Tahun 2026 semula diproyeksikan menjadi momen pembuktian bagi Timur Tengah untuk menguatkan posisi sebagai pusat baru pariwisata, olahraga, dan teknologi. Namun, eskalasi militer antara Iran dan aliansi Israel–Amerika Serikat mengubah rencana tersebut menjadi periode penuh ketidakpastian, termasuk potensi pembatalan sejumlah agenda prestisius yang telah disiapkan bertahun-tahun.
Dampak sosial dan ekonomi pertama terlihat pada perayaan Idulfitri 1447 H yang jatuh pada pertengahan Maret 2026. Di tengah ancaman serangan udara dan penutupan wilayah udara (no-fly zones), antusiasme perjalanan regional serta kunjungan umrah ke Arab Saudi dilaporkan menurun drastis. Kondisi ini turut menekan sektor ritel dan pariwisata yang biasanya meraup lonjakan pendapatan selama periode Lebaran, seiring pembatalan penerbangan dan menurunnya daya beli karena masyarakat memilih menyimpan dana darurat.
Ketidakpastian juga membayangi agenda olahraga internasional. Formula 1 Saudi Arabian Grand Prix di Jeddah, yang dijadwalkan menjadi sorotan dunia pada Maret, disebut berpotensi ditunda. Pengalaman serangan rudal di dekat sirkuit pada tahun sebelumnya membuat tim internasional dan sponsor utama ragu untuk melanjutkan balapan. Penundaan ini dinilai tidak hanya berdampak pada olahraga, tetapi juga pada upaya Arab Saudi membangun citra sebagai destinasi aman untuk penyelenggaraan acara kelas dunia.
Di Qatar, Doha International Maritime Defence Exhibition (DIMDEX) tetap berlangsung, tetapi dengan atmosfer berbeda. Ajang yang awalnya dirancang sebagai pameran perdagangan persenjataan global bergeser menjadi forum koordinasi militer tingkat tinggi. Fokusnya berubah dari penjualan alutsista menjadi manajemen krisis keamanan maritim, terutama untuk melindungi jalur navigasi di Teluk Arab yang dinilai semakin berbahaya.
Dampak paling berat disebut terjadi pada proyek-proyek jangka panjang seperti NEOM dan lokasi persiapan Riyadh Expo. Pembangunan fisik di lapangan dilaporkan terhenti akibat kenaikan premi asuransi perang dan gangguan distribusi bahan bangunan khusus. Pada saat yang sama, investor global mulai mengambil sikap “tunggu dan lihat,” yang berisiko mengganggu jadwal ambisius Visi 2030 yang diusung Pangeran Mohammed bin Salman.
Dalam ringkasan status agenda besar pada Maret–April 2026, Idulfitri di kawasan regional disebut berlangsung dengan perayaan yang berkurang dan berdampak ekonomi tinggi pada ritel serta wisata. F1 Jeddah berada pada status kemungkinan ditunda dengan dampak ekonomi sedang, terutama terkait sponsor. DIMDEX Doha tetap berjalan tetapi bergeser menjadi lebih militeristik dengan dampak ekonomi yang dinilai rendah karena perubahan orientasi. Sementara itu, proyek NEOM dan situs Expo di Riyadh/Tabuk dilaporkan mengalami penghentian konstruksi dengan dampak ekstrem terhadap pengembalian investasi jangka panjang.
Situasi ini memperlihatkan bahwa perang tidak hanya menjadi konflik wilayah, melainkan hambatan bagi transformasi ekonomi yang sedang dikejar sejumlah negara di Timur Tengah. Jika ketegangan tidak mereda hingga akhir April, kawasan tersebut dinilai berisiko kehilangan momentum pertumbuhan pada dekade ini, sekaligus memaksa para pemimpin setempat mengevaluasi ulang strategi ketahanan nasional di tengah dinamika geopolitik yang keras.

