Empat film Indonesia dijadwalkan melakukan pemutaran perdana dunia (world premiere) di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026. Kabar ini disampaikan para pembuat film melalui unggahan di media sosial masing-masing, dengan ragam genre dan tema yang berbeda—dari fiksi berbalut sejarah, drama psikologis, hingga docufiksi.
Film pertama adalah Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi karya sutradara Hanung Bramantyo. Melalui unggahan di Instagram, Hanung menyebut film tersebut akan world premiere di IFFR 2026 dengan judul internasional The Hole (309 days before Tragedy). Ia juga menegaskan film itu akan diputar tanpa sensor selama penayangannya di festival.
Diproduksi oleh Adhya Pictures dan Dapur Film, Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi mengajak penonton mengikuti kisah pembunuhan berantai yang dibingkai dengan sentuhan sejarah. Kasus pembunuhan digambarkan terjadi setiap tanggal 30, dengan latar Lubang Buaya pada era 1960-an. Film ini dibintangi Baskara Mahendra dan Carissa Perusset.
Film kedua, Sola Fata, disutradarai Timoteus Anggawan Kusno. Sang sutradara juga mengonfirmasi melalui akun Instagram resminya bahwa Sola Fata akan tayang perdana di IFFR 2026. Film yang dibintangi Retno Hermanto dan Enji Sekar ini berkisah tentang seorang penjelajah yang datang ke wilayah tropis untuk mendokumentasikan dunia asing, namun perlahan kehilangan batas antara realitas dan imajinasi.
Berikutnya adalah Hikayat Hayat Tanah Bayah arahan Badrul Munir. Film ini mengangkat kearifan lokal masyarakat Desa Bayah, Lebak, Banten, dengan fokus pada tradisi “Bayah bakal dikumbah” atau “Bayah akan dicuci”. Tradisi tersebut dipercaya sebagai ritual untuk membersihkan desa dari energi dan hal-hal buruk yang mengganggu keseimbangan hidup masyarakat. Film ini disebut siap world premiere di IFFR 2026 dengan judul internasional The Waves Saga.
Film keempat adalah docufiksi Golden Island karya sutradara Arief Budiman, berlatar di “kota emas”. Film ini mengikuti kisah dua videografer, Arief dan Edi, yang saling bertukar kenangan serta imajinasi tentang Papua melalui rekaman yang mereka ambil. Keduanya merefleksikan latar belakang yang kontras: Arief merupakan pemuda asal Jawa, sedangkan Edi lahir dan besar di Papua.
Dalam unggahan di Instagram, Arief Budiman menjelaskan arsip visual yang digunakan menghadirkan imajinasi utopis tentang keindahan lanskap Papua, sekaligus menyoroti ironi realitas di baliknya, terutama terkait dominasi orang Jawa dan keberadaan militer.
Keempat judul tersebut menjadi deretan film Indonesia yang diumumkan akan melakukan world premiere di IFFR 2026, menampilkan spektrum cerita dan pendekatan sinematik yang beragam.

