BERITA TERKINI
Harga CPO Menguat ke 4.592 Ringgit, Ditopang Sentimen Energi meski Ringgit Menguat

Harga CPO Menguat ke 4.592 Ringgit, Ditopang Sentimen Energi meski Ringgit Menguat

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menguat pada perdagangan Selasa, melanjutkan pemulihan setelah tertekan dalam beberapa sesi sebelumnya. Kontrak CPO Juli 2026 naik 1,55% atau 70 ringgit menjadi 4.592 ringgit per ton, dengan pergerakan harian di kisaran 4.496–4.597 ringgit.

Penguatan juga terjadi pada kontrak lain. Kontrak Juni 2026 naik 1,47% menjadi 4.557 ringgit per ton, sedangkan kontrak Agustus 2026 menguat 1,72% ke 4.612 ringgit per ton. Pergerakan ini mengindikasikan minat beli kembali muncul setelah harga sempat terkoreksi tajam dari area puncak April.

Dari sisi teknikal, kemampuan harga bertahan di atas 4.500 ringgit membuka peluang pemulihan jangka pendek. Namun, tren penguatan belum sepenuhnya terkonfirmasi karena rentang 4.600–4.650 ringgit masih menjadi area uji yang perlu ditembus untuk menguat lebih lanjut.

Meski mulai pulih, ruang kenaikan CPO dinilai belum sepenuhnya leluasa. Analis Dorab Mistry sebelumnya memperkirakan harga CPO berpotensi menuju 5.200 ringgit per ton pada pertengahan Juli 2026, didorong sentimen biodiesel dan krisis energi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa harga yang terlalu tinggi dapat menekan permintaan, terutama dari pasar besar seperti India, karena importir berpeluang beralih ke minyak nabati alternatif yang lebih kompetitif.

Dari pasar valuta, ringgit Malaysia menguat tipis terhadap dolar AS. Pasangan USD/MYR turun 0,05% ke 3,97500. Penguatan ringgit umumnya membatasi daya tarik CPO bagi pembeli luar negeri karena membuat harga relatif lebih mahal dalam mata uang lain, meski dampaknya kali ini dinilai terbatas karena pergerakan kurs yang kecil.

Di sisi lain, harga minyak mentah yang masih tinggi tetap menjadi penopang sentimen CPO melalui prospek biodiesel. Pada Selasa sore pukul 15.28 WIB, kontrak WTI di Nymex untuk pengiriman Juni 2026 turun 0,47% atau US$0,51 menjadi US$108,15 per barel. Sementara itu, Brent di ICE untuk pengiriman Juli 2026 melemah 1,57% atau US$1,76 ke US$110,34 per barel.

Meski terkoreksi, posisi Brent yang masih bertahan di atas US$110 per barel menjaga sentimen energi tetap kuat. Namun, pelemahan minyak pada hari itu turut membuat laju kenaikan CPO tidak sepenuhnya tanpa hambatan.

Dari sisi geopolitik, ketegangan AS–Iran disebut mulai membuka ruang diplomasi, meski risikonya belum mereda. Presiden AS Donald Trump pada Senin menunda rencana serangan terhadap Iran setelah Teheran mengirim proposal damai, tetapi Washington tetap menyiagakan opsi militer jika negosiasi gagal. Proposal Iran dilaporkan memuat tuntutan seperti pencabutan sanksi, pelepasan dana beku, pengakhiran blokade AS, serta penarikan pasukan AS dari wilayah dekat Iran.

Dengan latar tersebut, penguatan CPO pada hari ini lebih mencerminkan pemulihan teknikal yang terbantu oleh tingginya harga energi. Pasar selanjutnya akan mencermati kemampuan harga menembus area resistance terdekat serta ketahanan permintaan dari pembeli utama di tengah level harga yang sudah relatif tinggi.