BERITA TERKINI
Hari Kebahagiaan Internasional: Indonesia Disebut Paling Bahagia dalam Studi Global

Hari Kebahagiaan Internasional: Indonesia Disebut Paling Bahagia dalam Studi Global

Setiap 20 Maret, dunia memperingati Hari Kebahagiaan Internasional (International Day of Happiness). Peringatan ini berawal dari resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) nomor 66/281 yang ditetapkan pada 12 Juli 2012.

Gagasan besar di balik peringatan tersebut diprakarsai Bhutan, negara yang sejak awal 1970-an mempopulerkan konsep Kebahagiaan Nasional Bruto sebagai penyeimbang fokus terhadap Produk Nasional Bruto. Melalui resolusi itu, PBB mengakui kebahagiaan dan kesejahteraan sebagai aspirasi universal yang semestinya turut menjadi perhatian kebijakan publik, bukan hanya pertumbuhan ekonomi.

Dalam peringatan tahun ini, posisi Indonesia dalam peta kebahagiaan global ikut menjadi sorotan. Berdasarkan Global Flourishing Study (GFS) yang dipublikasikan di jurnal Nature Mental Health, Indonesia disebut sebagai negara paling bahagia di dunia dengan skor rata-rata 8,47 dari 10.

Skor tersebut menempatkan Indonesia di peringkat pertama, melampaui sejumlah negara maju. Amerika Serikat berada di posisi ke-12, sementara Jepang menempati urutan terbawah dengan skor 5,93.

Temuan ini memunculkan pertanyaan: bagaimana negara dengan tingkat pendapatan yang masih sederhana dapat melampaui negara-negara kaya dalam ukuran kebahagiaan? Salah satu penjelasan yang digunakan untuk membaca fenomena itu adalah konsep Wealth-Adjusted Life Satisfaction (WALS), yang menilai seberapa efektif sebuah negara mengubah sumber daya ekonomi menjadi kebahagiaan subjektif.

Dalam studi yang dirilis di laman Berkeley.edu pada 2025, peneliti mengembangkan ukuran WALS untuk melihat hubungan antara kekayaan dan kepuasan hidup. Menggunakan data 116 negara dari Gallup World Poll 2020, studi yang diterbitkan dalam European Journal of Social Psychology itu menyimpulkan bahwa kekayaan tidak otomatis berbanding lurus dengan kebahagiaan.

Sejumlah negara seperti Nikaragua, Nepal, dan Kyrgyzstan tercatat memiliki skor WALS yang tinggi. Artinya, negara-negara tersebut dinilai efisien menghasilkan tingkat kepuasan hidup yang kuat meski memiliki sumber daya material terbatas.

Studi tersebut juga mengelompokkan negara-negara ke dalam tiga kategori. Kelompok yang disebut paling impresif adalah negara dengan PDB per kapita rendah, namun kepuasan hidup warganya melampaui ekspektasi. Karakteristik yang menonjol pada kelompok ini antara lain nilai-nilai kolektivis, religiusitas yang kuat, serta keterlibatan prososial yang tinggi.

Dalam konteks peringatan Hari Kebahagiaan Internasional, temuan-temuan ini mempertegas bahwa ukuran kesejahteraan tidak selalu identik dengan besarnya pendapatan. Selain faktor ekonomi, cara masyarakat memaknai relasi sosial, nilai, dan keterlibatan dalam komunitas dapat ikut membentuk pengalaman hidup yang dinilai memuaskan.