BERITA TERKINI
Enam Novel yang Paling Dinanti pada 2026, dari George Saunders hingga Emily St. John Mandel

Enam Novel yang Paling Dinanti pada 2026, dari George Saunders hingga Emily St. John Mandel

Tahun 2026 diperkirakan menjadi tahun yang ramai bagi fiksi sastra, dengan sejumlah novel baru dari penulis mapan maupun nama-nama yang tengah naik daun. Ada yang menandai kembalinya peraih penghargaan besar, ada pula debut prosa yang disebut-sebut berbeda dari karya fiksi lain saat ini. Berikut enam judul yang dinilai paling dinanti, lengkap dengan jadwal rilis dan gambaran cerita masing-masing.

1. “Vigil” — George Saunders (27 Januari 2026)
George Saunders, yang selama puluhan tahun dikenal luas lewat cerita pendek, merilis novel keduanya berjudul “Vigil”. Seperti “Lincoln in the Bardo” (2017), novel ini bergerak di ruang liminal antara hidup dan mati. Tokoh utamanya, Jill “Doll” Blaine, diceritakan kembali ke bumi untuk mengantar jiwa lain menuju alam baka. Setelah 343 kali menjalankan tugas tersebut, ia bertemu K. J. Boone, sosok jiwa yang digambarkan kuat dan tanpa penyesalan. “Vigil” menghadirkan humor khas Saunders dalam mengolah trope psikopomp—pemandu jiwa—sekaligus menjanjikan pengamatan tajam terhadap sisi gelap kehidupan.

2. “Last Night In Brooklyn” — Xochitl Gonzalez (21 April 2026)
“Last Night In Brooklyn” menjadi novel ketiga Xochitl Gonzalez setelah “Olga Dies Dreaming” (2022) dan “Anita de Monte Laughs Last” (2024) yang sama-sama menuai pujian kritis. Gonzalez juga tercatat sebagai finalis Pulitzer untuk tulisan non-fiksinya yang diterbitkan The Atlantic. Novel terbarunya berpusat pada Alicia Canales Forten, perempuan 26 tahun yang merasa tercekik oleh masa depannya. Setelah menjelajahi Fort Greene, Brooklyn, ia tertarik pada kehidupan para seniman kreatif dan memutuskan pindah ke sana. Alicia lalu terpikat pada La Garza, desainer mode yang pesta-pestanya disebut melegenda. Ketika sepupu Alicia yang kaya ikut pindah ke lingkungan itu, Alicia kian terseret dalam dinamika berisiko yang melibatkan La Garza dan sang sepupu. Latar Brooklyn dua dekade silam menjadi panggung bagi kisah yang menangkap masa transformatif pembentukan reputasi Brooklyn seperti dikenal sekarang.

3. “Canon” — Paige Lewis (19 Mei 2026)
Paige Lewis, yang sebelumnya menerbitkan kumpulan puisi “Space Struck” (2019), memulai debut novel lewat “Canon”. Ulasan awal menyebut novel ini sebagai karya yang “singular” dan tidak menyerupai fiksi lain yang beredar saat ini. Dalam sinopsisnya, Yara dipilih Tuhan untuk membunuh Dominic, pemimpin kejam pasukan Orang Jahat. Setelah dibuang keluarga dan terombang-ambing dalam relasi yang merusak, Yara memulai perjalanan berbahaya untuk menyiapkan misinya. Di sisi lain, Adrena—seorang nabi yang kecewa dan menyimpan kekuatan rahasia menakutkan—bertekad menjadi pahlawan dalam kisah ini. Dukungan blurb dari Karen Russell dan Danez Smith menyoroti unsur humor yang dipakai Lewis untuk mengurai tema emosional yang kompleks.

4. “Cool Machine” — Colson Whitehead (21 Juli 2026)
Colson Whitehead menutup rangkaian “Harlem Trilogy” lewat “Cool Machine”, setelah “Harlem Shuffle” (2021) dan “Crook Manifesto” (2023). Ini merupakan novel kesepuluh Whitehead, penulis yang sepanjang kariernya meraih atau masuk nominasi berbagai penghargaan sastra penting, termasuk dua Hadiah Pulitzer untuk fiksi. Berlatar New York City pada 1981, ketika kota mulai bangkit dari kehancuran finansial, cerita mengikuti Ray Carney, pemilik bisnis sukses di Harlem. Ketika bank menolak memberi pinjaman kepada istrinya untuk membuka agen perjalanan baru, Carney mengambil risiko dengan satu perampokan terakhir. Keputusan itu membuatnya terjerat dengan dalang kriminal legendaris, sekaligus menjadi penutup saga kriminal yang luas dalam trilogi tersebut.

5. “Etna” — Paul Yoon (4 Agustus 2026)
“Etna” adalah novel ketiga Paul Yoon dan menjadi karya fiksi panjang pertamanya dalam lima tahun terakhir. Yoon juga dikenal lewat tiga koleksi cerita pendek, sehingga “Etna” merupakan buku keenamnya secara keseluruhan. Novel ini digambarkan sebagai “Homeward Bound” versi distopia. Cerita berlatar di negara fiksi pada masa kini dan disampaikan melalui sudut pandang seekor anjing mantan militer bernama Etna. Setelah bertahun-tahun bertahan dalam perang yang menghancurkan, Etna memutuskan meninggalkan orang-orang yang pernah ia perjuangkan dan mencoba pulang ke tempat asalnya—lokasi ia diambil ketika masih muda—dengan harapan tipis bahwa rumah mungkin masih ada untuknya. Ulasan awal menggambarkannya sebagai kisah penuh harapan yang memakai protagonis non-manusia untuk mengungkap kebenaran mendalam tentang pengalaman manusia.

6. “Exit Party” — Emily St. John Mandel (17 September 2026)
Emily St. John Mandel merilis novel ketujuhnya, “Exit Party”, setelah dikenal luas lewat “Station Eleven” (2014) yang diadaptasi menjadi serial terbatas HBO pada 2021. Dalam karya-karyanya, termasuk “Sea of Tranquility” (2022), Mandel kerap menaruh perhatian pada masa depan dekat maupun jauh serta kondisi peradaban. “Exit Party” bergerak di wilayah itu, dimulai di Amerika Serikat beberapa tahun dari sekarang ketika keretakan negara membesar. Sinopsis menyebut, pada 2031 Amerika berperang dengan dirinya sendiri. Ari, yang baru bebas dari penjara, datang ke sebuah pesta di Los Angeles pada awal era baru yang rapuh—namun ada orang-orang di pesta itu yang seharusnya tidak ada. Bertahun-tahun kemudian, saat menjalani kehidupan berbeda di Paris, Ari tetap dihantui malam tersebut; sesuatu yang terjadi di sana mengguncang rasa realitasnya dan mungkin menyimpan kunci menuju dunia yang sangat berbeda.

Dengan rentang tema dari ruang antara hidup dan mati, potret Brooklyn yang berubah, hingga distopia dan saga kriminal Harlem, enam judul ini menawarkan spektrum cerita yang luas. Jadwal rilisnya tersebar sepanjang 2026, dari Januari hingga September, dan memperlihatkan bagaimana tahun tersebut berpotensi menjadi momen penting bagi fiksi sastra.