BERITA TERKINI
FLS3N SD di Semarang Disorot, Praktisi Seni Tekankan Pentingnya Juri Pahami Juklak-Juknis

FLS3N SD di Semarang Disorot, Praktisi Seni Tekankan Pentingnya Juri Pahami Juklak-Juknis

SEMARANG — Pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat sekolah dasar (SD) di Kota Semarang berlangsung meriah pada tahun ini. Namun, di tengah antusiasme peserta, muncul sejumlah catatan evaluasi, terutama pada kategori tari.

Ajang yang digelar berjenjang dari tingkat kecamatan hingga nasional itu mendapat sorotan karena pada tahap awal perlombaan tidak melibatkan juri dari kalangan praktisi seni. Kondisi tersebut memunculkan keluhan dari sebagian peserta dan orang tua yang menilai juri kurang kompeten.

Praktisi seni Hafid Bahtiar menilai keberadaan juri yang memahami teknis perlombaan menjadi hal penting dalam kompetisi berjenjang seperti FLS3N. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) diperlukan agar proses penilaian selaras dari tingkat kecamatan hingga nasional.

“Karena lomba ini berjenjang sampai tingkat nasional, maka diperlukan ketepatan dalam membaca dan memahami juklak-juknis. Kalau jurinya hanya sekadar berpengalaman tanpa memahami aturan lomba secara detail, itu belum cukup,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Hafid menambahkan, juri dari kalangan akademisi pun belum tentu tepat apabila tidak memahami mekanisme serta indikator penilaian yang digunakan dalam FLS3N.

Selain soal juri, ia juga menyoroti pentingnya sosialisasi juklak dan juknis kepada guru maupun pelatih sebelum lomba digelar. Menurutnya, peserta umumnya mengikuti arahan pelatih atau guru, sehingga pemahaman pendamping menjadi faktor yang menentukan.

“Bukan hanya lombanya yang disosialisasikan, tapi juga bagaimana membaca juklak-juknisnya. Itu penting supaya semua pihak punya pemahaman yang sama,” katanya.

Ia juga menilai alasan efisiensi anggaran semestinya tidak menjadi penyebab absennya juri yang kompeten dalam tahap awal perlombaan.