BERITA TERKINI
Film Sadali Siap Tayang Februari 2026, Syuting Simultan Dua Film Tantang Aktor Lompat Era

Film Sadali Siap Tayang Februari 2026, Syuting Simultan Dua Film Tantang Aktor Lompat Era

MVP Pictures menyiapkan film Sadali sebagai sekuel dari semesta cerita Pidi Baiq. Film ini dijadwalkan rilis pada 5 Februari 2026 dan melanjutkan kisah cinta segitiga, sekaligus membawa penonton menyusuri dunia seni rupa Yogyakarta pada masa pergantian milenium.

Di balik penyutradaraan Kuntz Agus dan nuansa visual puitis yang ditawarkan, proses produksi film ini disebut menantang. Dalam konferensi pers pada Senin, 19 Januari 2026, para pemeran utama—Adinia Wirasti, Hanggini, dan Faiz Vishal—menceritakan proses kreatif, termasuk strategi syuting simultan dan pendalaman karakter yang berkaitan erat dengan dunia lukis.

Salah satu keputusan produksi yang menonjol adalah pengambilan gambar Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu (film pertama) dan Sadali (film kedua) secara bersamaan dalam kurun satu bulan. Pola kerja ini membuat para aktor harus cepat berpindah suasana batin dan latar waktu, karena adegan dapat melompat dari tahun 1998 ke awal 2000-an dalam jadwal yang berdekatan.

Adinia Wirasti, pemeran Mera, menilai menjaga kesinambungan karakter di dua era menjadi pekerjaan kompleks, termasuk memastikan perbedaan tampilan visual antarperiode. “Tantangan yang terberat adalah mungkin secara visual kami harus memastikan bahwa kami semua terlihat berbeda. And that takes a village, mulai dari make up, kostum, art, dan segala macamnya,” ujar Adinia.

Hanggini yang memerankan Arnaza juga merasakan tantangan serupa. Ia harus menyesuaikan perubahan karakter Arnaza dari sosok yang lebih polos di era 90-an menjadi lebih dewasa di sekuel, bahkan ketika perpindahan itu terjadi dalam hari syuting yang sama. “Kita syutingnya di bulan yang sama, di satu hari pun kita bisa syuting kayak film kedua, terus kita balik lagi ke film kesatu. Tantangannya di situ, sama mungkin kesulitannya lebih ke gimana caranya Arnaza di tahun 90-an nanti bisa balik lagi ke Arnaza 2000-an,” kata Hanggini.

Dari sisi cerita, naskah yang ditulis Titien Wattimena disebut para pemain sebagai naskah yang “ambisius”. Berlatar di lingkungan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, film ini berupaya menghadirkan atmosfer seni rupa secara otentik, bukan sekadar elemen dekoratif.

Adinia mengaku terkejut ketika pertama kali membaca naskah karena banyaknya rujukan nama pelukis besar era 90-an yang dimasukkan ke dalam cerita. Selain itu, produksi juga melibatkan seniman khusus untuk menjaga konsistensi karya seni yang muncul dalam film, sekaligus mempertahankan nuansa dunia seni lukis Yogyakarta sesuai periode yang digambarkan.

Dengan pendekatan tersebut, Sadali tidak hanya menekankan drama relasi para tokohnya, tetapi juga menempatkan seni rupa sebagai bagian penting dari pembentukan karakter dan emosi, termasuk upaya menggambarkan realita patah hati melalui perspektif artistik.