Dua pianis Vietnam, Luu Hong Quang (lahir 1990) dan Luu Duc Anh (lahir 1993), berbagi pengalaman mereka menekuni musik sejak usia dini hingga membangun arah karier di dunia piano klasik. Keduanya tampil memainkan piano besar Bösendorfer VC280, sekaligus membahas bagaimana disiplin dan definisi aspirasi menjadi fondasi perjalanan panjang seorang musisi.
Luu Duc Anh, yang kini dikenal sebagai dosen termuda di Akademi Musik Nasional Vietnam sejak 2018, mengatakan ketertarikannya pada musik pada awalnya tidak serta-merta berangkat dari keputusan pribadi untuk berkarier. Ia menilai banyak anak belajar musik karena arahan orang tua. Dalam kasusnya, orang tua dan guru pertamanya memiliki pandangan yang sama: belum tentu anak akan menjadi profesional, tetapi proses belajar harus dijalani secara serius dan terstruktur.
“Studi musik awal saya tidak terlalu terfokus; saya cukup suka bermain-main. Baru di sekolah menengah saya secara bertahap menyadari bahwa saya ingin mengejar karier musik profesional,” kata Duc Anh. Sejak itu, ia merasa musik menjadi bagian yang melekat dalam hidupnya.
Sementara itu, Luu Hong Quang, yang saat ini mengajar di Konservatorium Musik Selandia Baru, mengisahkan pengalaman masa kecilnya berlatih dengan pengawasan ketat dari ayahnya. Ia dan saudara laki-lakinya bersekolah pada siang hari dan baru berlatih alat musik pada malam hari. Setelah latihan, sang ayah akan memeriksa mereka dengan disiplin. Quang mengenang, ia dan saudaranya bahkan sempat bermain batu-gunting-kertas untuk menentukan siapa yang berlatih lebih dulu—karena yang berlatih belakangan bisa menonton acara TV favorit terlebih dahulu.
Dalam percakapan mengenai pentingnya bakat, keduanya menekankan bahwa fondasi seni—terutama musik klasik—menuntut penguasaan teknik dan teori yang dipahami secara menyeluruh sebelum dapat diterapkan. Menurut mereka, aspek yang tak kalah penting dari bakat adalah “cinta tanpa syarat” terhadap musik, meski pada usia anak-anak, perasaan itu belum tentu dapat diungkapkan secara jelas.
Saat ditanya soal prinsip membangun kebiasaan untuk tujuan jangka panjang, Duc Anh menegaskan disiplin sebagai kebutuhan utama. Namun, ia menilai kondisi saat ini berbeda dengan masa lalu. “Saat ini, anak-anak memiliki akses ke begitu banyak hal,” ujarnya, merujuk pada tantangan menerapkan rutinitas latihan yang sama seperti generasinya dulu.
Meski begitu, ia percaya bahwa tanpa disiplin yang sejati, perjalanan di “jalan raya musik” hanya akan menempuh jarak pendek. Ia menekankan pentingnya mengubah disiplin yang dipaksakan menjadi disiplin diri—topik yang kerap ia diskusikan bersama para orang tua sebagai kunci keberhasilan jangka panjang.
Quang menyambung gagasan itu dengan metafora: “Tiket disiplin” diperlukan untuk menyeberangi “jembatan panjang” dalam perjalanan musik. Ia juga menilai kompetisi dapat menjadi sarana—seperti jembatan, perahu, atau gerbang—untuk mendekatkan diri pada musik dan mencapai tujuan lebih cepat. Namun, ia menekankan bahwa yang terpenting adalah mendefinisikan aspirasi.
Quang menggambarkan kompetisi sebagai “permainan” yang bisa dipahami dalam dua jenis. Pertama, permainan yang bertujuan menang dan selesai di titik akhir. Kedua, permainan yang dimainkan untuk terus bermain tanpa berhenti—sebuah perjalanan tanpa batas ruang dan waktu. Menurutnya, jenis kedua itulah yang mencerminkan cinta sejati pada musik.
Duc Anh juga menceritakan pengalamannya saat pertama kali belajar di luar negeri, ketika ia merasa terinspirasi karena musik klasik dapat ditemui di banyak tempat. Namun selama masa studi, ia tetap sering kembali ke Vietnam untuk tampil. Dari situ, ia menyadari adanya ruang yang mendukung untuk mewujudkan rencana-rencananya di tanah air. Pada 2018, ia memutuskan kembali ke Vietnam untuk menjalankan berbagai proyek di samping tampil dan mengajar.
Ia menyebut penyelenggaraan Kompetisi dan Festival Piano Internasional Vietnam (VIPCF 2025) pertama pada tahun lalu yang menarik ratusan peserta dari berbagai negara. Program itu disponsori oleh Orkestra Simfoni Vietnam, Institut Fryderyk Chopin (Polandia), dan Bösendorfer (Austria). Ia juga menjelaskan bahwa piano besar Bösendorfer VC280 yang dimainkan dalam konser di Konservatorium pada 8 Mei bernilai lebih dari 10 miliar VND dan disumbangkan Bösendorfer pada tahun lalu untuk mendukung kompetisi tersebut. Kompetisi kedua direncanakan berlangsung pada 2027.
Menanggapi anggapan bahwa musisi yang tumbuh di Eropa memiliki keuntungan lebih besar, Duc Anh menyatakan ia tidak sepenuhnya setuju. Ia meyakini pencapaiannya dibentuk oleh keadaan, lingkungan, serta faktor negara dan keluarga yang ia alami sejak kecil.
Ditanya mengenai perbedaan praktik pengajaran di dalam dan luar negeri, Quang—yang pernah mengajar di Australia dan kini di Selandia Baru—mengatakan musik pada dasarnya sama di mana pun: not, harmoni, teknik, dan teks tertulisnya tidak berubah. Menurutnya, perbedaan lebih banyak terletak pada interaksi antarmanusia. Ia menilai di dalam negeri terdapat kekuatan berupa keseragaman sistem pelatihan serta banyaknya seniman muda dan profesor dengan fondasi teknik dan akademik yang kuat—sebuah dasar untuk membangun capaian yang lebih tinggi.