BAND psychedelic rock asal Yogyakarta, Marsmolys, menggelar pameran seni rupa bertajuk Post Naissance di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pameran berlangsung pada Senin (1/6/2026) hingga Sabtu (13/6/2026), dan dirancang sebagai ruang pertemuan antara musik, seni visual, serta pengalaman personal para personel band dalam proses kreatif album The Progeny of Holy Moly.
Backing vocal dan gitar Marsmolys, Yoga Bhakti, menjelaskan gagasan pameran berangkat dari respons publik terhadap artwork album mereka yang dinilai lebih ramai dibanding musiknya. Artwork tersebut awalnya dibuat dalam bentuk lukisan manual, lalu didigitalisasi untuk kebutuhan rilisan album.
“Setelah album rilis akhir tahun kemarin, ternyata banyak teman-teman yang lebih merespons artwork-nya. Dari situ muncul obrolan, kenapa nggak bikin pameran sekalian,” kata Yoga, Senin (1/6/2026).
Yoga menyebut proses penggarapan pameran dimulai sejak awal 2026. Sejumlah seniman kemudian dilibatkan untuk merespons album Marsmolys melalui karya visual masing-masing. Sekitar 16 hingga 18 seniman bergabung dalam pameran ini, dengan kebebasan menafsirkan musik Marsmolys ke dalam beragam medium.
Di salah satu ruang pamer, Marsmolys turut menghadirkan instalasi yang memuat perjalanan band, mulai dari alat musik yang biasa digunakan saat manggung hingga artwork album berukuran besar. Sementara itu, karya para seniman lain menampilkan interpretasi yang beragam berdasarkan pengalaman mendengarkan lagu-lagu Marsmolys.
“Misalnya ada seniman yang mendengarkan lagu kami lalu punya interpretasi sendiri dan dituangkan dalam karya. Jadi memang responsnya sangat beragam,” ujar Yoga.
Ia menambahkan, artwork album Marsmolys terinspirasi dari energi, suasana, dan pengalaman yang mereka alami selama proses produksi. Vokalis Marsmolys yang berlatar belakang seni rupa merancang konsep visual bergaya kolase, dengan ornamen simbolik seperti mata dan bentuk-bentuk surealis.
“Artwork itu lahir dari mood dan energi di lirik maupun musik. Jadi ada bentuk mata, ornamen-ornamen, dan simbol lain yang muncul dari pengalaman kami,” kata Yoga.
Meski demikian, upaya memadukan musik dan seni rupa tidak selalu diterima mulus. Yoga mengatakan pameran pertama yang diinisiasi band itu sempat memunculkan respons skeptis dari sebagian pihak.
“Ada yang bilang, ‘band kok bikin pameran? Band harusnya manggung.’ Tapi justru pameran ini jadi jawaban kalau musik dan seni visual ternyata bisa dipadukan,” ucapnya.
Vokalis dan gitar Marsmolys, Antino Restu Aji, menjelaskan album The Progeny of Holy Moly tidak disusun dengan konsep cerita tertentu sejak awal. Lagu-lagu dalam album tersebut, menurutnya, justru lahir dari pengalaman keseharian yang mereka alami selama proses produksi.
“Kami nggak merencanakan album ini mau bercerita apa. Yang kami rekam justru pengalaman kami selama menuju album itu selesai. Lagi penat, nggak punya uang, perjalanan ke studio, semuanya jadi bagian dari lagu,” kata Antino.
Antino menambahkan, proses kreatif Marsmolys biasanya dimulai dari musik, sementara lirik menyusul sesuai emosi yang muncul dari komposisi. Ia juga menyebut mereka terinspirasi dari visual album Dangerous milik Michael Jackson yang dibuat seniman Mark Ryden, serta berupaya merekam pengalaman nyata dan kejadian spontan selama proses rekaman ke dalam artwork album.
“Ada kejadian kami nabrak mobil waktu menuju studio, itu juga kami masukkan ke dalam artwork. Jadi album ini dibuat senatural mungkin,” ujar Antino.
Penulis pameran Post Naissance, Tomi Firdaus, menilai pameran ini menarik karena menunjukkan kesadaran musisi untuk masuk ke ranah seni rupa secara lebih serius. Menurutnya, langkah Marsmolys menghadirkan pameran utuh merupakan hal yang jarang dilakukan band musik, mengingat visual biasanya hadir sebatas sampul album, poster, atau ilustrasi pendukung.
“Mereka sadar bahwa musik tidak terlepas dari seni visual. Biasanya visual hadir di cover album, poster, atau ilustrasi. Tapi di sini mereka membawa itu menjadi sebuah pameran utuh,” kata Tomi.
Tomi menjelaskan gagasan Post Naissance secara sederhana berbicara tentang “apa yang dilakukan manusia setelah terlahir kembali”. Tema tersebut kemudian ditafsirkan bebas oleh para seniman melalui berbagai medium, mulai karya dua dimensi, tiga dimensi, hingga instalasi.
Dalam pembukaan pameran, dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, menilai langkah Marsmolys sebagai bentuk keberanian menembus batas antara musik dan seni visual. Ia menekankan bahwa seni hari ini tidak lagi terkotak-kotak dalam medium tertentu, melainkan dapat saling melebur menjadi satu ekspresi.