Film horor terbaru 28 Years Later: The Bone Temple dijadwalkan tayang pada 16 Januari 2026. Berbeda dari film-film sebelumnya dalam semesta yang sama—yang kerap mengandalkan keheningan mencekam dan hiruk-pikuk para terinfeksi—karya garapan Nia DaCosta ini menempatkan musik sebagai elemen penting untuk menandai sisa-sisa kemanusiaan di tengah dunia yang runtuh akibat Rage Virus.
Dalam latar cerita 28 Years Later, Inggris Raya digambarkan telah hancur dan berbagai bentuk hiburan modern serta ekspresi artistik nyaris lenyap. Gagasan tentang hilangnya budaya populer sebenarnya sempat muncul dalam film pertama, 28 Days Later, melalui adegan seorang prajurit yang mengenang lelucon favoritnya dari The Simpsons—sebuah pengingat tentang dunia lama yang telah hilang. Namun, The Bone Temple membawa tema tersebut ke permukaan dengan porsi yang lebih besar.
Tokoh Dr. Ian Kelson yang diperankan Ralph Fiennes menjadi pusat pendekatan ini. Kelson digambarkan sebagai sosok yang mencintai musik, mengoleksi piringan hitam di bunkernya, dan mendengarkannya saat bekerja maupun bersantai. Ia bahkan bernyanyi sendiri ketika mengumpulkan mayat dan memisahkan tulang, menegaskan bahwa musik hadir bukan sekadar latar, melainkan bagian dari keseharian dan cara bertahan hidup.
Di dalam cerita, kecintaan Kelson pada musik juga ditampilkan sebagai jembatan untuk membangun ikatan dengan orang lain. Setelah menenangkan Samson—seorang yang terinfeksi—dengan obat-obatan, Kelson menghabiskan waktu bersamanya dan menyanyikan lagu-lagu kecil. Pendekatan ini diposisikan sebagai upaya Kelson untuk menjangkau sisi manusiawi Samson yang tersisa, yang kemudian mengarah pada proses penyembuhan.
Nuansa serupa muncul lewat Jimmima, salah satu pengikut St. Jimmy Crystal. Di tengah situasi penyanderaan, ia sempat menampilkan tarian yang terinspirasi dari Teletubbies. Momen yang tampak ganjil itu tetap diberi bobot naratif sebagai penanda bahwa musik dan gerak—sebagai bentuk ekspresi—belum sepenuhnya punah meski dunia berada dalam kondisi kiamat.
Bagian akhir film disebut memuncak pada sebuah pertunjukan musik. Ketika Sir Jimmy mengancam akan memberi nasib buruk jika Kelson tidak patuh, Kelson setuju membantu meyakinkan para “Fingers” (pengikut Sir Jimmy) bahwa dirinya adalah Setan. Ia berdandan dengan pakaian kulit dan mengubah peralatannya untuk sebuah pertunjukan, sebelum kemudian melantunkan sebuah lagu.

