Sebuah laporan menyoroti bahwa masyarakat yang hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi berisiko mengabaikan faktor-faktor penting lain yang turut membentuk kebahagiaan, seperti kualitas pekerjaan, kebebasan pribadi, dan koneksi sosial. Perspektif ini menjadi salah satu kunci untuk memahami mengapa sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, dapat mencatat tingkat kebahagiaan yang mampu menandingi—bahkan melampaui—sebagian negara yang lebih kaya.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa sejumlah wilayah, seperti Asia Timur dan Timur Tengah, cenderung memiliki skor WALS yang rendah. Skor yang rendah ini diartikan sebagai kurang efektifnya suatu wilayah dalam mentransformasi kekayaan menjadi kesejahteraan batin bagi warganya. Dengan kata lain, tingginya sumber daya ekonomi tidak otomatis berbanding lurus dengan meningkatnya kepuasan hidup.
Selain efisiensi pemanfaatan sumber daya untuk kesejahteraan, faktor sosial-psikologis juga dinilai berperan besar. Salah satunya adalah rasa bangga terhadap negara. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science (Februari 2011) terhadap 128 negara menemukan bahwa kepuasan terhadap negara berkorelasi kuat dengan kebahagiaan personal. Hubungan ini dilaporkan paling kuat pada masyarakat berpenghasilan rendah dan mereka yang tinggal di negara-negara non-Barat.
Mike Morrison dari University of Illinois at Urbana-Champaign menjelaskan, bagi individu yang menghadapi kesulitan finansial, rasa patriotisme kerap menjadi cara untuk menghibur diri ketika berada dalam masa sulit. Pandangan ini menggarisbawahi bahwa kebahagiaan tidak selalu bertumpu pada kondisi ekonomi semata, melainkan juga pada cara individu memaknai identitas dan keterhubungan sosialnya.
Perbedaan pola ini juga terlihat dalam cara masyarakat memandang sumber kebahagiaan. Di banyak masyarakat Barat yang lebih individualis, kebahagiaan sering dikaitkan dengan standar hidup pribadi atau kesehatan. Sementara itu, masyarakat di negara berkembang cenderung memperoleh dorongan kebahagiaan dari perasaan hangat terhadap kelompok kolektif mereka.
Peneliti kebahagiaan Ed Diener menambahkan bahwa karakteristik kemasyarakatan menjadi semakin penting ketika kehidupan individu sedang tidak berjalan baik. Kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa loyalitas kelompok dan religiusitas tetap kuat meskipun terdapat tantangan ekonomi. Dalam konteks Hari Kebahagiaan, temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan dapat tumbuh dari kombinasi faktor ekonomi, kebebasan dan kualitas hidup, serta ikatan sosial dan rasa kebersamaan.

