BERITA TERKINI
Empat Siswa SMA Nuris Jember Raih Juara di FLS2N Kabupaten Lewat Karya Bertema Budaya Lokal

Empat Siswa SMA Nuris Jember Raih Juara di FLS2N Kabupaten Lewat Karya Bertema Budaya Lokal

Empat siswa SMA Nuris Jember meraih prestasi pada ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten yang digelar Selasa (17/6). Mereka membawa pulang gelar juara dari empat cabang lomba berbeda, melalui karya-karya yang menonjolkan tema seni, sastra, dan budaya lokal.

Para siswa tersebut adalah Fairus D. L. (XI IPS 2) yang meraih juara 1 menulis cerpen, Faniyati Wardhani (XI IPA 1) juara 1 cipta puisi, Aditya Ardiansyah (XI MIPA 3) juara 1 jurnalistik, serta Nadina Salsabila (X.1) yang meraih juara harapan 2 monolog.

Di cabang jurnalistik, Aditya Ardiansyah mengangkat potensi lokal lewat feature berjudul “Menyingkap Arti Pendidikan di Denting Gamelan”. Ia menyebut gagasan tulisan itu berangkat dari organisasi seni di sekolah, Nuris van Java. “Inspirasi saya datang dari organisasi seni di sekolah, Nuris van Java. Saya merasa banyak yang lupa bahwa gamelan adalah jati diri kita,” ujarnya. Aditya menuturkan ketertarikannya pada dunia jurnalistik karena menyimpan banyak potensi ilmu untuk digali. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk menulis lebih banyak berita dan artikel, hingga membuat karya novel.

Sementara itu, Fairus D. L. tampil pada cabang menulis cerpen dengan karya yang menggali makna alat musik tradisional gondang atau glundengan khas Jember. Ia mengatakan cerpennya dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya daerah yang mulai dilupakan generasi muda. Ide tersebut muncul ketika ia menelusuri berbagai seni budaya lokal Jember. “Tapi soal jiwa,” tutur Fairus, menegaskan ekspresi diri baginya tidak sekadar mengikuti tren.

Pada cabang cipta puisi, Faniyati Wardhani mengusung tema ekspresi seni dan inspirasi negeri. Puisinya menggambarkan kegelisahan masyarakat yang dinilai mulai abai terhadap seni tradisional. “Saya ingin tulisan saya bukan sekadar tulisan, tapi pembelaan atas apa yang nyaris hilang,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa capaian tersebut tidak lepas dari dukungan sekolah dan para pembimbing. “SMA Nuris sangat mendukung. Tentor kami luar biasa dalam membimbing dan memberikan semangat,” ujarnya.

Di cabang monolog, Nadina Salsabila memerankan tokoh Kinanti, seorang santri perempuan yang menghadapi tragedi keluarga. Nadina mengaku sempat menangis sebelum tampil dan merasa hal itu membantunya lebih menjiwai karakter. Ia juga menyebut dukungan guru, pembina seni, dan orang tua menjadi penguat dalam prosesnya.

Keempat siswa menilai seni bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan ruang ekspresi, bentuk kepedulian, serta cerminan identitas. Mereka juga menjalani pembinaan intensif dalam persiapan lomba, termasuk menyisihkan sebagian waktu belajar untuk mengasah karya. Bagi mereka, capaian di FLS2N tidak hanya bermakna piala, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus berkarya, mulai dari rencana menerbitkan buku, membuat film, hingga menekuni jurnalistik secara profesional.