Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat (Lobar) resmi membuka Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten tahun 2026 di Gedung Seni Budaya Narmada. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 18–21 Mei 2026, diikuti 232 pelajar jenjang SD dan SMP dari sejumlah sekolah di Lobar.
Pembukaan FLS3N disaksikan langsung Bupati Lombok Barat H Lalu Ahmad Zaini, sejumlah Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi NTB, anggota DPRD Lobar dari daerah pemilihan Narmada–Lingsar, serta para kepala desa.
Penyelenggaraan FLS3N tahun ini disebut berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena dirangkaikan dengan Parade Budaya dan Bazar UMKM. Rangkaian tersebut diharapkan memberi dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
Cabang lomba dibagi dalam dua kategori jenjang pendidikan. Untuk SD, mata lomba meliputi Kriya, Menulis Cerita, Tari, Mendongeng, Pantomim, Nyanyi Solo, dan Gambar Bercerita. Sementara untuk SMP, cabang yang dipertandingkan antara lain Kreativitas Musik Tradisional, Tari Kreasi, Ensamble Campuran Tiga Alat Musik, Menulis Cerita, Pantomim, Nyanyi Solo, Mendongeng, dan Ilustrasi.
Bupati Lobar H Lalu Ahmad Zaini mengapresiasi inovasi pelaksanaan FLS3N tahun ini. Menurutnya, kompetisi semacam ini dapat menjadi parameter dalam melahirkan generasi muda yang unggul di bidang akademis, kreatif, inovatif, dan berkarakter, sekaligus menjawab tuntutan era yang membutuhkan generasi berintegritas dan berakhlak mulia.
Ia juga mengingatkan peserta dan juri untuk menjunjung sportivitas serta kejujuran selama kompetisi berlangsung. Menurutnya, lomba tidak semata mengejar kemenangan, tetapi juga menanamkan nilai integritas sejak dini agar peserta terbentuk menjadi pribadi yang tangguh menghadapi masa depan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lobar H Najamudin melalui Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dikbud Lobar M Hirman Zulkarnaen menjelaskan, FLS3N menjadi bagian dari pemetaan talenta (talent mapping) yang sistematis di setiap satuan pendidikan. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun basis data yang akurat mengenai potensi seni dan sastra siswa di daerah.
Hirman mengatakan, data pemetaan talenta itu akan menjadi dasar untuk menyusun perencanaan strategis jangka panjang yang lebih terarah, termasuk untuk pemajuan kebudayaan daerah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) siswa. Ia juga mengaitkan kegiatan ini dengan arah kebijakan pendidikan nasional melalui konsep “Pendidikan Berdampak”, yang menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai formal, tetapi juga memberi pengaruh nyata terhadap pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian siswa.
FLS3N Lobar 2026 diikuti 232 peserta didik yang telah terdaftar dalam Database Nasional FLS3N pusat, terdiri dari 112 siswa SD dan 120 siswa SMP. Untuk menjaga objektivitas dan kualitas penilaian, panitia melibatkan sedikitnya 21 juri profesional dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang akademisi.
Hirman menegaskan, seleksi di tingkat kabupaten ini merupakan tahap awal penyaringan. Peserta terbaik yang meraih juara akan dibina untuk melanjutkan kompetisi ke tingkat provinsi, sebelum berpeluang mengikuti seleksi tingkat nasional.
Terkait materi lomba, Hirman menyebut mayoritas mata lomba mengacu pada petunjuk teknis nasional yang mengusung konsep karya seni kontemporer. Adapun pelestarian bahasa dan seni lokal Sasak, menurutnya, tetap mendapat perhatian melalui agenda festival kebudayaan daerah yang berbeda, seperti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang secara spesifik melombakan tradisi lokal seperti tembang Sasak (nembang) dan sastra daerah lainnya.