Di sebuah studio sederhana di Banyuwangi, Jawa Timur, Susiyo melukis dengan ritme pelan dan teliti. Dari ruang kerja itulah, ia merangkai ingatan, imajinasi, serta perjalanan hidupnya menjadi karya yang kini diminati kolektor mancanegara dan dipamerkan di sejumlah negara.
Susiyo, pelukis kelahiran Semarang, memilih Banyuwangi sebagai tempat menetap sejak 2023. Ia menikah dengan perempuan asal Glagah dan tinggal di wilayah yang dikenal dengan julukan Sunrise of Java. Dari ujung timur Pulau Jawa itu, langkahnya justru menembus galeri internasional, mulai dari Asia hingga Amerika Serikat.
Perhatian terhadap karya Susiyo menguat setelah ia menemukan gaya Pop Surealis, aliran yang memadukan visual pop dengan dunia imajinatif. Dalam banyak karyanya, ia menghadirkan imajinasi tentang hewan dan tumbuhan yang berperilaku seperti manusia. “Banyak yang bilang gaya lukisan saya Pop Surealis. Tapi visual yang saya hasilkan adalah gambaran cara anak kecil melihat dunia, jujur, bebas dan apa adanya,” kata Susiyo.
Ciri khasnya adalah kehadiran karakter MOJO, yang terinspirasi dari buah maja dan digambarkan sebagai figur bocah polos dengan rasa ingin tahu besar. MOJO hampir selalu hadir di seluruh lukisan Susiyo dan menjadi identitas visualnya.
Bagi Susiyo, MOJO bukan sekadar tokoh fiktif, melainkan metafora. Ia kerap menggambarkan MOJO dengan tubuh berlubang yang terhubung dengan tumbuhan, hewan, dan bentuk-bentuk hibrida lainnya. Lubang-lubang itu ia maknai sebagai simbol masa kecil—ruang kosong yang menyerap kepolosan, informasi, serta pengalaman hidup.
Inspirasi Susiyo juga berkaitan dengan latar belakangnya sebagai animator. Ia merupakan lulusan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Yogyakarta dan mengaku tumbuh bersama ketertarikan pada animasi. “Saya juga terinspirasi dari film Alice in Wonderland,” ujar pria berusia 30 tahun itu.
Perjalanan Susiyo di seni rupa dimulai sejak 2017, tahun ia lulus kuliah. Pada awalnya, melukis bukan pilihan utama. Ia sempat mencari arah dengan mengikuti berbagai event seni di Yogyakarta, sambil mempertanyakan apakah melukis akan menjadi jalan hidup atau sekadar persinggahan.
Menurut pengakuannya, jawaban itu datang saat ia berada di titik terendah secara ekonomi. Namun pada saat yang sama, ia merasa “kaya” secara batin. Dari fase itulah karakter MOJO lahir dan kemudian menjadi penanda kuat dalam karyanya hingga sekarang.
Kini, Susiyo produktif menghasilkan tiga hingga empat karya setiap bulan. Setiap lukisan dikerjakan selama tujuh hingga sepuluh hari. Ia juga membangun jejaring dengan sejumlah galeri, yang membuat karyanya dilirik kolektor internasional.
Susiyo menyebut momentum mulai berpihak pada 2023, saat Pop Surealis naik daun di pasar Asia dan Amerika. Sejak itu, undangan pameran datang berturut-turut, dengan 2025 menjadi periode yang padat. Ia diundang tampil di ArtVordable Singapura dan Hong Kong, mengikuti pameran di Bangkok, serta dijadwalkan menggelar pameran tunggal di California, Amerika Serikat, pada November 2025 bersama Anno Domini Gallery di San Jose.
Selain itu, pada Mei, Juni, dan Juli, Susiyo juga kembali menggelar pameran tunggal di Hong Kong. “Saya tentu bersyukur. Tapi perjalanan ini masih panjang. Saya hanya ingin tetap jujur pada karya dan proses. Berharap bisa menularkan semangat sehingga jadi energi baru untuk terus berkarya,” ujarnya.

