BERITA TERKINI
Generasi Z Dorong Kebangkitan Alat Musik Tradisional Vietnam Lewat Komunitas dan Ruang Sehari-hari

Generasi Z Dorong Kebangkitan Alat Musik Tradisional Vietnam Lewat Komunitas dan Ruang Sehari-hari

Ketertarikan generasi muda terhadap alat musik tradisional Vietnam kembali menguat seiring munculnya komunitas-komunitas yang membuka akses belajar dan ruang tampil yang lebih dekat dengan keseharian. Salah satu inisiatif itu lahir dari pengalaman Ha Thu, kelahiran 2003, yang sejak SMA membangun keterikatan dengan alat musik zither meski tidak berasal dari keluarga berlatar tradisi seni.

Gagasan untuk membuat ruang bagi anak muda pecinta musik tradisional mulai diwujudkan saat Thu duduk di kelas 11. Bersama sejumlah siswi dari Sekolah Menengah Atas Hanoi - Amsterdam untuk Siswa Berbakat, ia mendirikan Klub Musik Tradisional bernama Cam Ca. Tujuannya sederhana: menghadirkan tempat bertemu, berlatih, tampil, sekaligus menularkan kecintaan pada alat musik tradisional kepada masyarakat.

Thu menilai ruang bagi pemain instrumen tradisional sempat terasa terbatas. Saat ia belajar zither beberapa tahun lalu, ia merasa “tidak pada tempatnya” karena berbeda dengan teman-temannya yang memainkan piano, gitar, atau biola—yang dinilainya memiliki lebih banyak panggung dan klub untuk bergabung. “Saya menyadari bahwa banyak orang tahu cara memainkan seruling bambu, zither, atau lute, tetapi malu untuk memamerkan kemampuan mereka di depan banyak orang dan tidak tahu harus bergabung di mana. Itulah mengapa saya ingin menciptakan tempat di mana mereka bisa tampil di sorotan,” ujarnya.

Dari kelompok kecil, Cam Ca tumbuh menjadi komunitas sekitar 30 anggota yang terdiri atas siswa sekolah menengah, mahasiswa, hingga profesional. Mereka menjaga jadwal latihan mingguan untuk menyiapkan pertunjukan, kegiatan amal, serta proyek budaya berbasis komunitas.

Cam Ca kerap tampil di sekolah, ruang publik, dan kafe. Menurut Thu, respons audiens menunjukkan bahwa anggapan anak muda menjauh dari budaya tradisional tidak selalu tepat. Ia menyebut sejumlah instrumen—seperti zither, bầu lute, dan seruling bambu—justru masih terasa baru bagi sebagian anak muda. “Banyak dari mereka melihatnya secara langsung untuk pertama kalinya setelah menonton pertunjukan, jadi mereka sangat penasaran dan bersemangat,” kata Thu.

Setelah menekuni zither selama 16 tahun dan hampir tujuh tahun membangun Cam Ca, Thu melihat daya tarik alat musik tradisional terletak pada suara, bentuk, serta cara instrumen menghasilkan bunyi yang dapat memicu rasa ingin tahu. Ia juga menilai pendekatan penyajian musik tradisional perlu disesuaikan karena kerap ditempatkan dalam ruang yang terlalu khidmat, sehingga menciptakan jarak dengan anak muda. Karena itu, Cam Ca memilih membawa musik tradisional kembali ke kehidupan sehari-hari.

“Kecintaan terhadap budaya tidak harus selalu dimulai dengan hal-hal besar. Bisa jadi sesederhana mendengarkan suara kecapi, mencoba seruling bambu, atau memetik beberapa nada pertama Anda. Ketika budaya hadir dalam kehidupan sehari-hari, ia akan selalu memiliki vitalitasnya sendiri,” ujar Thu.

Sejalan dengan gagasan itu, Cam Ca tidak hanya mengandalkan panggung besar atau program akademik. Mereka membawa alat musik tradisional ke ruang kuliah, kafe, ruang komunitas, dan juga ranah digital.

Salah satu strategi yang dinilai membuat Cam Ca menarik perhatian adalah cara mereka “menyegarkan” musik rakyat. Selain membawakan melodi tradisional, mereka bereksperimen mengaransemen ulang lagu pop modern atau soundtrack film yang sudah akrab di telinga audiens, menggunakan instrumen seperti bầu zither, tranh zither, dan seruling bambu. Perpaduan pengaruh musik rakyat dengan ritme kontemporer menghadirkan nuansa yang terasa familiar sekaligus baru.

Meski demikian, Cam Ca menegaskan tidak berupaya mengubah instrumennya menjadi sesuatu yang lain. “Yang ingin kami lakukan bukanlah mengubah alat musik tradisional menjadi sesuatu yang lain, tetapi mendekatkannya dengan kehidupan kaum muda,” kata Thu.

Kelompok ini juga memanfaatkan media sosial melalui video pendek, materi visual, dan siaran langsung pertunjukan. Bagi Thu, teknologi dapat menjadi jembatan agar musik tradisional lebih mudah diakses publik.

Di luar panggung, Cam Ca menjalankan proyek komunitas bertajuk “Belajar Musik untuk Kalangan Populer” yang kini memasuki musim ke-6. Program ini dirancang bagi orang-orang yang belum pernah mempelajari teori musik, tetapi ingin belajar alat musik tradisional. Materi yang sebelumnya bersifat turun-temurun atau terkesan kompleks disusun menjadi lebih sederhana agar mudah dipahami pemula.

Thu menyebut tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir yang menganggap alat musik tradisional sulit dipelajari, sulit ditekuni, serta minim peluang pengembangan. Karena itu, Cam Ca rutin menggelar sesi praktik langsung agar peserta dapat memegang instrumen, mencoba memetik beberapa nada, atau memainkan melodi pendek dengan seruling. “Awalnya banyak siswa yang datang karena penasaran. Tetapi setelah mencobanya sendiri, mereka menyadari bahwa alat musik tradisional tidak sesulit atau serumit yang mereka kira,” ujarnya.

Menurut Thu, sebagian peserta melanjutkan ketertarikannya setelah kelas usai, termasuk dengan membeli instrumen untuk berlatih. Ia menyebut momen ketika ada orang yang memutuskan belajar lebih serius sebagai kepuasan tersendiri. “Hanya dengan memiliki satu orang lagi yang ingin belajar atau berkomitmen pada instrumen musik tradisional dalam jangka panjang membuat saya merasa bahwa apa yang dilakukan Cam Ca itu bermakna,” katanya.

Thu juga menilai generasi muda perlu menjadi pencipta bersama dalam merawat nilai tradisi. Di tengah globalisasi, ia memandang kekhasan budaya justru semakin bernilai, dan kemampuan teknologi, produksi konten, serta perspektif global dapat membantu mengubah nilai tradisional menjadi produk budaya yang menarik. Melalui kelas komunitas, pertunjukan kecil, dan proyek media sosial, Cam Ca berupaya menjembatani jarak antara kaum muda dan alat musik tradisional Vietnam.