JAKARTA — Penyanyi senior Grace Simon meminta warisan musik Indonesia dirawat dengan lebih serius. Ia menilai karya musisi lintas generasi perlu didokumentasikan agar tidak hilang dari ingatan publik.
Gagasan tersebut disampaikan Grace saat bertemu Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (20/5). Pertemuan itu membahas pelestarian musik Indonesia, pengarsipan karya musik nasional, serta kebutuhan ruang apresiasi bagi musisi senior.
Dalam pertemuan tersebut, Grace menekankan pentingnya menjaga memori musik Indonesia melalui dokumentasi kaset, piringan hitam, dan arsip karya musisi dari berbagai generasi. Ia juga memperlihatkan sejumlah koleksi dan dokumentasi musik yang telah dihimpun selama bertahun-tahun.
Selain pengarsipan, Grace berharap tersedia lebih banyak ruang pertunjukan reguler. Menurutnya, ruang semacam itu diperlukan agar musisi senior dan generasi baru memiliki tempat untuk bertemu, tampil, dan mendapat apresiasi dari publik.
Fadli Zon menyatakan musik tidak cukup hanya disimpan sebagai arsip. Ia menilai musik perlu tetap hidup melalui panggung, penonton, dan ekosistem yang sehat.
“Jadi memang ada ruang yang hidup untuk musik, ada penontonnya, ada tiketnya, dan menjadi bagian dari ekosistem budaya,” kata Fadli.
Ia juga menilai musik merupakan bagian penting dari identitas budaya Indonesia dan dapat menjadi medium diplomasi budaya di tingkat global. “Musik adalah bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan kita. Apa yang dilakukan para musisi senior merupakan kontribusi besar bagi identitas budaya Indonesia dan harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Fadli menambahkan, pelestarian musik membutuhkan kerja bersama pemerintah, komunitas, musisi, dan industri. Kolaborasi tersebut diperlukan agar arsip musik Indonesia tetap terjaga dan dapat diakses oleh generasi mendatang.
Pertemuan itu turut dihadiri Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan Fryda Lucyana dan Direktur Film, Musik, dan Seni Irini Dewi Wanti.