Peringatan Hari Musik Nasional di Surabaya digelar di makam Wage Rudolf (WR) Soepratman, Rangkah, pada Senin (9/3). Kegiatan dilakukan melalui upacara dan tabur bunga yang diikuti ratusan pelajar, masyarakat, serta seniman.
Momentum ini sekaligus menandai dimulainya kembali pengumandangan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara penuh dengan tiga stanza. Selama ini, pengumandangan lagu tersebut lebih sering dilakukan hanya satu stanza.
Makam pencipta Indonesia Raya dipilih sebagai ruang simbolik untuk mengingat peran musik dalam perjalanan sejarah bangsa. Tahun ini, peringatan mengusung tema “Gelora Indonesia Raya”.
Rangkaian kegiatan telah diawali dengan doa bersama di pusara pahlawan nasional tersebut pada Minggu (8/3) malam. Pembina Yayasan JatiSwara sekaligus penggagas kegiatan, Heri Lentho, menyampaikan harapannya agar tema yang diangkat dapat menghidupkan kembali semangat nasionalisme di kalangan musisi.
“Terkait tema itu, kami berharap semangat perjuangan W.R. Supratman dapat mengilhami para musisi tanah air. Bahwa perjuangan tidak selalu melalui fisik. Tetapi juga lewat karya,” ujar Heri Lentho.
Perwakilan keluarga besar WR Soepratman, Soerachman, menyebut Hari Musik Nasional memiliki makna khusus karena bertepatan dengan hari lahir sang maestro. Ia juga mengatakan jumlah peziarah yang datang untuk memperingati terus bertambah sejak 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional.
“Dulu gak begitu ramai yang ziarah, sejak 9 Maret dijadikan hari musik oleh bapak presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), mau tidak mau kegiatan ini bertambah. Ya menjadi hari kelahiran WR Soepratman dan Hari Musik Nasional,” tutur Soerachman.
Menurutnya, kehadiran pelajar dalam kegiatan ziarah penting untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme. Ia juga menyampaikan kekhawatirannya terkait kondisi pemuda saat ini yang dinilai kurang mendapatkan penanaman nilai nasionalisme.
“Memang saya katakan, pendidikan sekarang ini agak merosot. Dulu ada namanya PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ada pendidikan penghayatan pancasila P4, mulai SD sampai pejabat. Akibatnya mereka saling tenggang rasa. Sekarang jiwa nasionalismenya kurang, budi pekerti kurang, nilai-nilai kemanusiaannya juga kurang,” tegasnya.
Soerachman menambahkan, WR Soepratman pada masanya menjadikan musik sebagai semangat perjuangan melawan penjajah. Ia menilai musik juga dapat menjadi bagian dari kehidupan, baik secara nasional maupun dalam lingkup keluarga.
“Kita lihat Koes Bersaudara itu kan semua pencinta musik. Jadi musik ini menjadi semangat perjuangan dari kehidupan,” terangnya.
Keluarga, kata Soerachman, mengapresiasi inisiatif untuk tidak melupakan Indonesia Raya tiga stanza. Ia menyebut lagu tersebut diciptakan sebagai doa bagi kemerdekaan rakyat Indonesia pada masa itu.
“Sebagai keluarga, tentunya kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah berinisiatif, terutama generasi penerus, untuk tidak melupakan lagu Indonesia Raya yang 3 stanza, yang memang diciptakan oleh WR. Soepratman. Karena lagu Indonesia Raya adalah doa terkait rakyat Indonesia untuk merdeka pada waktu itu,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan ini menjadi momentum pelestarian pengumandangan tiga stanza di seluruh Indonesia, seiring menuju 100 tahun pertama kali Indonesia Raya dikumandangkan.
“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa melestarikan 3 Stanza, bisa bergema di seluruh Indonesia, ikut serentak menuju 100 tahun bisa dikumandangkan lagu Indonesia Raya pertama kali. Saat waktunya saat ini dimulai,” pungkasnya.

