Perubahan bunyi dalam perpuisian Indonesia kian terasa dalam dua tahun terakhir. Pergeseran ini tampak pada pilihan kata dan cara penyair menyusun larik, yang semakin dekat dengan bahasa yang digunakan sehari-hari.
Sejumlah penulis puisi menggunakan kata-kata percakapan, menyisipkan frasa campuran bahasa Inggris, hingga memanfaatkan singkatan yang lazim ditemukan dalam pesan pendek. Ragam ungkapan yang sebelumnya lebih sering muncul dalam komunikasi informal kini hadir sebagai bagian dari strategi puitik.
Dalam konteks ini, tugas penyair dipahami sebagai merespons zaman melalui bahasa yang hidup di sekitarnya. Bahasa yang berkembang di ruang urban, percakapan harian, dan medium digital menjadi sumber bunyi sekaligus kosakata yang membentuk karakter puisi kontemporer.
Dalam satu dekade terakhir, puisi Indonesia juga ditandai oleh maraknya penggunaan bahasa lisan dan ragam informal, terutama pada karya yang mengusung tema urban. Sejumlah penyair muda kian berani mencampurkan bahasa percakapan, slang, serta istilah media sosial ke dalam larik-larik puisi mereka.

