional Vietnam.
Bagi anggota kelompok, respons semacam itu menjadi “penghargaan” paling berharga sekaligus penanda bahwa upaya pelestarian dan penyebaran yang mereka lakukan tidak sia-sia. Setelah lebih dari 10 tahun menjalankan “Kisah Musik Kota Tua,” mereka menyatakan tekad untuk melanjutkan jalur tersebut. Mulai 2026, perjalanan itu disebut akan diperluas melalui seri “Musik Kita - Rumah Kota,” yang menegaskan dialog antara “musik kita”—musik leluhur—dan “rumah kota” sebagai simbol kehidupan perkotaan modern, agar suara bangsa tidak hanya tinggal dalam ingatan, tetapi terus hadir dalam arus kehidupan hari ini.

